
Jika memang merasa sesuatu yang telah kita miliki tidak boleh ada yang mengambilnya kecuali Sang Maha Pencipta, maka dari itu berusahalah terus untuk mempertahankannya.
Jangan cepat mengalah dengan orang lain yang akan mangambil milik kita itu. Terutama suami, jangan biarkan suami direbut oleh wanita lain atau pelakor, karena yang lebih berhak memiliki suami kita lebih dulu yaitu istri sahnya. Jadi jangan takut untuk terus mempertahankan suami agar rumah tangga pun tidak akan hancur karena ulah pelakor.
Jangan pernah malu untuk tampil cantik dan sek si di depan suami, karena lebih baik seorang istri cantik dan sek si di depan suami akan mendapatkan pahala karena menyenangkan hati suami, dari pada seorang wanita atau istri harus cantik dan sek si di depan orang lain atau pria lain yang malah membuat dosa makin menumpuk.
Seperti Lea, Lea sebagai seorang istri akan terus berusaha mempertahankan suaminya jangan sampai direbut oleh wanita lain yang akan menghancurkan rumah tangganya. Namun, jika jodoh Lea dengan dokter Qais harus berakhir maka Lea berharap, putusnya takdir jodoh Lea itu hanya karena sebuah kematian.
Lea berjalan menuju ruang praktek suaminya, Lea selalu senang untuk membantu suaminya menangani ibu-ibu hamil. Dan dengan kehadiran Lea, dokter Qais tidak mengijinkan suster Kiara untuk membantunya karena biarkan saja hanya Lea yang perlu membantunya mengoleskan gel ke perut ibu hamil. Sedangkan suster Kiara di tugaskan untuk mengecek berat badan dan tensi ibu hamil saat sebelum masuk ke ruangan dokter.
Hal itu yang membuat suster Kiara makin kesal dengan Lea karena membuat suster Kiara tidak dapat berdekatan dengan dokter Qais.
Padahal selama ini jika suster Kiara berusaha untuk mendekat pada dokter Qais pun tak pernah digubris oleh dokter Qais, karena memang dokter Qais memiliki sifat yang cuek kepada perempuan yang bukan bagian keluarganya dan dokter Qais juga tidak menyukai sikap ganjen yang ditunjukan oleh suster Kiara.
Karena bagi dokter Qais, lelaki jika memang menyukai seorang wanita, tanpa harus wanita itu ganjen kepada laki-laki, maka laki-laki itu akan mendekatkan dirinya sendiri kepada wanita itu. Namun, jika laki-laki itu tidak tertarik dengan wanita itu maka laki-laki itu akan menjauhi wanita itu.
Bagi dokter Qais, kedudukan wanita itu terlalu mulia, jadi tidak perlulah para wanita merendahkan dirinya dengan cara berganjen ria kepada lelaki. Seharusnya para wanita terus berusaha menjaga harkat martabatnya dengan baik.
Setelah pasien dokter Qais yang datang sudah tidak ada namun masih ada waktu sebelum jam buka klinik selesai maka Lea menyempatkan diri untuk bermain dengan si balita gembul yaitu Zakir anak dari mba Citra.
"Hai ganteng, sudah bangun nih? ayo sini aku mau gendong kamu, dan pengen aku gigit pipi tembemnya". ucap Lea sambil mengangkat Zakir dan mencium wajah Zakir tiada henti sehingga membuat Zakir tertawa karena geli.
"hahaha, na na na" ucap bayi itu
"aduh gemes ngomong apa sih kamu" ucap Lea sambil mencubit pelan pipi Zakir
"mungkin dia bilang no no no kali, maksudnya dia tidak mau kamu cium-cium bertubi-tubi kaya gitu". timpal mba Citra sambil tersenyum
"abis gimana nggak mau nyiumin kamu nak, orang kamu wangi, ganteng dan gemesin sih, kan sayang kalo aku anggurin bayi lucu kaya gini". ucap Lea sambil mencium kembali pipi Zakir.
__ADS_1
"kamu udah pantes Lea punya momongan sendiri, semoga cepat diberikan momongan ya". do'a mba Citra dan di amini oleh Lea
"iya mba, nitip do'a ya mba biar aku cepat hamil dan bisa segera punya anak yang gemisin kaya Zakir". ucap Lea
Saat mereka sedangan mengobrol tiba-tiba datang suster Kiara yang tidak lupa untuk menyindir Lea.
"man dul kali kamu makanya nggak bisa hamil, coba dokter Qais nikah sama aku pasti saat ini aku udah hamil". nyinyir suster Kiara
"heh Kiara kamu kalo ngomong tuh jangan sembarangan dong". kesal mba Citra
"lah aku nggak ngomong sembarangan, kalo memang dia nggak kayak gitu pasti sekarang udah hamil kan? tapi apa buktinya sekarang belum hamil juga, pasti dokter Qais nyesel deh nikah sama cewek yang nggak bisa ngasih keturunan". sindir suster Kiara.
"Lea itu bukan man dul tapi memang belum di kasih kepercayaan saja buat hamil, sekarang waktunya Lea dan dokter Qais puas-puasin buat pacaran dulu, lagian nggak ada jaminan tuh kalo dokter Qais nikah sama kamu, terus bakal cepet punya momongan. Karena punya momongan itu bukan kehendak kita tapi kehendak Alloh. Jadi stop buat ngomong yang nggak penting dan sana jauh-jauh dari kita, ngeganggu orang lagi ngobrol aja kamu". usir mba Citra kepada suster Kiara.
Dengan terus menggerutu suster Kiara akhirnya pergi menjauh dari mba Citra dan Lea.
"Lea yang sabar ya jangan dengerin ucapan Kiara, dia tuh cuma syirik sama kamu karena dia suka sama dokter Qais tapi dokter Qaisnya biasa saja dengan Kiara". ucap mba Citra.
"bagus kalo gitu, jangan sampe jadi beban ya omongan kiara, aduh bikin kesel aja tuh orang, ganggu saja kita sedang berbincang-bincang. Padahal dia bisa dapetin cowok lain loh, tapi masih aja ngarepin dokter Qais aja, kaya cowok di dunia cuma dokter Qais aja". sungut mba Citra
"sabar mba, udah ah aku aja biasa aja, jangan dengerin orang kaya gitu, bisa jadi dia bukan cinta dengan A' Qais tapi dia tuh hanya obsesi saja, doain aja semoga cepet sadar dan nggak ganggu aku dan A' Qais lagi". ucap Lea sambil menenangkan mba Citra.
Dan akhirnya mereka berdua kembali mengobrol tanpa mengingat kembali ucapan suster Kiara.
Waktu sudah menunjukan pukul 16:00 ,waktunya untuk tutup klinik. Setelah tutup klinik, Lea melihat seorang anak kecil yang sedang memulung sambil sesekali memegang perutnya. Lea akhirnya menghampiri anak itu.
"kenapa dek, perutnya sakit ya?" tanya Lea
"iya kak, sakit banget dari kemarin belum makan, soalnya nggak ada uang, uangnya buat berobat adik aku yang sakit". ucap anak itu.
__ADS_1
"memang orang tua kamu kemana dek?". tanya Lea
"orang tua aku udah berpisah kak, terus mereka udah punya keluarga baru, tadinya aku dan adik aku tinggal dengan nenek, tapi sebulan yang lalu nenek aku meninggal, jadi sekarang aku hanya berdua saja tapi alhamdulillahnya aku dan adik masih bisa tinggal dirumah peninggalan nenek, tapi untuk makan aku harus mencari sendiri, karena adik aku masih sangat kecil, nggak tega nyuruh dia bekerja". terang anak laki-laki itu
"astagfirullah kasian sekali kalian, ya sudah ayo kita makan ya, didepan sana ada yang jual makanan kita makan disana dan nanti bisa kamu bungkus juga buat bawa ke rumah dan buat adik kamu juga, boleh kan A' aku ajak anak ini makan". ucap Lea
"boleh sayang, ayo aku temenin". ucap dokter Qais
Setelah sampai ditempat makan, anak itu dengan mata berbinar sangat senang bisa makan dengan lauk dan sayuran karena biasanya anak itu hanya makan dengan nasi saja karena hanya untuk adiknya saja dia membelikan nasi dengan lauk atau sayuran.
Saat menunggu makanan datang dokter Qais menanyakan usia anak itu.
"usia kamu berapa dek, dan usia adik kamu berapa?" tanya dokter Qais.
"usia aku enam tahun, kalau adik aku usianya empat tahun kak". ucap anak itu.
"oh iya kakak lupa tanya nama kamu siapa dek? kalo adik kamu?" tanya Lea
"nama aku Firmansyah, biasa dipanggil Firman, adik aku namanya Fahira kak". ucap anak itu yang ternyata bernama Firman.
"ya sudah habis makan anterin kakak ke rumah kamu ya, biar bisa liat kondisi adik kamu, tapi adik kamu dirumah sama siapa dek?" tanya dokter Qais
" sendiri, terkadang ada tetangga yang sesekali menengok"ucap Firman.
"kalo boleh tau, apa orang tua kalian pernah menemui kalian?"tanya Lea penasaran dan membuat Firman sendu
"mereka berpisah saat adik aku usianya satu tahun dan mereka memiliki keluarga lain saat usia Fahira dua tahun, awalnya saat mereka berpisah, mereka masih menemui aku dan Fahira walaupun hanya sebulan sekali, namun saat mereka sudah punya keluarga baru, sampai saat ini mereka tidak ada yang menemui kami, tapi kalo kata nenek dulu, ayah kami pergi jadi TKI jadi nggak bisa nemuin kita,tapi kalo ibu kami, memang tidak boleh membawa anaknya oleh suami barunya dan ibu juga sepertinya memang lebih sayang dengan anak-anak tirinya itu". cerita Firman
Dokter Qais dan Lea sangat kasian dengan nasib anak itu. Sehingga dokter Qais memutuskan untuk membawa anak itu tinggal di klinik saja, agar lebih memudahkan dokter Qais memantau Firman dan Fahira. Dan akan menyekolahkan mereka berdua. Dokter Qais juga akan mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga untuk menemani mereka tinggal di klinik.
__ADS_1
Dan keputusan dokter Qais disetujui oleh Lea. Mereka juga memberikan pengertian mengapa tidak mengajak anak itu tinggal dirumah keluarga abi Fajri, karena dokter Qais dan Lea memang hanya menumpang sementara dirumah abinya itu, sedangkan klinik memang punya dokter Qais jadi tanpa persetujuan orang tua dokter Qais bisa membawa mereka tinggal di klinik dan akan menyekolahkan Firman dan Fahira jadi Firman tak perlu lagi mencari barang bekas.
Dokter Qais pun tak ingin mengadopsi secara resmi karena takut orang tuanya akan kembali kepada anaknya.