
Setiap kehidupan pasti mempunyai masalah, namun tidak bagi para anak kecil yang mereka belum terlalu mengerti akan sebuah masalah.
Yang anak-anak tau adalah bahagia, selalu tersenyum membagi kecerian kepada siapa saja.
Seperti anak-anak di tempat Lea dan teh Zahra mengajar. Anak-anak selalu ceria, dan jika bertengkar hanya akan menangis sebentar namun setelah baikan maka akan tersenyum kembali.
Melihat keceriaan anak-anak dapat memberikan aura positif kepada orang dewasa.
Namun terkadang ada pula anak yang tidak beruntung yang sudah merasakan kesedihan karena harus merasakan kehilangan, bahkan sebelum melihat sosok orang tuanya.
Seperti Shanum, anak didik Lea yang dari awal lahir ke dunia belum pernah melihat dan merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya karena ibunya harus berpulang ke Rahmatullah saat melahirkan Shanum.
Sehingga saat Shanum melihat sosok Lea yang sangat sayang dengan Shanum, Shanum dapat merasakan kasih sayang seorang ibu dari Lea.
Bahkan Shanum berharap kalau bu guru Lea dapat menjadi ibunya. Tapi, apa daya kalau bukan jodoh, Lea dan dokter Syahreza yang tak lain adalah ayah dari Shanum, mereka berdua bukan ditakdirkan sebagai jodoh.
Sehingga membuat Shanum merasa sedih dan kecewa. Membuat Shanum melamun saat sedang sendirian. Shanum merasa sedih karena tidak bisa seperti temannya yang bisa memanggil mama, ibu, bunda ,dan sebagainya.
Karena selama ini Shanum hanya dirawat oleh papanya dan tantenya saja. Shanum ingin sekali seperti temannya yang di antar jemput oleh mamanya, bahkan bisa bermain bersama sosok mama.
Sedangkan Shanum hanya bisa bermain bersama papa dan tantenya, dan jika papa dan tantenya sedang sibuk maka Shanum akan ditemani oleh asisten rumah tangga.
Shanum terus saja melamun, sampai tidak sadar kalau Lea menghampirinya.
"hai cantik, kenapa melamun nak?" ucap Lea
"eh ibun, maaf ibun aku nggak kalau ibun disini". ucap Shanum dengan suara khas anak-anak
"ibun perhatiin Shan diam aja dari tadi, ada apa nak, cerita yuk sama ibun!". ucap Lea sambil mendudukan Shanum dipangkuan Lea dan mengelus kepalanya.
__ADS_1
"hiks hiks, Shan kangen sama mama, Shan pengen kaya yang lain punya mama, tapi mama Shan udah di surga, Shan pengen ibun Lea jadi mama Shan, tapi kata papa ,ibun Lea nggak bisa jadi mama Shan karena ibun Lea nanti akan punya anak sama suami ibun Lea". ucap Shanum sambil sesegukan.
"Shan mau ngerasain bobo dipelukan mama, Shan bosen kalau papa dan tante sibuk, Shan cuma main sama mba, Shan mau mama , Shan sayang ibun Lea, Shan pengen ibun jadi mamanya Shan, hiks hiks hiks" ucap Shanum kembali
Lea hanya mendengarkan semua keluh kesah Shanum sambil memeluk dan mengelus kepada gadis mungil itu dengan penuh kasih sayang.
"Shanum sayang, kamu bisa anggap ibun sebagai mama Shanum dan menganggap suami ibun sebagai papa Shanum juga, Shanum boleh kalo mau menginap di rumah ibun nanti bisa bobo bareng ibun, tapi sebelum menginap harus ijin sama papanya Shanum ya. Ibun memang nggak bisa bobo di rumah Shanum bareng papa Shanum, tapi kam ibun bisa bobo bareng Shanum di rumah ibun. Dan Shanum jangan lupa selalu berdoa dan jadi anak yang baik biar nanti papanya Shanum bisa membawa mama yang baik buat Shanum yang bisa nemenin Shanum bobo di rumah Shanum". ucap Lea
"Papa semenjak seminggu ini selalu sibuk, dan sering melamun. Saat Shan bilang mau mama, papa cuma bisa diem aja". terang Shanum sambil berusaha menghentikan nangisnya.
"Shanum, ingat tidak dengan dokter cantik yang bareng Shanum saat datang ke acara pernikahan ibun?". tanya Lea dan Shanum menganggukan kepalanya
"kalau dokter cantik itu kan namanya dokter Aqila, nah Shanum suka nggak dengan dokter Aqila, menurut Shanum dokter Aqila baik tidak?". lagi-lagi Shanum hanya mengangguk
"Shanum mau nggak punya mama kaya dokter Aqila? kalau Shanum mau, Shanum bisa minta sama papa atau Shanum bisa ajak papa dan dokter Aqila main bareng sama Shanum, Shanum bisa dekat dan main bareng dokter Aqila terus nanti Shanum tanya sama dokter Aqila mau nggak jadi mama Shanum yang bisa bobo bareng Shanum dan papa". ucap Lea
"emang bisa ya ibun?". tanya Shanum dengan suara pelan.
"iya ibun, nanti aku tanyain".
"ya sudah jangan nangis lagi ya, ayo kita masuk kelas jam istirahat sudah habis, hari ini Shanum dijemput tante kan?
" iya ibun"
Lea lalu menggendong Shanum dan membawanya masuk kedalam kelas.
Sedangkan dilain tempat, tepatnya di rumah sakit tempat dokter Qais bekerja. Saat ini dokter Qais baru saja menangani pasien operasi sesar.
Dan tanpa sengaja berpapasan dengan dokter Syahreza yang sedang berjalan menuju ruangannya.
__ADS_1
Dokter Qais, menegur dokter Syahreza mereka berdua berusaha bersikap profesional, walaupun dokter Syahreza merasa patah hati karena wanita yang telah membuatnya jatuh cinta kembali malah menikah dengan dokter Qais.
Sedangkan dokter Qais merasa sedikit cemburu karena mengetahui bahwa dokter Syahreza menyukai Lea. Namun, dokter Qais berusaha untuk biasa saja karena Lea sendiri sudah menjadi istrinya dan dokter Qais juga tau kalau Lea tidak ada rasa dengan dokter Syahreza.
Karena Lea hanya menganggap dokter Syahreza sebatas wali murid dari anak didiknya.
"Hai bang, apa kabar?". basa basi dokter Qais
"baik Is, kamu udah mulai masuk kerja lagi?" tanya dokter Syahreza
"iya nih bang, maaf ya selama saya cuti jadi merepotkan bang Reza dan dokter Aqila". ucap dokter Qais
"iya nggak apa-apa kok, nanti kalau pas abang yang cuti juga pasti kamu yang repot, ya kita sama-sama saling mengerti dan menolong aja biar sama enak kan". ucap dokter Syahreza sambil menepuk pundak dokter Qais.
"iya bang, sekali lagi makasih ya". dan dokter Syahreza hanya mengangguk sambil tersenyum.
Waktu pun berlalu sekarang sudah menunjukan waktu makan siang dan saat ini dokter Qais setelah sholat dzuhur dokter Qais sedang menunggu Lea tiba di rumah sakit untuk makan siang bersama.
Setengah hari tak berjumpa dengan sang istri membuat dokter Qais sudah rindu dengan kekasih hatinya itu.
Dokter Qais setelah mendapat kabar dari Lea, bahwa Lea telah sampai di loby rumah sakit. Dokter Qais langsung menuju loby rumah sakit untuk menjemput istri tercintanta itu.
Saat Qais sudah sampai di loby,dan menemui Lea, Lea langsung mencium tangan dokter Qais sedangkan dokter Qais langsung mengelus kepala Lea dan menggenggam tangan Lea menuju kantin rumah sakit.
Semua tindakan dokter Qais yang diberikan kepada Lea menjadi pusat perhatian dari setiap orang yang melihatnya. Mereka dapat melihat betapa sayangnya dokter Qais dengan Lea.
Termasuk dokter Aqila yang melihat dari jauh kalau dokter Qais dan Lea sedang berjalan bergandengan tangan.
Sampai saat ini dokter Aqila terus berusaha ikhlas dan melupakan rasa cintanya kepada dokter Qais.
__ADS_1
Dan dokter Aqila berharap kelak dia mendapatkan jodoh yang baik dan perhatian kepadanya.