
Melanjutkan langkahnya kembali setelah berbincang sebentar dengan dokter Syahreza dan dokter Aqila, kini dokter Qais beserta baby B telah sampai di ruangan rawat Lea.
"masyaa alloh, cucu nini yang ganteng kamu udah boleh keluar ya dari inkubator, sini sayang nini mau gendong kamu". ucap umma Hana lalu mengambil alih baby B dari gendongan dokter Qais
"iya alhamdulillah aku udah sehat nini, jadi aku kesini pengen liat ibun semoga ibun cepet bangun kalau aku ada di dekat ibun". ucap dokter Qais menirukan suara anak kecil
"ya semoga dengan adanya baby B di dekat Lea bisa bikin Lea cepat sadar kembali ya". ucap umma Hana sambil mengelus lengan dokter Qais.
Umma Hana lalu membaringkan baby B di sebelah Lea dengan kepala baby B di taruh di atas lengan Lea.
Sedangkan dokter Qais lalu duduk di kursi yang berada di samping brangkar Lea sambil menggenggam tangan Lea.
"dek, ayo bangun sayang, ayo liat siapa yang ada di sebelah kamu saat ini. kamu memang nggak rindu sama aku dan anak-anak, alhamdulillah anak-anak kita sudah mulai sehat kondisinya, ini aja di sebelah kamu ada baby B, dia yang lebih dulu diperbolehkan menemui kamu, makanya ayo semangat ya dek, berjuang untuk segera sadar biar bisa kumpul lagi bareng aku dan anak-anak, kami rindu kamu". lirih dokter Qais di akhir kalimat, dokter Qais begitu sesak untuk mengatakan rindu kepada sang istri yang sampai saat ini kondisinya masih koma.
"yang sabar ya Is, terus berdo'a semoga Lea cepat sadar dan anak-anak kalian juga biar cepat sehat seperti anak lainnya agar bisa cepat berkumpul lagi ya". nasihat umma Hana sambil terus mengusap pundak dokter Qais
Baby B tiba-tiba mulai menggeliat dengan bibir yang seperti sedangan mengecap, Baby B sudah mulai mencari susunya karena sudah merasa haus dan lapar.
Lalu umma Hana segera menyediakan susu formula untuk baby B namun susu formulanya belum jadi baby B sudah keburu nangis kejar hingga mukanya memerah saking kencang nangis.
Dokter Qais akhirnya ingin mengangkat baby B untuk dokter Qais gendong. Namun alangkah terkejutnya dokter Qais saat menggendong baby B dan ingin menjauh dari brankar Lea ternyata tangan mungil baby B ada yang menahannya.
Sontak saja membuat dokter Qais heran dan terkejut, apalagi saat melihat yang menahan dan menggenggam tangan mungil baby B itu adalah Lea.
Dokter Qais lalu menghampiri Lea lebih dekat lagi, kondisi mata Lea mulai bergerak walaupun belum terbuka.
"alhamdulillah umma ,Lea sudah hampir sadar umma, liat tangannya Lea menggenggam tangan baby B umma". ucap syukur dokter Qais sambil menangis haru karena ada kemajuan pada kondisi istrinya
"alhamdulillah, ayo semangat nak kamu pasti akan bisa membuka mata kamu disini ada anak kamu yang sedang nangis ayo nak bangun ya anak kamu rindu sama kamu". ucap umma Hana sambil menangis juga
__ADS_1
Sedangkan baby B masih saja terus menangis sampai akhirnya susu formulanya yang telah jadi diberikan kepada baby B tapi tetap saja baby B menangis sampai akhirnya terdengar suara lirih yang memanggil dokter Qais.
"A' ".
"alhamdulillah sayang kamu udah sadar, apa yang kamu rasa sayang? kamu haus?". ucap dokter Qais dengan air mata bahagianya sambil mengecup kening Lea. Sedangkan umma Hana terus saja melafazkan kata syukur sambil menghubungi keluarganya dan keluarga Lea memberi tau kondisi Lea yang telah sadarkan diri.
Lea tak langsung menjawab pertanyaan dokter Qais, Lea langsung melirik kearah bayi yang tengah di gendong oleh dokter Qais
"ini anak kita sayang". ucap dokter Qais yang melihat arah lirikan mata Lea
"aku manggilnya baby B, dia anak kedua kita sayang, sedangkan baby A da baby C masih berada di inkubator sayang". jelas dokter Qais
Lea yang mendengar ucapan dokter Qais lalu menitikan air matanya. Lalu Lea memejamkan matanya dan Lea teringat dengan kejadian sebelum ia melahirkan dan Lea bersyukur karena anak-anaknya lahir dengan selamat.
"ha-us". ucap Lea
"ya aku ambilkan minum dulu ya, baby B sama ibun dulu ya". ucap dokter Qais lalu meletakkan baby B kedalam dekapan Lea lalu baby B pun berhenti menangis saat merasakan sentuhan tangan Lea yang terus mengelus pipi baby B dengan perlahan
"um-ma". lirih Lea saat menyadari bahwa disana ada ibu mertuanya juga yang sedang menangis haru.
"ya nak, ini umma, alhamdulillah kamu sudah sadar, kamu istirahat yang banyak ya biar benar-benar pulih". ucap umma Hana lalu mengecup kening menantunya itu.
"i-ya um-ma". ucap Lea.
Setelah beberapa menit Lea sadar dokter Qais teringat untuk memanggil dokter yang menangani sang istrinya untuk mengecek kondisi Lea karena bagaimana pun dokter Qais harus menghargai dokter yang memang ditugaskan menangani Lea.
Dokter pun menyatakan kondisi Lea sudah membaik, hanya saja Lea masih lemas dan disarankan untuk banyak istirahat.
Lea yang dalam kondisi masih lemas pun sempat menanyakan keadaan Firman dan Fahira. Dokter Qais berjanji akan membawa Firman dan Fahira ke rumah sakit untuk menemui Lea dengan syarat Lea harus istirahat kembali karena jika keluarga mereka sudah datang mengunjungi Lea maka Lea akan sulit untuk istirahat.
__ADS_1
Lea dan baby B tertidur dengan pulas, dokter Qais yang melihat pemandangan itu sangat bersyukur karena kini sang istri sudah sadarkan diri dan kini hanya tinggal fokus kepada kondisi anak-anaknya yang masih berada diruang inkubator.
Sore hari waktunya untuk berkunjung dan menengok keadaan pasien membuat kondisi rumah sakit lebih ramai orang dan seperti kondisi kamar rawat Lea juga yang kini ramai oleh keluarga abi Fajri dan keluarga ayah Amar yang tengah berbahagia melihat kondisi Lea yang telah sadarkan diri dari komanya.
"ayah, bunda". ucap Lea sambil memeluk kedua orang tuanya
"anak ayah, permata hati ayah, makasih sayang kamu sudah kembali kepada kami". ucap ayah Amar, betapa hancurnya hati seorang ayah yang melihat kondisi sang anak sempat dinyatakan koma, anak yang tak pernah menyusahkannya, anak yang selalu menjadi penyemangatnya disaat lelah menjadi abdi negara
"Lea sayang ayah,Lea kangen ayah". ucap Lea dalam pelukan sang ayah
"Lea nggak kangen bunda". ucap bunda yang pura-pura merajuk lalu melepaskan diri dari pelukan Lea dan ayah Amar
"duh bunda ngambek nih komandan". adu Lea kepada ayah Amar dan membuat ayah Amar dan Lea tertawa
"iya nih masa bidadari komandan Amar merajuk sih nanti cantiknya hilang loh". ayah Amar ikut meledek bunda Hawa membuat bunda Hawa mencebikkan bibirnya sedangkan yang lain yang melihat keharmonisan Lea dan orang tuanya hanya tersenyum
"duh bundanya kakak yang paling cantik kalau Lea nggak kangen sama bunda ya udah bunda sama kak Salwa aja ya".ucap kak Salwa yang menghampiri ayah, bunda dan adiknya lalu kak Salwa memeluk bunda Hawa lalu mengecup pipi bunda Hawa
"bundaku sayang, jangan merajuk lagi ya, sini peluk ade, ade kangen bunda, kangen banget malah, ade bahkan di alam sana sempat takut nggak bisa ketemu sama bunda, bunda itu kan malaikat tak bersayapnya ade". ucap Lea lalu bunda Hawa kembali memeluk Lea
"jangan bikin bunda khawatir lagi ya de, bunda sesak liat kondisi ade kaya kemarin". pinta bunda Hawa dan Lea hanya mampu menjawab insyaa alloh karena semua yang terjadi adalah kehendakNya.
Lea kembali melirik ke semua orang yang ada di dalam ruangan itu dan melihat Firman dan Fahira yang sedang berada di samping dokter Harun.
"abang Firman, kakak Fafa sini nak". panggil Lea kepada kedua anak itu tapi yang hanya antusias hanyalah Fahira sedangkan Firman menghampiri Lea dengan menundukkan wajahnya.
"ibun, Fafa kangen". ujar Fahira lalu memeluk Lea
"ibun juga rindu sama Fafa"balas Lea sambil mengecup kening Fahira lalu Lea melirik kearah Firman yang hanya menundukkan wajahnya
__ADS_1
"abang, nggak kangen sama ibun?". tanya Lea sambil menarik tangan Firman agar mendekat kearah Lea dan Lea langsung memeluknya.
"maaf". lirih Firman dalam pelukan Lea sambil menangis sesegukkan.