
Tak terasa waktu terus berlalu, kondisi kehamilan Lea sangat baik, ketiga anak kembar yang berada didalam kandungan semua dalam keadaan sehat, tumbuh kembang anaknya juga sangat sesuai dengan kehamilan Lea yang menginjak tujuh bulan.
Dokter Qais sebagai suami selalu memperhatikan istri dan kandungan istrinya, dari segala aktifitas yang tak boleh terlalu lelah dan konsumsi makanan dan minuman yang sangat di kontrol.
Saat ini Lea tengah bersiap untuk mengadakan tujuh bulanan kehamilannya, seluruh keluarga besar dari keluarga Lea maupun dokter Qais turut mereka undang, tak lupa para rekan kerja dan tetangga juga mereka undang.
"sayang, kamu sudah rapih belum? yuk keluar. ayah dan bunda sudah datang". ucap dokter Qais saat masuk ke dalam kamarnya dan melihat Lea sedang merapihkan penampilannya di depan cermin.
"udah A', ayo keluar". ucap Lea lalu berbalik menghadap suaminya.
Tampilan Lea yang menggunakan make up tipis membuat kecantikannya lebih meningkat, apalagi hamil seperti saat ini tubuh Lea tidak terlalu gemuk namun perutnya saja yang terus tambah buncit karena tumbuhnya anak di dalam rahim Lea. Membuat Lea tetap cantik dan sexy dan membuat dokter Qais makin cinta dengan Lea.
"masyaa alloh sayang, kamu cantik banget sih, nggak rela aku kecantikan kamu di lihat sama pria lain". puji dokter Qais sambil memeluk Lea
"gombal banget sih kamu A', udah jadi bapak-bapak masih aja gombal, malu sama anak". ucap Lea sambil menundukan wajahnya yang sudah merah seperti tomat karena kata-kata manis suaminya selalu saja membuat Lea tersipu malu.
"aku tuh nggak gombal tapi aku berkata jujur tau sayang". ucap dokter Qais yang masih memeluk Lea sambil mengelus pipi Lea
__ADS_1
"udah ah, nggak kelar-kelar kita kalo kaya gini terus, oh ya anak-anak mana A'?". tanya Lea untuk mengalihkan pembicaraan
"anak-anak ada lagi maen sama Salman, ayah, bunda, kak Salwa, abang Adnan dan si gembul Salman sudah datang, mereka menunggu kamu di bawah sayang". jelas dokter Qais
"wah ternyata si embul aku, dia udah dateng toh, yuk A' ceper kita turun aku udah rindu banget sama dia". antusias Lea saat mengetahui bahwa si gembul Salman beserta keluarga Lea sudah tiba di kediaman
"ya sayang kita ke sana ya tapi ingat ati-ati ya". ucap dokter Qais lalu menuntun Lea untuk ke ruangan yang dijadikan sebagai tempat acara pengajian tujuh bulanan.
Tak lama Lea duduk di bangku yang sudah disediakan, lalu acara pengajian itu pun dimulai, acaranya berjalan dengan penuh khidmat dan lancar tanpa gangguan.
Setelah pengajian selesai dan para tamu mulai berpamitan, sekarang Lea kembali beristirahat sambil bercanda bersama keluarganya dan keluarga dokter Qais.
"ibun, nanti dede yang diperut ibun juga bakal lucu kaya dede Salman kan?". tanya Fahira.
"iya dong sayang, nanti kalo adiknya lahir, kak Fafa sama abang bantuin ibun dan ayah ya buat jagain adik-adiknya". ucap Lea sambil mengelus rambut Fahira yang tengah di kuncir.
"iya ibun, Fafa pasti bantuin ibun, Fafa udah nggak sabar mau liat dede triple, pasti lucu banget kalo mereka udah lahir terus, bisa main bareng Fafa, bisa makan es cream bareng, ah pokoknya Fafa udah nggak sabar mau jagain dede triple". antusias Fahira yang sudah membayangkan apa saja yang dilakukannya bersama ketiga adik kembarnya.
__ADS_1
"wah anak ayah pintar ya, sudah mau jagain dede triple padahal dedenya masih didalam perut, sabar ya nunggu lima bulan lagi ya dedenya lahir, nah untuk sekarang kakak Fafa sama abang Firman mainnya bareng sama adik Salman ya, sama sebentar lagi adik bayi yang di perut bunda Zahra bakal keluar". jelas dokter Qais
"iya ayah, Fafa seneng banget ih bakal punya banyak adik". dengan mata berbinar Fahira sudah membayangkan betapa serunya main dengan adik-adiknya nanti.
"ibun, ayah mau minum nggak biar abang yang ambilin". tawar Firman kepada kedua orang tua angkatnya
"boleh sayang, kalo abang nggak keberatan". ucap Lea dan dengan tersenyum manis Firman segera beranjak mengambilkan minuman
"beruntung banget kamu de, punya anak kaya Firman dia sangat sayang sama kalian, perhatian juga, orang tuanya pasti nanti bakal nyesel udah ninggalin Firman dan Fafa, padahal mereka tumbuh menjadi anak yang baik". ucap kak Salwa prihatin mengingat Firman dan Fahira yang ditelantarkan oleh orang tuanya.
"iya aku juga ngerasa beruntung banget bisa punya anak seperti mereka, walaupun mereka nggak lahir dari rahim aku tapi aku bener-bener sayang sama mereka, bahkan aku udah merasa ada rasa egois yang pengen mereka jadi anak aku selamanya, kadang aku berharap orang tua mereka tidak mengambil mereka dari aku, tapi aku juga nggak tega kalo harus misahin anak-anak sama orang tua kandung mereka tapi kalo misalnya mereka balik sama orang tua mereka, aku takutnya mereka ditelantarin lagi". Lea mencurahkan isi hatinya, meski disana ada Fahira namun Fahira belum mengerti pembahasan Lea dan kak Salwa.
"udah sayang nggak usah khawatir ya, sekarang mah kita jalanin aja dulu, toh kedepannya kita nggak bakal tau kan, sekarang mah kita sebagai orang tua harus selalu sayang sama mereka dan jangan pernah kita bedakan dengan si kembar, nah untuk kedepannya kalo orang tua mereka ingin mereka ikut dengan orang tua mereka ya kita hanya bisa serahkan semua keputusan itu kepada anak-anak". dokter Qais memberi pengertian kepada Lea sambil mengelus pundak Lea
"iya abang juga setuju dengan Qais, kamu nggak usah mikir aneh-aneh toh anak-anak masih sama kamu, sekarang mah kamu jalanin aja sesuai takdir yang ada, abang cuma bisa berdo'a semoga keluarga kalian selalu bahagia". timpal abang Adnan dan di setujui oleh semuanya
Sedangkan disudut lain ada seorang anak laki-laki yang sedang memegang gelas berisi minuman untuk kedua orang tuanya. anak laki-laki itu tampak bersedih sekaligus bersyukur telah disayang dengan begitu tulus oleh keluarga dokter Qais.
__ADS_1
Ya, anak laki-laki itu adalah Firman, dia berjanji pada diri sendiri bahwa akan selalu bersama keluarga ini, karena bagi Firman ibunya tidak akan pernah kembali karena sudah bahagia dengan keluarga barunya, sedangkan ayahnya pun begitu walaupun saat ini ayahnya telah berada di luar negeri namun Firman yakin bahwa ayahnya lebih peduli dengan keluarga barunya dari pada anak kandungnya sendiri.
Bagi Firman ini adalah suatu anugerah terbesar buat Firman dan Fahira, karena setelah kehilangan kasih sayang neneknya yang telah meninggal dunia, namun Alloh menggantikan kasih sayang itu dengan berkali-kali lipat.