
Jason tampak tidak yakin sebelum merespon. "Apakah orang yang bernama Via itu pernah kembali?"
"Tidak setahuku."
"Itu hal yang tidak biasa bukan?"
"Tidak jika keluarganya pindah ke tempat lain dalam waktu tiga tahun itu, dan memang itu yang terjadi. Dia tak punya alasan untuk kembali kesini."
"Bisa saja dia berbohong tentang kejadian itu."
"Seperti yang kukatakan tadi, kondisi mentalnya tidak baik ketika Lori terbunuh."
"Jadi kondisi mentalnya yang menjadikannya bersalah? Atau apakah ibuku masuk penjara karena dia patah hati dan cemburu? Dia hamil pada usia delapan belas tahun, tanpa siapapun yang dapat didatanginya untuk meminta tolong. Kecuali ibu yang tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau melihat keadaan nenek itu, kaulah satu-satunya orang normal yang pernah dimiliki Mom seumur hidupnya. Tentu saja dia berusaha untuk tidak melepaskanmu. Mungkin dia merasa seperti akan tenggelam. Dan kaulah yang membuatnya hamil."
Kenyataan bahwa Kikan masih perawan sampai ia datang, masih membuat Rey merasa malu memutuskan hubungan dengan cara seperti yang dilakukannya waktu itu. Tetapi Kenyataannya ia tidak tahu, Kikan sedang hamil ketika mengatakan tak ingin bertemu gadis itu lagi. Ia bertindak berdasarkan desakan orang disekitarnya, mereka begitu yakin Kikan memberi dampak buruk untuknya. Hidup Rey akan hancur jika tetap berhubungan dengan gadis itu, yang tak layak menjadi pendampingnya.
__ADS_1
"Aku, tidak ada disana hari itu, aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi." Rey mengulang pernyataannya dulu, ketika ia dihadirkan sebagai saksi sidang kasus terbunuhnya Lori.
"Tapi Pa.. kau pasti mempercayai sesuatu dilubuk hatimu."
Rey berharap hatinya mengatakan Kikan bersalah. Agar segala sesuatunya lebih sederhana, tapi sejak pertemuan mereka tadi pagi, terkutuklah semua keraguan itu. Ia selalu bergelut dengan perasaan itu. Ditambah lagi, dengan pertanyaan sejauh mana ia memperbolehkan Kikan terlibat dalam kehidupan Jason. Ia sudah berusaha melakukan semua demi kepentingan putranya. Orang tua Rey setuju untuk menjaga agar Kikan berada sejauh mungkin dari Jason. Sejak awal merekalah yang menyarankan itu.
Tetapi apakah tindakannya benar?
"Aku tidak tahu apa yang harus kupercaya." aku- nya. "Aku berharap dia tidak menjalani hukuman belasan tahun dipenjara, karena kejahatan yang tidak dilakukannya.
" Apakah papa lebih suka percaya Mom seorang pembunuh? " tukas Jason, mendesak Rey untuk mengakui perasaannya.
"Sekarang habiskan makan malammu"
Rey mendesah. Ia sudah melakukan kesalahan besar dengan melibatkan diri dengan Kikan.
__ADS_1
Atau mungkin tidak. Ia terlalu menyayangi Jason sehingga tidak menyesali masa ia masih berpacaran. Dan sulit melupakannya karena alasan yang berbeda. Ia tak pernah punya pacar yang membuatnya merasa hubungan batin yang begitu kuat dalam waktu yang begitu cepat. Ia telah berkencan dengan banyak wanita yang lebih "cocok", terutama sejak saat itu, tapi tetap belum menemukan seseorang yang mampu menawan hatinya seperti Kikan dulu.
"Aku menyukai Mom" kata Jason tanpa ditanya, suaranya terdengar murung. Jelas dia tak berharap hatinya menjadi lembek.
"Aku bisa mengerti. Dia memang sangat manis waktu sarapan tadi."
"Biasanya dia tidak begitu ?"
"Sudah tujuh belas tahun berlalu sobat. Aku tidak bisa bilang bagaimana dia dulu." penjara mungkin telah mengubah Kikan, seandainya dia belum berubah seperti yang dikira semua orang.
Jason memutar - mutar gelang kulit pemberian Kikan. Selagi berusaha memikirkan bagaimana dia akan beraksi sekarang setelah ibunya kembali. " Dia membuat pagi ini mudah untukku. Apakah papa memperhatikannya?"
"Ya"
"Itu sangat keren. Setelah semua yang dialaminya, tidak kah menurutmu begitu? Dia tidak berusaha membuat kita mengasihaninya atau ingin kita melakukan sesuatu yang tak ingin kita lakukan...."
__ADS_1
"Aku setuju, menurutku itu.... Mengagumkan."
Rey tak ingin mengubah pendapat atau keputusan nya hanya berdasarkan satu kali pertemuan. Tapi ia tadi memang terkesan dengan Kikan... Benar - benar terkesan. Wanita itu jelas telah merawat tubuhnya, dia tampak.... tidak cantik, tapi menarik hati. Dia mengucapkan segala sesuatu dengan tepat, melakukan semuanya dengan benar. Dia bahkan membayar makanan mereka, meskipun sebenarnya uangnya sangat sedikit. Rey merasa telah merampas uang terakhir yang tersisa di dompet Kikan.