
Seminggu setelah acara makan malam di rumah teman Rey, Kikan mulai merasa sering sekali pusing, disertai mual. Kikan berusaha mengingat-ngingat menstruasinya yang terakhir, rasanya ini sudah lebih dari... Mungkinkah?
Tidak! Atau... bisa jadi.
Jantungnya mulai berdebar-debar. Ya, memang benar. Menstruasinya terlambat, dan bukan hanya beberapa hari.
Tapi... terlambat bukan hal aneh, bukan? Ada banyak hal yang bisa menyebabkan keterlambatan. Salah satunya stres, stres bisa mengacaukan tubuh.
Namun....biasanya stres tidak mengacaukan sistem tubuhnya. Tidak sampai menyebabkan menstruasinya terlambat. Menstruasinya selalu tepat waktu... Begitu tepat sampai ia tidak pernah terlalu memperhatikan siklusnya. Bagian hidupnya yang itu merupakan sesuatu yang Kikan hadapi dengan agak santai. Ia tak pernah kram perut, sakit kepala, atau apapun yang membuat siklus bulanannya terasa lebih dari sekedar gangguan minor.
Tapi dua minggu! Keterlambatannya sudah parah. Berarti ada penyebab lain selain stres.
"Oh Tuhan." keringat dingin tiba-tiba muncul, saat kemungkinan hamil terlintas di benak Kikan.
Ia membuka kalender di ponselnya. ia menemukan tanggal tujuh september merupakan tanggal untuk mengecek dan mengirimkan pesanan gelang, Kikan ingat ia sedang menstruasi hari itu, sehingga mustahil ia salah mengingat tanggal. Kikan menatap catatan di kalendernya.
Pikirannya langsung tertuju, pada suaminya. Akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuk Rey dengan berita ini nantinya. Tapi Kikan juga tidak bisa memastikannya sekarang.
Ia mulai berjalan mondar mandir... tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Kikan menyerah dan meraih ponselnya.
Meski ponsel telah berada ditanganya, Kikan bahkan tidak mampu menekan nomor suaminya. Ia hanya duduk tertegun, menarik napas pendek-pendek sambil menatap ke luar jendela. Setelah segala yang dialaminya Kikan jadi gemetar.
Kikan masih memegangi ponselnya saat benda itu berdering, membuatnya terlonjak karena ia sedang senewen. Nama Rey tertulis di layar.
Kikan memejamkan mata, bersandar, lalu menjawab telepon Rey. "Hallo?" Katanya, tapi suaranya terlalu lirih dan terengah-engah sehingga ia ragu Rey mendengarnya.
Rey diam sebentar sebelum merespon. "Hallo?" suara Rey terdengar cukup nyaring di telinga. "Kikan? Kau baik-baik saja? Kau kedengaran lesu sekali.
__ADS_1
" Ya, aku... Aku baik-baik saja," jawab Kikan, tangannya yang satu memegangi perut.
" Sebenarnya aku mau bilang aku akan pulang agak terlambat, pekerjaanku baru selesai. Tapi.... Suaramu aneh. Ada apa?"
Kikan mempertimbangkan untuk berbohong. Ia ingin menyangkal...kepada dirinya sendiri, bahwa ini terlalu cepat. Tapi apa gunanya bersembunyi dari fakta? Karakternya terlalu praktis untuk melakukannya. Kalau dirinya hamil, Rey lah orang pertama yang harus ia beritahu. "Ada masalah." Kata Kikan
"Ada masalah?" ulang Rey.
"Aku... rasanya mau muntah."
"Kenapa? Ada masalah apa? Kau membuatku takut!"
"Bisa bawakan aku, alat tes kehamilan?"
"Membawakan apa?" tanya Rey seolah salah dengar.
Kikan tidak bisa mengulangi permintaan. Ia mulai sesak napas sehingga perlu berkonsentrasi melambatkan napasnya. Benar begitu. Tenanglah. Tarik, embuskan. Semuanya bakal baik-baik saja.....
"Tidak, tidak salah. Bisa tolong belikan?" pinta Kikan.
"Tentu. Aku beli sekarang."
♪
Seperti biasa, Jason luar biasa sibuk setelah pertandingan, ada banyak sesi foto-foto, ia juga sudah menghabiskan setengah jam lebih untuk berdiskusi dengan tim dan pelatihnya dalam mengevaluasi hasil yang telah mereka peroleh.
Ketika teleponnya berdering, ia tahu itu adalah orang tuanya, menyuruhnya segera pulang, agar bisa makan malam bersama.
__ADS_1
Jason mengangkat panggilan Rey. "Hallo pah, aku akan pulang sebentar lagi. Pelatih sedang memberikan wejangan." ujarnya.
"Sebaiknya kau segera pulang sobat!" Kata Rey. "Ibumu sudah tidak sabar ingin bertemu."
"Baiklah, aku akan langsung pulang," ujar Jason tanpa menaruh rasa curiga.
Jason meminta izin untuk pulang lebih dulu pada pelatih. Dan segera menuju jeepnya begitu mendapat izin. Jason berpikir sang ibu pasti ingin menunjukkan resep baru yang berhasil dibuatnya.
Jason sangat menikmati momen-momen berkumpul dengan orang tuanya. Karena itu ia langsung mematuhi permintaan Rey ditelepon tadi.
Begitu sampai dirumah, Jason tidak menemukan kedua orang tuanya di meja makan. Biasanya mereka telah menunggunya disana. Jason menaiki tangga dan berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Ia disambut dengan tangisan ibunya, yang sedang berada di pelukan ayahnya.
"Mom....Pah...apa ada yang tidak beres?" Tanya Jason.
"Kemarilah sobat, ibumu ingin menyampaikan sesuatu... " jawab Rey.
Jason melangkah ragu-ragu. "Apa keluarga Lori membikin ulah lagi?"
Kikan tampak berusaha berhenti menangis, dan menyisakan isakan kecil.
"Tidak. Semuanya baik-baik saja," jawab Kikan. "Aku hanya terlalu bahagia."
"Kita bertiga akan makan malam di luar, merayakan bertambahnya satu anggota baru dalam keluarga." Kata Rey.
Jason tampak tidak memahami maksud orang tuanya. "Maksudnya?"
Kikan menunjukkan test peck yang sejak tadi digenggamannya. "Aku tahu kau pasti bisa menjadi kakak yang baik. Dan sebentar lagi akan ada satu anggota baru, untuk mewujudkan keinginan kita semua" ucap Kikan, kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Jason mulai mengerti arah pembicaraan orang tuanya. Dan langsung memeluk kedua orang tuanya. Ia bahkan juga ikut menangis bahagia mendengarnya. Rey menepuk bahu Jason menenangkan anaknya.
"Sejak dulu aku selalu iri anak-anak lain memiliki orang tua lengkap, Namun sekarang aku memperoleh lebih dari apa yang pernah kubayangkan." Kata Jason. "Terima kasih Mom... Pah.."