
Ketika kertas pembungkus kado itu lepas, Rey menemukan buku foto yang menampilkan gambar ia dan Jason di sampul depan, foto Jason saat berumur dua tahun dan Rey mendudukkannya di bahu. Ketika membalik halaman demi halaman, Rey melihat bahwa Kikan telah memasukkan hampir semua foto yang pernah dikirimkannya. Ada beberapa foto Jason sendiri, seperti ketika berumur tiga tahun dengan mangkuk di kepala berisi spaghetti menetes-netes ke wajah. Ada pula foto mereka bersama serta sekolompok foto beragam tim olah raga Jason atau foto pesta ulang tahun Jason. Salah satunya menampilkan Rey memakai pakaian badut, karena badut yang dipesannya batal datang pada menit terakhir.
Hanya kasih sayang sejati yang bisa memaksanya mengenakan kostum itu, renung Rey, mengingat-ingat.
"Wow! Itu benar-benar bagus," kata Eva.
Beberapa tamu lain menggumamkan pujian yang sama. Rey pernah melihat buku semacam ini sebelumnya tapi tidak mau repot-repot membuatnya. Ia bahkan tak tahu dari mana harus memulai. Jelas Kikan telah mengerahkan segenap pikiran dan tenaga untuk menyusun semua gambar itu.
Rey membujuk pasangan kencannya dengan halus agar kembali duduk ke kursi yang baru dikosongkan, sehingga ia bisa terus melihat-lihat buku itu. Ketika tidak sedang berusaha bermain mata dengan Simon, gadis pirang itu menunjukkan sikap yang terlalu ramah pada Rey, yang ditoleransinya demi 'memberi kesempatan'. Seperti kata Devan, mereka tidak boleh memberi angin pada Cindy dan Samantha. Kebanyakan wanita memang terkagum-kagum dengan kepopuleran Simon. Rey mengabaikan perilaku Cindy karena tidak peduli. Walau begitu, keakraban yang dipamerkan wanita Itu terasa mengganggu sekarang lantaran Kikan ada disini. Rey tak ingin Kikan melihat Cindy berdiri terlalu dekat dengannya. Itu akan membuat segalanya tampak berbeda dari situasi yang sesungguhnya.
Rey senang sekali mengamati Jason tumbuh besar lagi di depan matanya, karena foto itu telah Kikan urut dari Jason masih bayi ke remaja. Senang sekali dengan kutipan-kutipan tentang ayah dan anak yang ditambahkan Kikan disitu.
Dua halaman terakhir tidak diisi dengan foto-foto yang Rey kirimkan untuk Kikan, melainkan diisi dengan foto-foto yang diambil Kikan sendiri ketika Rey mengundangnya ke pesta barbekyu, yang berakhir dengan mereka bergelut di kolam renang. Inilah pertama kali Rey melihatnya. Foto-foto itu mengingatkannya betapa menyenangkannya malam itu, dan Rey merasakan senyumannya merekah. Tapi kemudian senyumannya meluruh begitu matanya bergerak ke foto terakhir. Ia mengira album ini akan berujung pada foto selfie mereka bertiga yang diambilnya belum lama ini. Foto itu memang ada, seperti yang diharapkannya, tetapi Kikan telah memotong gambar dirinya sendiri, seakan ia percaya Rey akan lebih suka jika Kikan tidak ada.
__ADS_1
Rey kecewa melihatnya. Kikan enggan mengakui bahwa perasaan Rey telah berubah, seakan-akan dia tak mau menganggap Rey serius. Seakan Rey akan berubah pikiran lagi. Namun buku ini istimewa dan merupakan bukti bahwa Kikan belum melupakan dirinya kendati dia ingin Rey menganggapnya begitu. Jadi Rey memamerkan senyum sendu. "Terima kasih. Ini.... Hadiah terbaik yang pernah kuterima."
Meskipun Kikan mengangguk, gerakan itu menampakkan keengganan, matanya terus mengarah ke pintu, Rey yakin Kikan menyesal telah datang ke sini dan tak sabar untuk segera keluar.
"Sungguh," ucapnya, berharap dapat meyakinkan Kikan. "Aku sangat menyukainya."
"Aku ikut senang," kata Kikan. "Jason anak yang baik, dan kau ayah yang baik untuknya."
"Lebih baik aku pamit sekarang," bisik Kikan pada Rey, menyiratkan dia akan menyelinap tanpa ada yang menyadari kepergiannya.
Tetapi Eva mendengar dan berkata, "Kau belum akan pulang sekarang, kan? Kau baru sampai!" Lalu setiap orang terdiam lagi, dan Kikan mendapati dirinya menjadi pusat perhatian, sesuatu yang Rey tahu sangat dibenci wanita itu.
Kikan berdehem. "Sayangnya aku harus pergi, aku memang tidak berencana menginap."
__ADS_1
Itu kebohongan. Rey berani bertaruh Kikan tidak akan datang selarut ini hanya untuk menyerahkan hadiah ulang tahunnya. Tapi ia mengerti mengapa wanita itu ingin pulang. Kikan ingin membuat mereka berdua terbebas dari suasana canggung di sini. Yang membuatnya terheran-heran Kikan berusaha mengajak bicara Cindy sebelum dia pergi.
" Maaf telah mengganggu acaramu malam ini," katanya. "Sungguh bukunya baru datang hari ini, jadi aku... aku ingin Rey menerimanya pada hari ulang tahunnya sebagai hadiah. Tapi dia dan aku tidak.... berhubungan. Maksudku... kami punya anak, tapi kami tidak bersama-sama selama tujuh belas tahun ini. Kami hanya berteman dan itupun baru belakangan ini." jelas Kikan.
Cindy jelas terkejut karena Kikan mau bersusah payah menjelaskan. Tapi di mata Kikan, Rry dan Cindy mungkin telah berkencan selama berbulan-bulan. Tak peduli bahwa di pesta barbekyu, Jason telah memberitahunya secara tidak langsung bahwa rey tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Tapi Jason memang tidak semestinya tahu apa yang dilakukan Rey ketika di luar rumah.
" Terima kasih telah memberitahu kami semua," balas Cindy, seolah ingin tertawa, dan itu membuat Rey menggertakkan gigi. Cindy tidak tahu mengenai sejarah mereka, tak mengerti bahwa Kikan sedang memastikan bahwa dia tidak akan menghalangi Rey lagi, tidak mau melakukan apapun yang akan mengganggu hubungan cinta yang sedang dijalani Rey.
Sekali lagi, Eva yang berusaha meredakan kecanggungan. "Aku senang kau datang. Aku harap kau mau tinggal lebih lama." Rey tak tahu apakah nada kecewa dalam suara Eva dibuat-buat atau tidak, tapi ia lega Eva terdengar tulus, dan bahwa dia berusaha mendukung Kikan.
Bukan berarti Eva bisa meyakinkan Kikan untuk tetap tinggal. Wanita itu tampak sudah siap untuk kabur, dan Rey ragu ada yang bisa mengubah itu.
Kikan mengangguk sopan. "Mungkin lain kali." beberapa teman Rey melemparkan pandangan ke arahnya seakan-akan bertanya, Apakah kau ingin kami mencegahnya?
__ADS_1