
Ibu Lis tidak senang mendengar ucapan Kikan. Kursi yang didudukinya sampai berdecit ketika dia mulai bergerak. "Oh, yang benar saja. Kau ingin memilikinya. Masih ingin. Tetapi dia merasa terlalu baik untukmu, jadi jangan tertipu."
Tentu saja, Ibunya juga merasa Rey terlalu baik untuknya. Dia sering membicarakan hal ini. "Terima kasih karena sudah mengingatkan keadaanku yang rendah ini," Kikan bergumam sambil kembali membuka kulkas
"Bisakah kau bekerja lebih cepat?" tanya Ibu Lis. "Atau tutup saja kulkasnya. Aku tak tahan dengan baunya."
"Ini akan lebih bau jika aku tidak menyelesaikannya. jika Ibu membuangnya mungkin tidak akan sebau ini"
"Aku tidak memintamu bersih-bersih." Bentak bu Lis.
Sungguh berterima kasih. Kikan menggeleng-geleng, tapi diam saja. tahu bahwa ibunya membuat diri sendiri tidak disukai karena dia percaya dirinya memang tidak disukai. membuat Kikan kesulitan menjalin hubungan yang baik dengan sang ibu.
"Tadi malam Jason memelukku." ucap Kikan sambil berharap bisa mengarahkan ibunya pada percakapan yang tidak memancing emosi.
Kikan belum memberitahu ibunya, ragu untuk mengatakannya, karena takut ibunya akan mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan dan merusak kenangan itu. Namun disaat yang sama Kikan ingin menunjukkan pada ibunya bahwa Jason jauh lebih menerima daripada yang selama ini ibunya pikirkan.
" Dia memelukmu?"
Kikan mendengar nada kaget dalam suara sang ibu namun ia tersenyum. "Di depan, di halaman. dia berpamitan dan memberikan pelukan pertama untukku." ucap Kikan.
Selama beberapa saat mereka terdiam. lalu ibunya bertanya, dengan suara yang lebih pelan, "Apa yang dilakukan Rey?"
" Tidak ada."
" Aku tidak akan percaya padanya," kata bu Lis dengan nada suara yang sudah kembali seperti biasa.
Ibunya sudah mengatakan itu sebelumnya dan mungkin dia benar. Tetapi, masalahnya, Ibu Lis Tak Lagi Percaya pada siapapun.
☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
.
Dia memperoleh tiga puluh pesanan gelang! dengan gembira Kikan memandang bukti pesanannya di komputer selagi duduk di dalam Black Coffee. Ia belum pernah mendapat pesanan sebanyak ini sekaligus, dan kebanyakan pesanan model yang paling mahal. Kikan heran kenapa ada begitu banyak permintaan. Ia mendapatkan satu pesanan, atau mungkin dua per hari selama beberapa minggu terakhir.
Tetapi tidak butuh waktu lama untuk memecahkan misteri itu. Ketika Kikan melihat fakturnya, Ia sadar gelang-gelang dagangannya dibeli oleh orang-orang dari daerah yang sama, oleh sekelompok teman entah teman SMA atau kuliah. Dapat diketahui karena kebanyakan alamat pengiriman memiliki kode pos yang sama.
Menarik sekali.....
Sambil tersenyum sendiri, Kikan mulai mengirim balasan email ke pembeli barunya. Agar mereka tahu kapan pesanan selesai dan siap dikirim. Untungnya ia sudah mendapatkan uangnya di muka, jadi Kikan memiliki uang tambahan di rekeningnya. Ia bisa memperoleh stok lebih banyak, Kikan juga dapat segera mempergunakan uangnya, yang memang sangat dibutuhkan, untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari, termasuk bahan-bahan untuk membuat spaghetti untuk Jason dan.....
Bel di luar berbunyi, dan Kikan melihat salah satu teman SMA Rey, Kelly datang dengan seorang pria, kemungkinan besar suaminya. Tetapi mereka seperti tidak sedang mencari seseorang. Mereka masuk untuk memesan kopi, jadi Kikan lebih santai dan kembali bekerja. Ia begitu asik mengkonfirmasi setiap pesanan sehingga tak lagi memperhatikan pintu untuk melihat orang-orang yang mungkin tidak suka bertemu dengannya.
Tempat itu semakin penuh dan Kikan tidak bisa melihat siapa pembeli yang menghalangi pintu masuk kafe.
Ketika mendongak lagi, ia sadar Kelly dan suami belum meninggalkan tempat duduk mereka, seperti yang diduganya. Mereka duduk dan beberapa orang bergabung bersama mereka. Hingga akhirnya Rey berjalan melewati pintu itu, barulah Kikan berharap lebih memperhatikan siapa orang-orang itu. Ia seharusnya sudah pergi ketika dua teman Rey Nanda dan Steve Harmon, datang.
Rey awalnya tidak melihat Kikan. Sampai kemudian ada orang di meja itu yang menunjuk ke arahnya. Rasanya Kikan mendengar ada yang berkata "Bukankah itu Kikan." Lalu Rey kembali menengok dan berdiri untuk mendatanginya.
"Hai."
kikan mempertimbangkan untuk menutup laptop dan pergi. tapi Ia masih harus mengirimkan email untuk berapa orang. Ia tak mau menunggu terlalu lama untuk menjawab pesanan. Ia tak ingin bersepeda kembali ke tempat itu hanya untuk bekerja selama lima belas menit lagi. Setelah Rey dan teman-temannya pulang.
Kikan harus membiasakan diri tinggal di kota ini. Itu artinya ia akan menanggung derita karena pandangan dan bisik-bisik banyak orang. Ia tak bisa melarikan diri jika setiap kali bertemu seseorang yang mengetahui masa lalunya.
"Hei" Kikan bersandar ke belakang dan mencoba tersenyum, berharap bisa terlihat sopan tetapi sedikit tak acuh, sehingga Rey tidak merasa harus melakukan apapun selain menyapa. Sebenarnya Kikan bahkan tak mengharapkan sebanyak itu, tapi ia merasa Rey sangat baik karena menyapanya di tempat umum, apalagi ketika bersama teman-temannya.
"Kau terlihat cantik dengan blus itu."
Kikan mengenakan atasan yang sama dengan yang dikenakannya di pertandingan Jason. Agak memalukan, tetapi ia tak punya banyak baju. Dan tidak ada yang tahu itu, kecuali Rey.
__ADS_1
"Terima kasih."
Rey menunjuk komputer Kikan. "Kau sedang bekerja?"
"Ya. ada beberapa pesanan datang tadi malam, yang artinya aku bisa memberimu sejumlah uang untuk Jason dalam beberapa hari kedepan."
" Jason dan aku baik-baik saja" Kata Rey. "Kenapa kau tidak mencari penghasilan tambahan dan membelanjakannya untuk diri sendiri? butuh waktu untuk mengembangkan usahamu dan buatku itu tidak masalah."
Rey tak pernah meminta uang darinya, tetapi itulah alasan Kikan tetap berkeras untuk membiayai Jason sebisa mungkin. Kikan ingin membuktikan bahwa ia bisa memenuhi kewajibannya. dan Kikan tak ingin membuat Rey sekali lagi menolaknya untuk berkontribusi masalah anaknya. "Mengasuh anak tidak bisa ditunda, dan itu bukanlah beban. Aku punya banyak pesanan lain, lebih banyak daripada yang kuperkirakan." ujar Kikan.
Rey seperti tak yakin harus berkata apa, tapi dia mengangguk. "Pasti melegakan."
"Ya, benar. Sekarang aku hanya perlu mengerjakan gelang-gelangnya."
"Kau tidak punya stok?" tanya Rey.
"Tidak banyak. hanya yang kupakai untuk foto dan percobaan."
Sebelum menambahkan, Devan memasuki Kafe, melihat mereka berdua dan melewati antrian pemesanan serta teman-temannya, untuk menghampiri dan menyapa. "Hai apa kabar"
Sikapnya yang ramah membuat Kikan tenang sehingga kekhawatirannya berkurang dan senyumnya semakin lebar. Kikan juga melihat Devan mengenakan gelang yang dibuatnya. "Baik, Senang bertemu denganmu" Kikan menjawab sapaan Devan.
"Kau juga kelihatan cantik" kata Devan.
Otot di wajah Rey menegang, seakan dia tidak senang dengan percakapan itu, Tetapi dia tidak menyela.
.
🐾Wah sudah senin guys.... Semangat untuk beraktifitas. Waktunya Vote mingguan ... 😍 ☃️☃️, otor sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan😚😍dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar. 🐾
__ADS_1