Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 75


__ADS_3

Rey berlutut didepannya. Kikan tahu bahwa wanita yang lebih percaya diri, wanita seperti Cindy mungkin akan mengepalkan tangan di sela-sela rambut pria itu dan menariknya untuk menyatukan bibir mereka. Ia juga ingin melakukan itu, ingin mencium ketika Rey menghujam masuk.


Tetapi pengalaman mengajarinya untuk tidak mengungkapkan apa yang ia rasakan, terutama jika menyangkut Rey.


Ia diam tidak bergerak ketika Rey mengangkatnya keluar dari air dan mencium tetesan air dari bagian dalam pahanya. Saat mulutnya bergerak naik, kenikmatan itu semakin kuat sampai Kikan mulai gemetar, tetapi ia tak bisa memberi dorongan pada Rey dengan melengkungkan tubuh atau mengerang, atau melakukan hal lain. Kenangan akan kesedihan, penolakan, dan penghinaan yang muncul setelah kenikmatan yang dirasakannya tujuh belas tahun lalu masih terlalu kuat, tidak peduli seberapa keras usahanya untuk menghalanginya.


"Apa kau tidak suka yang seperti ini?" bergumam, kelopak matanya berat saat mendongak menatap Kikan.


Selama itu Kikan menutup mata, tetapi ketika Rey berbicara, ia membukanya. Rey bertanya mengapa ia tidak merespons. Ia mungkin merasa menikmati ini sendiri. Tetapi Kikan bahkan tak mampu memaksa diri untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar menyukainya. Amat sangat. Mungkin karena ia terlalu menyukai ini. Ini bukan hubungan **** gila-gilaan yang pernah ia bayangkan. Seperti tabrak lari, namun... Ini berlangsung lambat dan menggairahkan. Ia melanggar semua aturan yang telah ditetapkannya untuk diri sendiri sebelum meninggalkan penjara, dan aturan-aturan itulah cara untuk memastikan agar ia tak terlibat masalah.


"Kikan? Apakah aku tidak menyentuh tempat yang tepat?"


Rey tahu apa yang sedang dilakukannya, tetapi setiap wanita berbeda. Karena tidak memberi respons, Kikan sadar Rey heran. Tetapi itu masalahnya, bukan masalah Rey. Meskipun jantungnya berpacu, Kikan merasa... Beku.


Rey akan pergi sekarang. Kau tidak akan mampu... Menjalani ini menjalani ini dengannya.


"Sudah aku bilang aku payah," ujarnya. "Kau... kau tidak perlu terus disini."


Rey menyipitkan mata. "Kau bicara apa? Aku ingin terus disini."

__ADS_1


"Aku sudah terlalu rusak." Kikan beranjak untuk keluar dari bak mandi, tetapi Rey menahannya di tempat.


"Aku tidak percaya itu," ujar Rey, lalu mulai memagut bibirnya lagi. Air mengalir di seputar payu****Kikan ketika kedua tangan Rey memegang boko***nya. Lidah Rey bergerak ditubuhnya. Kikan nyaris tak sanggup bernapas, namun tetap berusaha menahan diri. Entah bagaimana, memperturutkan hasrat tampaknya tidak terlalu berbahaya seperti membiarkan pria itu betapa ia sangat menikmati ini. Pasti itulah kesalahannya dulu. Ia terlalu menunjukkan kebutuhan, terlalu bersemangat, terlalu transparan, ia tak boleh membiarkan dirinya selemah itu lagi. Mereka hanya tubuh, dua tubuh yang bergerak karena insting...


"Jangan menahan diri lagi," Rey bergumam.


"Aku....aku tak bisa."


"Yang perlu kau lakukan hanya santai."


"Aku terus mendengar ibuku mengatakan aku bodoh."


"Kami telah mbuarkanmu sengsara. Tapi kau berusaha mempercayai ibumu lagi, " kata Rey.


"Kau akan mencapai *******. Itulah yang akan terjadi," kata Rey, sambil merentangkan kaki Kikan, mengangkatnya keluar dari air lagi.


Kikan akan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk menghalangi kenikmatannya sendiri. Rey belum pernah berhubungan dengan siapapun yang berusaha menjaga jarak. Wanita menolak sesuatu yang justru sangat diinginkannya, yang membuat Rey bingung pada awalnya. Meski begitu ia tak perlu berlama-lama memahami apa yang sedang terjadi. Kikan ikut bermain secara fisik, namun tidak secara mental. Tampaknya dia percaya entah bagaimana sikap itu akan dapat melindunginya, menjaga agar tidak lemah.


Besok kita akan.... melanjutkan semuanya seakan ini tidak pernah terjadi. Kikan bertekad untuk tidak membiarkan ini mengubah apapun.

__ADS_1


Tetapi Rey punya tekad yang sama kuatnya untuk membuat wanita itu merasakan intensitas hubungan mereka, dan melihat bagaimana reaksinya.


Rey belum pernah berusaha sekeras ini untuk memberikan kenikmatan pada seorang wanita, atau merasa begitu lega ketika berhasil mendengar Kikan menjerit.


Rey mendongak menatap Kikan, dengan penuh kemenangan, dan membuatnya sadar bahwa melawan ini hanya akan sia-sia dan bahwa malam ini akan mengubah semuanya.


Itulah saat ia membantu Kikan keluar dari bak mandi dan membimbingnya ke tempat tidur. Mereka bahkan tidak lama-lama mengerikan badan. Rey telah meruntuhkan seluruh pertahanan Kikan, yang akhirnya siap bercinta dengannya dalam cara yang diinginkan Rey. Dengan penuh gairah dan kelembutan, dan terutama penuh makna.


Tatapan Rey menyapu seluruh tubuhnya, melihat semuanya, karena mereka tidak mematikan lampu. "Aku suka memandangimu." Rey menurunkan bibir untuk menyentuh bibir Kikan dan menciumnya dengan lembut, dengan manis. "Dan suka rasamu." dia menarik napas saat hidungnya menelusuri leher Kikan dan turun ke payu***nya. "Dan aromamu."


Kikan tidak berani bicara. Ia terlalu kewalahan untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, ketakutan dengan apa yang terjadi jika ia berusaha. Yang paling tidak diperlukannya adalah mengatakan pada Rey bahwa tak ada seorang pria pun pernah memberi arti sebesar ini padanya. Bahwa entah mereka bersama-sama atau berpisah, ia akan tetap mencintai Rey sampai mati. Siapapun yang mampu bertahan selama tujuh belas tahun, menghadapi penolakan dan semua penderita lainnya, pasti melakukan demi seorang pria dan hanya ada satu orang pria. Dan karena alasan apapun, Rey lah pria itu.


Tangan Rey menangkap payu*** Kikan selagi menghisapnya, dan tangan satunya membelai rambut Kikan. Kemudian Rey mengangkat kepala dan menatap mata Kikan selagi jemarinya meraba-raba tempat yang lebih intim.


"Aku sudah sering sekali membayangkan kita bersama-sama," katanya. " Di Dessero, di kolam, pada malam hari di tempat tidurku. Tapi kenyataannya yang kuhadapi jauh lebih indah dari semua bayangan itu."


Kikan menjelajahi tubuh Rey. Ia berpikir ini bisa jadi satu-satunya kesempatan ia bisa memperturutkan hasrat yang dibangkitkan pria itu dalam dirinya. Mengapa tidak mengambil apa yang diinginkannya juga? Lupakan tentang kewaspadaan dan kendali diri dan apa yang mungkin terjadi nanti. Tambahkan satu malam lagi ke dalam kumpulan kenangannya yang sedikit namun begitu berharga, kali ini kenangan bersama Rey selagi pria itu dewasa.


Rey tampak agak terkejut merasakan Kikan semakin agresif. Sejauh ini, yang Kikan lakukan hanya berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa ini mungkin tidak akan membawa mereka pada sesuatu yang permanen. Itu permintaan yang terlalu banyak, dan ia sudah lama belajar dari pengalaman untuk tidak meminta terlalu banyak. Tetapi jika harus bercinta dengan Rey, mungkin ia juga akan menikmati beberapa jam kedepan.

__ADS_1


"Kikan?" Rey berbisik. "Apa yang sedang kaupikirkan?"


"Aku tidak berpikir. Sebaiknya jangan membuang waktu dengan berbicara," katanya, dan merasakan tubuh Rey menegang ketika disentuhnya.


__ADS_2