
Rey berharap bisa memberikan petunjuk bahwa ia ingin mereka melakukannya, menahan Kikan agar mau tetap tinggal. Ia tak siap membiarkan Kikan pergi, ingin membuat wanita itu merasa lebih nyaman sebelum berlalu. Ia takut membayangkan Kikan pulang dengan penuh sesal karena telah mempercayainya lagi. Ini salahnya, bukan salah Kikan. Tetapi menahan Kikan tidak akan baik untuk Cindy maupun Kikan, karena Rey tidak bisa menemaninya seperti yang ia inginkan. Jadi ia tidak memberi isyarat apapun dan lebih berfokus pada pemikiran praktis. "Kalau begitu ada kendaraan yang menjemputmu?"
Kikan merapikan gaun yang Rey dan Devan belikan tempo hari. Dia mengenakannya setiap kali ingin tampil cantik, bukti lain bahwa kedatangannya ke pondok ini bukan karena dorongan mendadak seperti yang ingin dikesankannya. "Ya, ada sopir yang menungguku."
Rey bisa melihat sikap Kikan yang waspada sehingga tidak menanyakan siapa yang mengatarnya kesini dan menunggu sampai dia pulang. Jadi Rey hanya mengangguk. "Oke. Aku akan meneleponmu saat aku sudah di rumah."
Kikan menunduk dan berjalan meninggalkan semua orang, dan Rey berusaha membiarkannya pergi tanpa mengejar. Jika memang ada mobil yang menunggunya, Kikan akan tiba di rumah dengan selamat. Rey bisa mengganti biaya perjalanan itu nanti, yang memang telah direncanakannya. Naik taksi ke danau ini pasti lumayan mahal.
Namun pada detik terakhir, Rey menoleh ke arah Cindy dengan tatapan meminta maaf lalu menyusul Kikan. Itu bukan tindakan sopan, namun cindy pun sudah bersikap tidak sopan dengan menunjukkan perhatian yang begitu jelas pada Simon. Dan Rey tak bisa membiarkan Kikan pergi tanpa minta maaf atas kehadiran Cindy. Tanpa memberi tahu bahwa ia senang Kikan akhirnya berubah pikiran dan datang kemari. Ia juga ingin memastikan Kikan mempunyai cukup uang untuk membayar sopir yang akan mengantarnya pulang. "Kikan!"
Wanita itu belum keluar dari ruang tamu Ketika berbalik. "Jangan sampai acaramu terganggu," ujarnya sambil mengisyaratkan agar Rey kembali ke teras. "Maaf aku mengejutkanmu. Aku tidak tahu ini pesta semacam itu." kata Kikan lagi.
Itu karena Rey mengira akan punya kesempatan lebih baik untuk membujukkan ikut jika menggambarkan pesta ini dengan cara yang lain... "Tentu saja tidak. Aku khawatir jika aku bilang begitu, kau tidak mau datang, dan karena kau menolak, Devan meminta teman kencannya mengajak teman. Aku belum pernah bertemu Cindy, dia duduk di pangkuanku hanya karena kami kekurangan kursi, dan dia yang mendesak untuk duduk seperti itu ketika aku berdiri untuk menawarkan kursiku padanya."
" Tidak perlu menjelaskan," Ucap Kikan, seakan dia tak tertarik mengetahui kehidupan cinta Rey. "Mestinya aku tidak berubah pikiran pada menit terakhir."
" Tapi aku senang kau melakukannya. Seandainya tahu, aku pasti akan... membuat rencana lain." kata Devan.
" Tidak apa-apa. Kembalilah."
Rey tidak ingin kembali, bukan wanita ini yang seharusnya pergi..."Setidaknya, Izinkan aku menemanimu keluar."
Kikan menghalanginya. "Tidak perlu teman-temanmu menunggu. Aku akan baik-baik saja."
__ADS_1
Rey terlanjur meninggalkan mereka. Beberapa menit lagi tidak akan ada bedanya. "Aku lebih suka mengawasimu pergi. Itu akan membuatku tenang."
Rey bertanya-tanya apa Kikan mau diajaknya pergi ke satu tempat Sabtu depan, untuk mengganti kejadian hari ini, dan berencana menanyakan saat membantu wanita itu naik ke mobil nanti. Tetapi ketika membuka pintu depan, ia baru menyadari ternyata tidak ada mobil yang menunggu.
Kikan mendesah saat melangkah keluar di belakangnya. "Sepertinya sopir ku terpaksa pergi."
Rey mengernyit padanya. "Kau sudah tahu tak ada yang menunggumu di sini bukan?"
Kikan tidak menjawab.
" Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanyanya. "Mencoba berjalan? Dalam Gelap begini? untuk sampai ke rumahmu akan butuh waktu semalaman, Itupun kalau kau bisa pulang dengan selamat."
Lagi-lagi Kikan diam saja.
" Aku bisa menjaga diri."
" Tidak kalau keadaannya seperti ini!" Bagaimana mungkin Kikan mempertimbangkan untuk mengambil resiko sebesar ini? Kenapa dia tidak mengatakan saja bahwa dia tak bisa pulang dan membiarkan Rey mengatasinya? Keselamatannya jauh lebih penting daripada sopan santun yang harus ditunjukkan pada Cindy, jauh lebih penting daripada apapun.
Sejak kembali, Kikan sudah begitu yakin Rey akan mengecewakannya, sehingga enggan bergantung padanya. Rey mengerti apa sebabnya, tapi Ia benci keadaan itu. Benci bawa Kikan menolak mempercayai apapun yang ia ucapkan atau lakukan. Kikan telah menganggap Rey secara emosional tak bisa diandalkan dan tak bisa menentang ketidakadilan, meskipun waktu itu usianya baru belasan tahun dan baru putus dengannya.
Devan berjalan keluar dari pintu dengan membawa koper Kikan. "Hai, kau melupakan ini."
KIkan tidak lupa, dia tahu tidak ada tempat untuk menaruh koper itu. Dan Rey bahkan tidak terpikir bahwa Kikan akan datang dengan membawa koper. Ia begitu sibuk dengan keterkejutannya sendiri melihat Kikan muncul malam ini, sembari mencoba memikirkan caranya menyelamatkan kemajuan kecil yang telah diraih untuk mendekati wanita itu.
__ADS_1
Tak bisakah semuanya berjalan lancar? seandainya tidak ada Cindy, Ia bisa menghabiskan waktu bersama Kikan dalam situasi yang bisa dikatakan romantis. Situasi yang bagi Kikan, maupun Rey sendiri yang tidak hanya bisa terwujud semata-mata karena Rey ada kaitannya dengan Jason. Itulah alasannya sebenarnya mengundang Kikan untuk membangun kepercayaan.
Sebaliknya, Ia salah menangani segalanya. dan kemungkinan besar Kikan tak mau mempertimbangkan kesempatan lain dengannya.
" Di mana mobilmu? tanya Devan, melihat sekeliling. Rey tidak menjawab temannya itu. "Kau dan harga dirimu itu." gumamnya pada Kikan.
" Aku akan menelpon seseorang," jawab Kikan. "Bukan masalah besar. Aku yakin aku akan dapat mobil."
" Tidak pada malam selarut ini, kau tidak mungkin bisa dan ku kira kau tahu itu." Rey menunjuk jalan berliku-liku yang mengitari gunung. "Kalau aku tadi tidak mengikutimu keluar, kau pasti sudah pergi dalam gelap begini, berjalan kaki dan..."
" Dan aku akan baik-baik saja. Orang bisa pergi tanpa mobil sepanjang waktu." Kata Kikan.
" Katakan padaku bagaimana kau berencana melakukan nya saat ini?"
" Aku akan berjalan kaki sampai jalan utama, dan menumpang dari sana."
Bayangan mengerikan bahwa Kikan akan bertemu psikopat ataupun pemerkosa membuat Rey berang. "Enak saja!" Tukasnya. "Apakah kau benar-benar percaya aku akan membiarkanmu melakukan itu?" tanya Rey.
Kikan ternganga. "Kau tidak berhak mengaturku!"
Ada seseorang yang harus menjaganya. Kikan mengira hanya karena dia sanggup menjalani kehidupan di penjara, dia pasti sanggup menjalani apapun. Tetapi Rey ingat betapa rentannya Kikan ketika di kolam renang. Dan dia tak mungkin selamat tidak jika ada yang berniat mencelakai dirinya. "Coba saja pergi dariku," Kata Rey. "Aku akan menggendongmu kembali kalau perlu."
Ketika melihat situasi ini, Devan berusaha menjadi penengah. "Rey tidak sungguh-sungguh berkata begitu, maksudnya, seharusnya kau tetap di sini untuk ikut bermain billiard. Dia tahu kau bisa menjaga diri dan yang kau lakukan sepenuhnya urusanmu, tapi aku butuh teman satu tim, dan...." Devan membuat suaranya terdengar riang untuk membujuk Kikan, membuat Rey merasa seperti manusia paling kasar.
__ADS_1
Kikan memiringkan kepala untuk melihat sekeliling. "Setidaknya ada yang bicara masuk akal." Katanya.