
Begitu Rey menutup pintu kamar tidur, telepon disakunya bergetar. Ada pesan masuk, dari Jason ingin tahu bagaimana kondisi ibunya.
'Dia baik-baik saja, sedang tidur.' Balas Rey sambil berjalan kembali ke ruang tamu. Awalnya Jason ingin ikut, tetapi ada kerja kelompok yang harus dilakukannya. Rey mengatakan dia boleh mampir setelah itu.
Lalu apa yang akan aku lakukan sampai Kikan bangun? pikir rey. Kikan tidak punya TV, barang-barang di rumahnya tidak banyak. Itulah yang diperhatikan ketika mengelilingi tempat itu, ada satu kamar tidur di sisi agak jauh di ruang tamu, yang diisikan dengan perabot mebel rusak serupa yang mengisi seluruh trailer. Ray menemukan deretan laci yang telah melengkung, tempat tidur yang diletakkan pada batu bata dan beberapa rak buku buatan sendiri. Semua perabot itu seolah diambil dari tempat barang rongsokan, tetapi semuanya bersih. Seluruh isi trailer ini bersih. Rey dapat mencium bau pembersih lantai dari apapun pembersih yang digunakan Kikan untuk menggosok tempat itu.
Di dapur, Rey melihat bahan makanan yang ia belikan dengan Devan waktu itu, selain dari barang-barang yang telah ia belikan tak ada barang lain yang tampak. Ketika Rey membuka kulkas ia menyadari kulkas itu hampir kosong ada satu butir apel di salah satu rak kulkas. Mudah ditebak apa yang dimakan Kikan untuk bertahan hidup. Bagaimana Kikan dapat memperoleh kekuatan untuk membersihkan tempat ini dalam waktu singkat, seperti yang sudah dia lakukan, sungguh merupakan misteri.
Dimana-mana ada bukti kegiatannya, misalnya dia sedang dalam proses melepas kertas pelapis dinding yang lama di ruang tamu. Tapi Kikan bahkan tidak punya alat untuk melepasnya. Rey menggeleng-geleng membayangkan betapa membosankan dan melelahkannya proses itu, tapi Kikan berhasil membuat kemajuan dengan tekad sekuat baja. Dia biasa bekerja dengan apa yang dia miliki, pikir Rey, dan itu mengingatkannya pada sepeda Kikan maka ia menelpon Nanda temannya.
Nanda menjawab teleponnya dengan pertanyaan "apa kabar?" Rey segera memberitahu keinginannya pada Nanda.
"Sepeda tua seperti apa?"
Nanda banyak menjual sepeda gunung berkualitas tinggi, jadi dia menduga Rey akan dapat menyebutkan modelnya. "Sepeda yang sudah berumur puluhan tahun, dan butuh dua roda baru, mungkin banyak perbaikan lainnya."
"Bro, Apa yang kau lakukan dengan barang usang seperti itu kalau aku punya toko sepeda? datanglah akan kusiapkan sepeda yang pas untukmu dengan harga teman."
"Sebetulnya, itu bukan sepedaku"
"Punya siapa?"
Rey berdiri di dekat jendela dan memandang ke halaman yang menyedihkan. "Punya Kikan."
__ADS_1
Ada jeda sejenak. "Aku juga dapat membantunya, kalau kau mau."
"Dia tidak punya uang, tapi dia membutuhkan kendaraan untuk pergi ke sana kemari."
"Begitu." Ada keheningan sejenak. "Ngomong-ngomong bagaimana keadaannya, sewaktu kita kumpul di kafe jumat kemarin. Kau tidak terlalu senang dia kembali ke kota."
"Aku tidak keberatan." Ujar Rey, merasa bersalah karena menggerutukan kepulangan Kikan.
"Benarkah?"
"Ya."
" Apakah itu artinya dia tidak punya tanduk di kepala"
Meskipun sangat jengkel dibuatnya Rey tak ingin membahas persoalan itu sekarang, dan meskipun Kikan tampak belum benar-benar terjaga ketika ia berusaha membangunkannya, selalu ada kemungkinan wanita itu bisa mendengar pembicaraannya tanpa sengaja.
"Aku senang." Kata Nanda. "Itu membuat segalanya lebih mudah bagi Jason"
"Setuju."
" Jadi kapan kau berencana membawa sepedanya?"
"Besok bagaimana?"
__ADS_1
"Besok juga boleh. kami buka jam 10.00 tapi kalau kau harus masuk kerja lebih pagi daripada itu, tinggalkan saja di teras rumahku aku akan membawanya ke toko saat berangkat."
Rey memunggungi tumpukan puing yang dapat dilihatnya dari jendela. benar-benar tempat yang tak layak untuk tumbuh dewasa. "Akan kulakukan. Kapan kau dapat memperbaikinya?"
"Saat ini aku agak sedikit sibuk, tapi tidak usah khawatir, karena kau kenal si pemilik toko."
Rey tersenyum mendengar nada bercanda Nanda. "Menyenangkan memang punya teman yang bisa diandalkan, terima kasih."
"Sama-sama. Kalau nanti aku membutuhkan bantuan memperbaiki rumah, aku berharap mendapat perlakuan yang sama." Kata Nanda sambil bergurau, "Sampai ketemu besok"
Rey menghala nafas saat menutup telepon. Lalu tersadar ia tak harus berdiam diri dalam kebosanan. Banyak perkakas di dalam mobilnya, dia dapat menyelesaikan pekerjaan melepas pelapis dinding ini.
Pelapis dinding akhirnya bersih dalam waktu satu jam, tapi Kikan masih belum bangun, karena itu Rey mulai mencari kegiatan lain. Ia memperbaiki engsel di beberapa lemari makan sehingga dapat tertutup sempurna, dan memperbaiki kebocoran di bawah bak cuci piring. Rey sedang mencari kegiatan perbaikan kecil lainnya, ketika ia membuka pintu dilorong, untuk menemukan ruang kerja Kikan.
"Apa-apaan ini?" Gumamnya, meskipun sebetulnya sudah jelas. Gelang yang pernah diberikan Kikan pada Jason! Kikan sendiri yang membuatnya. Rupanya Kikan banyak membuat gelang, ada beberapa tipe berbeda, beberapa gelang dengan kayu ukiran atau manik-manik perak, beberapa lagi dibuat khusus yang tergantung dipaku di atas meja. Lalu ada setumpuk paket, semua sudah diberi alamat dan siap dikirim, di dekat dinding agak jauh. ada rak berupa papan panjang yang di atasnya terdapat deretan stempel, pembuat lubang, dan gunting untuk kulit. dirak lain ia melihat beberapa mangkuk berisi pernak-pernik logam, alat pengikat dan manik-manik. Seluruh ruangan ini beraroma seperti kulit yang telah di potong.
Kikan tak pernah menyebut-nyebut bahwa dia menjalankan bisnis. Mengapa dia merahasiakannya?
Rey tidak mengerti, tetapi melihat pabrik gelang kecil ini mau tak mau ia jadi tersenyum. Apa yang sudah dicapai Kikan sangat mengesankan, mengingat segala yang telah dihadapinya.
Rey bertanya-tanya ke mana Kikan menjualnya, mendadak terdengar pintu terbanting menutup, cukup keras untuk mengguncang seluruh trailer, rupanya Kikan sudah bangun. Rey segera keluar dari ruang kerja itu.
🐾 Jangan lupa like setiap babnya, dan berikan juga vote setiap minggunya... Terima kasih para pembaca setia❤️🐾
__ADS_1