Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 61


__ADS_3

Jason menarik kursi dan duduk. "Menurut Papa, apa Mom mau menerimamu kembali?"


" Tidak." Jawab Rey


" Aku tidak yakin soal itu. Aku yakin dia tidak ingin ingin memedulikan papa, tapi....."


Rey menyesap minumannya. "Tapi...."


" Mom sebenarnya peduli."


" Dia peduli?." Kata Rey. "Bagaimana kau bisa tahu?"


" Papa pasti buta kalau tidak melihatnya. Menurutnya, Papa seorang yang luar biasa."


Rey bisa merasakan Kikan sangat menghargainya. Kikan memperlakukan seakan-akan ia istimewa dan selalu begitu. tetapi Kikan kehilangan kepercayaan pada kemampuannya sendiri untuk dicintai, dan pada kemampuan Rey untuk mencintainya. tanpa kepercayaan itu, Kikan tidak mungkin menanggapinya. "Walaupun itu benar, ibumu merasa dia akan lebih bahagia kalau aku tidak mengganggunya."


" Bagaimana Papa bisa berpikir begitu?" tanya Jason.


" Aku pernah menyakitinya. Amat sangat. Aku tidak ingin melakukan itu lagi."


" Kalau begitu jangan," kata Jason.


Di mata Jason, kehidupan memang sesederhana itu. Rey menggeleng." Ketika kau terlibat dengan orang lain.... kau tidak selalu tahu bagaimana hubungan itu akan berakhir. Ada banyak hal yang harus kami selesaikan Sebelum kami bisa membuat keputusan penting."


" Papa tetap harus memulainya."


" Ini berbeda, karena apa yang pernah dilaluinya dan bagaimana peranku di situ. Dan kalau kami bersatu, itu akan mempengaruhimu... entah hubungan kami berhasil atau tidak."


Jason mengangkat kedua tangan. "Jangan gunakan aku sebagai alasan."


" Alasan?"


" Untuk bermain aman. Kalian tidak pernah bersama-sama, tidak seumur hidupku, jadi aku tidak akan terlalu kecewa kalau hubungan kalian tidak berhasil. Menurutku, Papa harus mengambil kesempatan ini."

__ADS_1


Seraya menghembuskan nafas panjang, Rey mengamati minuman dalam botol yang dipeganginya. "Kita lihat nanti." ujar Rey.




Jason mampir ke rumah Kikan setelah latihan pada hari rabu, dan setelah pertandingan hari kamis sepulang sekolah, karena latihan ditunda ke hari Jumat Kikan ingin kamar yang diperuntukkan bagi Jason sudah sempurna sebelum anak itu melihatnya, tetapi ternyata Jason malah ikut membantu membereskannya. Mereka mengecat sekaligus memperbaiki beberapa kerusakan bersama-sama. Kikan begitu terkesan dengan apa yang telah diajarkan Rey padanya. Jason nyaris bisa melakukan apa saja yang menyangkut perbaikan rumah atau bangunan. Meskipun baru enam belas tahun, dia sudah bisa mengajari ibunya apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki rumah itu.


Kadang-kadang Kikan membuatkan makan malam untuk Jason kalau Rey belum kembali dari pekerjaannya. Kikan tidak punya TV atau perangkat game, jadi perbaikan rumah itu memberi mereka kesibukan sementara mereka mengobrol.


Pada hari Jumat, Jason menelpon Tristan dan memintanya datang, karena Tristan ingin memiliki gelang. Lalu Jason menggunakan ponselnya untuk membuka Facebook dan menunjukkan pada Kikan gadis yang akan diajaknya ke pesta dansa di sekolah.


Kikan sangat menyukai setiap menit yang dilewatinya bersama Jason. Semuanya tampak terlalu indah, sampai Jason harus pergi pada Jumat malam. Ia baru menemani anaknya berjalan menuju Jeep ketika ibunya memanggilnya dari puncak tangga rumahnya.


" Apa kau tidak akan mengunjungi nenekmu?" Jelas bu Lis tidak sedang berbicara dengan Kikan. Dan seperti biasa, suaranya terdengar kasar. Karena menduga Jason tidak tahu bagaimana harus membalas sapaan anaknya, Kikan berbisik, "Mungkin kau bisa menyapanya tidak perlu berbuat lebih banyak daripada itu."


Jason baru membiasakan diri memiliki Ibu dalam hidupnya. Kikan tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman dengan berusaha memaksakan hubungan dengan neneknya juga. Tetapi saat yang sama, Ia tahu betapa besar artinya bagi ibunya jika bisa bertemu dengan sang cucu.


Dengan pandangan ragu-ragu, Jason berjalan ke tempat yang terbuka. "Hai Nek."


Jason menjejalkan kedua tangan ke saku celana. "Tahun depan tahun terakhirku di SMA."


" Kau sering ke sini." tanya Bu Lis.


Ada kesunyian sejenak, tapi sebelum Kikan ikut berbicara untuk mengisi kekosongan, Jason berkata, "Ibuku tinggal di sini sekarang."


" Aku sudah tinggal di sini seumur hidupku," kata bu Lis. Pernyataan itu merupakan tuduhan akan pengabaian.


" Bu! Kikan mulai memprotes, tetapi Jason memotongnya.


" Benar. Kita tidak pernah punya kesempatan untuk saling kenal." kata Jason.


Bu. Lis tidak berkata apa-apa, dan Jason mengeluarkan kunci mobil lagi. Tetapi bu Lis menghentikannya.

__ADS_1


" Aku punya seekor anjing kalau kau mau melihat." katanya.


" Dia akan melihatnya lain kali, bu. Dia harus segera pulang," kata Kikan, tetapi Jason mengejutkannya dengan mulai melangkah ke dekat teras rumah sang nenek.


" Aku bisa ke sana sebentar," kata Jason padanya dalam suara berbisik.


Mau tak mau Kikan merasa panik membayangkan anaknya masuk ke rumah itu. Kikan khawatir Jason akan terganggu dengan apa yang dilihatnya sehingga akan segan untuk datang lagi, karena takut sang ibu nantinya menuntut anak itu untuk mengunjunginya juga.


" Jason, tidak apa jika..." gumam Kikan, dan mendesak agar Jason menunggu sementara ia sendiri memanggil anjing kecil ibunya.


Jason duduk diundakan teras ketika Kikan kembali dengan hewan peliharaan ibunya. Jason tampak menyukai mereka, dia bermain dengan mereka sementara Bu Lis berdiri di ambang pintu, mengintip keluar. Dia mengajukan pertanyaan setiap beberapa detik, dan Jason menjawabnya. Secara umum itu berlangsung jauh lebih baik daripada yang dikhawatirkan Kikan. Tapi ketika Bu Lis menyarankan agar Jason masuk untuk melihat beberapa koleksinya benda antiknya, Kikan menengahi dengan lebih tegas.


"Tidak, sudah cukup untuk malam ini," kata Kikan. "Aku tidak ingin membuat ayahnya bertanya-tanya kenapa dia belum sampai rumah."


"Apa dia tidak bisa menelepon? Bukankah dia punya ponsel seperti anak-anak lain sekarang ini?" Bu Lis mendesak.


Rupanya, ibunya senang ditemani Jason, berarti Kikan tahu ibunya akan menyangkal itu.


" Dia sudah menelpon," kata Kikan. Dia seharusnya sudah pulang tiga puluh menit lalu. Sebaiknya kita tidak menyulitkannya." Jason telah memberitahu ayahnya, jadi dia tidak harus segera pulang. Tetapi Kikan mendesaknya untuk segera pergi karena ia tak ingin membuat Rey merasa anak mereka menghabiskan terlalu banyak waktu bersamanya.


" Baiklah!" dengan itu Bu Lis memanggil anjingnya dan membanting pintu.


" Maafkan Aku. Dia seharusnya mengatakan selamat jalan," Kikan berbisik, tetapi Jason hanya nyengir seolah dia tidak keberatan lalu menggandeng tangan ibunya ketika mereka berjalan menuju mobilnya.


"Aku beruntung sekali punya anak seperti kau," Ucap Kikan tanpa berpikir ketika Jason melepaskan tangannya. "Aku sayang padamu."


Kikan ingin menahan kalimatnya yang terakhir. Ia takut itu terlalu cepat, bahwa Jason akan merasa tidak nyaman. Tetapi anak itu malah berbalik dan memeluknya.


"Aku senang Mom sudah pulang," katanya.


"Kuharap kedatanganku kesini tidak mengganggu ayahmu. Beritahu aku saja jika ada perbuatanku yang menimbulkan masalah padanya, oke?"


"Mom tidak menimbulkan masalah. Papa benar-benar menyukaimu. Dia sudah menunggu-nunggu makan malam hari minggu nanti."

__ADS_1


"Pastinya!" Kata Kikan sambil tertawa.


Jason menutup pintu Jeep. "Aku serius. Dia menyebutkan itu di depanku berkali-kali."


__ADS_2