Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 58


__ADS_3

Rey merasa begitu tersentuh bahwa Kikan sangat senang memberi Jason hadiah sederhana ini. Dia begitu berbeda dari yang diyakini keluarga Logan... "Kau bisa membuat kue?"


" Aku baru mencobanya. Mudah-mudahan hasilnya lumayan. Maksudku... ini bukan kue yang paling lezat. Seharusnya aku dulu mencoba membuatnya tapi tidak sempat."


Kekhawatirannya tampak sungguh-sungguh. "Menurutmu ini rasanya tidak enak?" tanya Rey.


" Mungkin enak," sahut Kikan sambil tertawa. "Aku tak bisa menilai sendiri."


" Kau tidak mungkin salah kalau menggunakan banyak mentega dan gula. Aku yakin anak-anak itu akan suka." Ucap Rey.


Kikan mengeluarkan wadah biskuit dari bungkusnya. "Kau mau coba?"


Begitu mencicipi, Rey segera tahu bahwa kue itu nyaris gosong. Tetapi itu bukan yang terburuk, Kikan menggunakan terlalu banyak baking soda atau garam. Kalau wanita itu tidak duduk di situ, Rey pasti sudah meludahkan potongan yang baru digigitnya.


" Bagaimana menurutmu?" tanya Kikan penuh harap.


Rey berusaha menelannya. "Ini.... enak" katanya


" Benarkah? karena aku tidak ingin Jason malu kalau tidak enak."


Rey juga gelisah dengan bagaimana reaksi anak-anak nanti, tetapi bukan demi Jason. Meskipun dia tak ingin anaknya merasa lebih malu ketimbang Kikan, Ia tahu wanita itulah yang akan sakit hati jika mereka mengeluh, tidak mau memakannya, saling melempar biskuit atau mulai menggoda Jason.


"Tidak ada salahnya itu." Ia berusaha sebisa mungkin tampak meyakinkan, tetapi berbelok ke sebuah swalayan kecil begitu mereka sampai ke kota.


" Kenapa kau berhenti?" Kikan bertanya ketika Rey memarkir mobil.


Rey memilih tempat Kikan tak bisa melihat pintu masuk swalayan. "Aku mau ke kamar kecil."


" Kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa menggunakan yang ada di trailer."


" Duduk saja di situ. Aku tidak akan lama." Rey bergegas masuk dan membeli dua lusin biskuit bertabur keping coklat, yang kemudian disembunyikannya di semak-semak. Lalu ia kembali masuk dan memesan secangkir kopi, seakan mendadak ingin minum, dan kembali ke pikap.


Ia mengetuk jendela Kikan.


Wanita itu tampak bingung ketika membuka kaca. "Ada apa?"

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Aku memesan kopi," jawab Rey. "Kau mau masuk ke sana untuk mengambilnya sementara aku ke seberang jalan membeli bensin?" tanyanya.


" Kau mau minum kopi di sore yang panas ini?" Ujar Kikan. "Apa tidak kegerahan?"


" Hari ini pekerjaan lumayan berat. Aku butuh kafein."


Kikan melepaskan sabuk Pengaman. "O-ke....." Dia mengucapkan kata tersebut dengan nada diseret seakan menganggap Rey sinting karena berhenti untuk sesuatu yang begitu tidak penting padahal mereka sedang terburu-buru untuk menonton pertandingan Jason.


Rey menunggu Kikan memasuki swalayan sebelum membuang biskuit gosong itu ke tempat sampah terdekat, dan mengisi wadah plastiknya dengan biskuit yang dibelinya.


Untunglah, tangki pikap nya penuh, karena Kikan berjalan keluar dengan membawa kopi ketika Rey menghentikan mobil lebih dekat ke pintu. "Sudah siap?" tanya Rey.


" Kalau kau siap." Kikan menyerahkan kopi itu sebelum duduk di jok penumpang.


Rey berharap Kikan tidak mendadak ingin makan biskuit itu dan melihat perbedaannya. Ia tak tahu apa yang akan dikatakannya nanti.


" Kita akan telat," keluh Kikan.


" Kita sudah dalam perjalanan."


Rey kesulitan menahan tawa, tapi setelah berusaha dengan segala cara sampai menit terakhir tadi, Ia tak mau menyerah. Untuk menenangkan diri, ia menggeleng. "Tidak apa-apa. Santai saja dan nikmati perjalanan." ujar Rey.




Begitu mereka tiba di stadion, Kikan mengambil bungkus biskuit dan melompat turun dari pikap. Pengalamannya pada pertandingan terakhir tidak menyenangkan, tetapi jarak ke sini cukup jauh sehingga ia tidak dapat membayangkan banyak orang dari kota mereka akan datang. Mungkin hanya orang tua dari para pemain. Dan ia berharap mereka tidak mengetahui identitas dan latar belakangnya, atau setidaknya mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Seseorang yang tidak dikenalnya menghentikan Rey ketika mereka mendekati tribun. Menurut perkiraan Kikan, orang itu ayah pemain lain, yang dengan penuh semangat menganalisa apa yang harus dilakukan oleh para pemain tim mereka untuk mengalahkan tim lawan.


Ketika Rey berhenti untuk mengobrol, Kikan terus berjalan. Inilah kesempatannya untuk membuat jarak di antara mereka dan, kalau ia beruntung terhindar dari perhatian. Kalau tidak terlihat bersama Rey. Mungkin ia tidak akan dikenali di tempat yang netral ini. Jadi Kikan bersikap seolah hanya kebetulan mereka berjalan berdampingan.


Karena sisi stadion yang diperuntukkan bagi tuan rumah sudah penuh, Kikan mengubah rencananya untuk duduk di sana dan mendatangi tempat yang sebagian besar kosong di sisi yang diperuntukkan bagi pendukung tim tamu. Ia tidak akan segera mendekati Jason dengan biskuit yang di bawanya. Itu baru akan dilakukannya setelah pertandingan selesai, ketika tim.. diharapkan merayakan kemenangan.


Setelah memilih tempat yang tampak tidak mencolok, Kikan pun duduk. Lalu dengan perlahan menghembuskan nafas. Tak ada seorangpun menatapnya. Saat itu, Ia merasa aman sebagai orang tak bernama dan mengira ia akan bisa menonton Jason tanpa gangguan apapun.

__ADS_1


Tetapi yang terjadi kemudian, Rey terlihat berjalan menaiki tribun untuk mendatanginya.


Kikan menggeleng samar untuk menunjukkan pada Rey bahwa ia tidak mengharapkan ditemani. Sesungguhnya ia lebih suka Rey duduk entah di mana, jauh darinya. Tetapi mengetahui usaha Kikan untuk mencegahnya mendekat, Rey malah mengabaikannya, bahkan melambai pada beberapa orang yang menyapanya selagi naik, yang justru membuatnya semakin menjadi perhatian.


Ternyata Rey tetap populer seperti dulu. Ditambah lagi Jason kini menjadi pemain utama. Itu terjadi dengan sendirinya.


Akhirnya, setelah memastikan sudah menyalami semua orang, Rey duduk di samping Kikan.


" Kau sedang apa?" bisik Kikan, karena orang-orang yang tadi menyalami Rey sekarang menjulurkan leher untuk dapat melihatnya dengan lebih jelas.


" Apa maksudmu dengan 'Kau sedang apa'?" tanya Rey.


" Aku mengerti kau sedang berusaha berbuat baik dengan menemani sampah masyarakat. Itu tindakan yang mulia. Dan jika itu melibatkan orang lain kecuali diriku, aku akan mengaguminya. Tapi aku lebih suka kau tidak menarik lebih banyak perhatian orang-orang padaku. Jadi.... tolong, bisakah kau pindah ke tempat lain?"


" Tidak," kata Rey. "Mereka harus terbiasa dengan kehadiranmu. Lebih baik membuat Itu tampak jelas, ketika kita punya sekelompok kecil sebagai awal, bahwa kau sudah kembali dan menonton pertandingan."


Tetapi bukan Rey yang harus membuat keputusan. "Aku lebih suka tidak terlalu.... mencolok, terima kasih."


" Senyum saja. Kau sudah menjalani hukumanmu. Tidak mungkin tidak menarik perhatian orang."


" Aku merasa sudah nyaman beberapa saat lalu," kata Kikan.


" Hanya karena mereka tidak menyadari siapa dirimu. Tapi mereka pasti akan tahu kalau kita bermain di kandang sendiri. Padahal kau ingin bisa datang dan pergi sesukamu, kan?"


Kikan menekankan kedua tangan dengan keras di pangkuan." Aku mengharapkan itu terjadi sejalan dengan waktu."


" Ini seperti memakai perban kecil, Kikan. lebih baik memakainya sambil menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan dulu kemudian terbebas darinya."


" Pakai saja perban sendiri," Kikan menggerutu. "Biarkan aku pakai punyaku."


Rey menyikutnya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun memperlakukanmu dengan buruk."


Kikan memandang Rey, lalu melihat ke tempat lain. "Tidak ada alasan bagimu untuk melibatkan diri. Kata siapa kau harus melindungiku?"


" Kuharap aku bisa melakukan yang lebih baik tujuh belas tahun lalu, sungguh." Ucap Rey sungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2