Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 76


__ADS_3

Kikan terbangun beberapa jam kemudian. Hari masih gelap, jadi ia tak yakin apa yang telah membangunkan dirinya, sampai ia merasakan gerakan. Setelah tidur sendirian selama tujuh belas tahun, kini ada orang lain di sampingnya, dan itu bukan orang sembarangan. Inilah orang yang ia bersumpah akan ia hindari.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" gumam Rey. Kikan tak sadar Rey sudah bangun, dan ia tidak mau menjawab dengan jujur. Sebaliknya, ia tersenyum lebar. "Bahwa kau hebat di tempat tidur."


"Kau sendiri tidak kalah hebat. Kau benar-benar menganggap rendah kemampuanmu sendiri, tahu? Yang kedua tadi... kau hampir membuatku mati."


Kikan tahu yang dimaksud Rey adalah betapa nakalnya ia saat mengendalikan keadaan tadi sebelum mereka jatuh tertidur, dan Kikan merasakan wajahnya merona. "Kau bicara apa? Kau baik-baik saja."


"Aku harus bertahan demi menyelamatkan nyawaku. Aku belum pernah mengalami yang seperti itu." canda Rey.


"Berhenti menggodaku," ujarnya, meninju Rey dengan main-main.


Rey menangkap tangan Kikan. "Kenapa? Aku menyukainya, sangat menyukainya sampai-sampai aku kewalahan. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk bertahan. Membayangkan ekspresi wajahmu ketika mencapai puncak saja sudah membuatku tegang lagi."


"Kita sudah tidak punya pelindung lagi, jangan ambil resiko mengingat kesialanku, takut nya sejarah akan terulang."


"Bukankah ironis, jika sekarang justru aku ingin membuatmu hamil lagi?" Kata Rey, tapi suaranya terdengar lebih berharap daripada ketakutan dengan gagasan itu.


"Setidaknya kita sudah lebih tua. Sekarang tidak jadi masalah apa yang dikatakan orang tentang pilihan kita." ujar Kikan.


"Menjadi dewasa memang ada untungnya." balas Rey.


"Tapi jika benar aku hamil, aku akan membesarkan anak ini." Kikan terdengar teguh, seolah tidak akan membiarkan dirinya dirampok lagi.


Rey membelai rambut Kikan, "Kau menganggapnya seolah hanya kau yang melakukannya sendiri."


"Aku tidak mengharapkan apapun darimu, Rey. Aku lebih kuat daripada yang kau kira dulu. Kau bisa mengambil jalanmu sendiri, dan aku akan baik-baik saja."


Rey meraba sisi wajah Kikan dengan jemari. "Aku tidak akan pergi kemana-mana," ucapnya, lalu menarik Kikan kembali berbaring disebelahnya.



Hampir jam sebelas siang ketika Rey akhirnya terjaga. Ia tak yakin bagaimana ia bisa tidur begitu lama, karena biasanya ia sudah bangun pagi-pagi. Tetapi ketika tidak melihat Kikan di kamar, Rey khawatir jangan-jangan wanita itu sudah berusaha meninggalkan pondok sendiri. Rey ingin ia sendiri yang mengantar Kikan pulang. Jadi ia mengenakan pakaian tanpa repot-repot mandi dulu, menyisir rambut dengan jemarinya supaya tampak agak rapi dan bergegas keluar menuju rumah utama.


Untunglah, Kikan ada di sana, di dapur, membantu menyiapkan sarapan sedangkan Cindy tak kelihatan di mana-mana. Apakah berlebihan jika Rey berharap bahwa dia yang akan pergi.


Rey juga tidak melihat Samantha. Ini merupakan isyarat penuh harap juga.


" Pagi." Kelly tersenyum ceria ketika membawa sepiring telur mata sapi. Eva mengikuti dibelakangnya dengan membawa sosis.


Tatapan Rey tertuju pada Kikan, yang sedang menggoreng kentang. Saat mendengar suaranya, wanita itu melirik ke belakang dan menyunggingkan senyum simpul sebelum kembali pada pekerjaannya. Namun ketidakpastian senyum itu membuat Rey menghampirinya, memeluk kedua bahu Kikan dan mencium puncak kepalanya. "Halo, cantik."

__ADS_1


Kikan menoleh ke arah meja dapur, tempat teman-teman Rey mengamati mereka. Sebaiknya kau mengambil piring mumpung telurnya masih panas," ujar wanita itu dengan wajah memerah. "Aku akan membawa kentangnya ke sana sebentar lagi."


Simon berdiri di samping Kikan, sedang membuat kopi. Cengirannya miring dan dia menyenggol Rey selagi berjalan melewatinya. "Kau tidak apa-apa tidur di ranjang kecil itu?"


" Malam terindah yang pernah ku nikmati," Kata Rey.


Simon tertawa. "Senang mendengarnya."


Setiap orang tersenyum lebar ke arahnya. Tetapi Rey tidak peduli jika mereka tahu bahwa ia bersama Kikan semalam. Itu tidak membuatnya malu sama sekali. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya, sekarang ia harus memikirkan bagaimana mempertahankan Kikan agar tetap di sisinya. Jason sudah menyatakan tidak keberatan jika mereka kembali bersama. Walau begitu, masih ada orang tuanya, juga keluarga Lori, serta semua orang lain di kota kecil mereka menganggap Kikan bersalah atas tewasnya Lori, ditambah Ibu Lis, yang mustahil memaafkannya karena telah menyebabkan Kikan menderita.


tetapi Rey harus membuat prioritas. Ia harus memulai kesempatan keduanya bersama Kikan dengan menanyakan apakah Cindy sudah pergi. "Dimana Cindy dan Samantha?"


Kelly menolehkan kepala ke arah Devan, yang duduk di meja. "Ada orang yang berbaik hati padamu dan mengatakan pada mereka bahwa keberadaan mereka di sini ternyata tidak baik."


Rey merasakan dirinya ternganga. "Kau?"


Devan menyesap jus jeruknya. "Jangan bilang aku tidak pernah berbuat apa-apa untukmu."


" Trims. Tapi kaulah yang membawa mereka kemari." Rey mengangkat tangan. "Cuma mengingatkan."


Devan mengerutkan kening, pura-pura marah. "Itu karena kau tidak bisa mendapat teman kencan sendiri."


" Dia sudah merasa bahwa kau tidak begitu tertarik padanya. Dia sedang berkemas ketika aku mengetuk pintu kamarnya."


" Tak ada yang bisa menyamai kepala dingin untuk memandang sesuatu dengan bijaksana." ujar Rey.


Semua orang tertawa.


" Lalu Samantha?" tanya Rey. "Mestinya dia bisa tetap tinggal."


Devan mendecakkan lidah. "Itu juga tidak terlalu berhasil." ucapnya


Rey meletakkan kopi dan meremas bahu depan. "Maaf bro."


Devan mengangkat bahu, dan memusatkan perhatian pada Olivia, yang baru memasuki ruangan itu bersama suaminya Brandon. "Memang lucu bagaimana kita tertarik pada seseorang."


Devan sudah bertahun-tahun mencintai Olivia, namun kehilangan wanita itu. Yang lebih memilih orang lain, yang masih terhitung saudara Devan. Dan Rey hanya bisa membayangkan betapa berat rasanya melihat mereka berdua sepanjang waktu.


" Benar sekali." Rey jelas belum berhasil mendapatkan wanita yang membuat dirinya tertarik. Kikan telah berusaha lebih dari sekali, untuk memperingatkan bahwa berhubungan dengannya tidak akan mudah. Tetapi hanya dialah yang Rey inginkan. Dan tampaknya Rey sulit mengubah keinginannya.


" Siapa yang mau kopi?" tanya Simon. Tapi kemudian telepon berdering dan dia mengangkat jemari agar mereka diam.

__ADS_1


" Rey ini Jason." katanya sesaat kemudian.


Rey merasakan perhatian Kikan ketika ia menghampiri untuk menerima telepon. Tetapi ketika setiap orang kembali berbicara, Rey harus membawa telepon ke ruangan lain agar bisa mendengar. "Ada apa, sobat?"


" Kenapa Papa tidak menjawab telepon?" tanya Jason.


Ponsel Rey ada di kamar yang semestinya ia tempat bersama Devan, namun ia tidak akan mengungkap rahasia itu pada putranya. "Aku lupa tidak bawa charger," dustanya. "Tapi aku akan pinjam supaya kau bisa menghubungi kalau ada perlu."


" Aku senang Papa memberikan nomor pondok ini pada orang tua Tristan."


" Kenapa? Ada yang tidak beres?"


Jason tidak menjawab pertanyaan itu. "Apa mom datang?"


Rey melirik ruangan lain dan melihat Kikan sedang menuang kentang ke mangkuk. "Ya."


" Dan apakah berjalan lancar?" tanya Jason.


Rey tersenyum. Tadi malam berjalan agak sulit awalnya. Kikan bersikap keras dan melindungi diri dan tidak membiarkan dirinya masuk, namun begitu mereka sampai di tempat tidur, wanita itu mulai merasa nyaman dengannya... "Aku yakin lancar. Aku senang dia di sini."


" Apakah Mom senang?"


Rey ingat nyaris menarik Kikan ke sungai kecil pada kali terakhir Jason mencoba membantunya, lalu merasakan senyumnya mereka lebih lebar. "Sepertinya begitu."


" Itu melegakan." ujar Jason.


Jason tidak terdengar segembira yang Rey harapkan, dia lebih terdengar kesal atau tegang. "Jadi apa yang tidak beres?" tanya Rey.


" Kami berhenti di pom bensin dan beli makanan kecil sebelum pergi tadi pagi, dan..."


Rey merasakan dirinya gemetar karena gelisah, bukan dari apa yang dikatakan Jason melainkan dari caranya bersikap. "Dan? ada apa?"


" Logan ada di sana." ucap Jason.


Sambil mengencangkan pegangan pada gagang telepon, Rey menempelkan satu kaki ke dinding. "Sebaiknya dia tidak mengatakan apa-apa padamu!"


" Dia tidak mengancamku atau apa. Tapi... Aku tidak suka dia lagi. sedikitpun Tidak. dia baji***."


Rey tidak pernah menyukai Logan sejak dulu, namun ia menyukai sahabat Ibunya dan keluarga mereka yang lain. "Abaikan saja dia."


" Aku mau, tapi dia bilang keluarga mereka menemukan Via Astaria, dan katanya Via ini akan menjelaskan siapa dan seperti apa Ibuku sebenarnya."

__ADS_1


__ADS_2