
Hari hari Kikan lewati dengan bahagia, Kikan masih mengerjakan pesanan gelang yang datang, setiap akhir pekan ia akan pergi ke tempat ibunya, bahkan Rey ikut menemaninya. Mereka menginap selama dua hari di trailer Kikan. Begitulah rutinitas Kikan sekarang. Menyiapkan sarapan setiap pagi untuk dua laki-laki yang dicintainya. Mengecek kerjaannya di laptop baru yang dibelikan Rey. Dan semakin hari rasa cinta Kikan semakin bertambah untuk Rey.
Akhir pekan ini, Rey mengajaknya untuk menghadiri pesta makan malam yang diadakan rekan bisnisnya. Kikan ragu untuk ikut, ia tak begitu menyukai keramaian. Namun Kikan mengiyakan ajakan Rey. Ia harus selalu mendukung dan menjadi orang yang dapat Rey andalkan.
Kikan menatap dan menatap garis pinggangnya, tidak mempercayai perbedaan yang sangat jelas terlihat di tubuhnya. Sekarang gaun pesta yang baru saja dikenakannya terasa sempit untuknya, hampir terasa tidak nyaman. Empat minggu lalu, gaun ini pas dan nyaman dipakai olehnya! Tidak mungkin ia bertambah gemuk secepat ini.
Rey dengan sabar menunggunya, sejak tadi mengawasi Kikan dan mulai tertawa. "Berat badanmu hanya sedikit bertambah, Kikan."
"Ini rasanya tidak benar!"
"Tentu saja benar, dan itu sudah bisa diduga karena kau meninggalkan banyak aktivitas harianmu selama kau tinggal bersamaku. Kau tidak lagi bolak balik bersepeda ke rumah Devan setiap hari, dan selama ini kau makan jauh lebih banyak daripada yang biasanya kau santap. Aku suka dengan tubuhmu yang lebih berisi seperti sekarang." ujar Rey.
Kikan berhasil meredakan kekesalannya saat melihat Rey memandangnya dengan tatapan memuja, tapi jelas butuh usaha keras untuk melakukannya. Perubahan suasana hati yang sangat drastis ini sepertinya semakin memburuk saja. Kikan benci itu, dan tak tahu kenapa ia bertingkah demikian.
Kikan sudah siap dalam balutan gaun putih, dengan bordiran pada sepanjang bagian tepinya. Ia tampak memukau. Namun juga sedikit merasa sesak di bagian pinggangnya.
Perjalanan hanya berlangsung singkat karena pesta makan malam ini diselenggarakan hanya beberapa blok dari rumah. Semangat Kikan sedikit sirna digantikan dengan perasaan panik, ketika ia menyadari bahwa ia belum siap untuk ini. Kikan memang ingin mendampingi Rey. Itulah yang menyebabkannya nekat datang ke pesta malam ini. Tapi ia belum siap jika pernikahan itu diketahui secara umum. Jika ia mendapatkan ucapan selamat dari orang yang sama sekali asing untuknya, Mungkin ia akan langsung menangis, emosinya masih terlalu rentan beberapa hari belakangan ini.
Mereka sudah melangkah keluar dari mobil di depan rumah rekan bisnis Rey. Ketika Rey turun, ia berbisik pada Kikan, "Jangan terlalu gugup, aku akan selalu berada di sampingmu."
Kikan melemparkan senyum terima kasih ke arah Rey. "Aku merasa akan menyebabkan kehebohan ketika tamu-tamu di sana melihat kita datang bersama."
" Memangnya kenapa?" tanya Rey "Kita kan sudah menikah"
" Tapi pernikahan kita digelar dengan tertutup, tidak banyak yang tahu kita berdua sudah menikah."
" Berarti ini kesempatan yang bagus untuk mengumumkan pernikahan kita," ujar Rey sambil tersenyum.
__ADS_1
Rey selalu saja bisa membuat perasaan Kikan menjadi lebih tenang, ia menautkan jemarinya dengan jemari Rey, sedikit demi sedikit mulai merasa lebih percaya diri.
Begitu mereka berdua melangkah masuk ke tempat acara dilaksanakan, banyak mata mengarah kepada mereka. Tampak jelas mereka bertanya-tanya, karena selama ini Rey tidak pernah membawa pasangan dalam acara-acara resmi. Tuan rumah langsung menghampiri mereka. "Senang melihatmu bisa hadir."
"Aku juga senang bisa datang ke sini,"
Rey memperkenalkan Kikan. "Ini Kikan istriku,"
" Hallo nyonya Stinson aku Johan fuller." sapanya ramah sambil mengulurkan tangan.
" Senang berkenalan dengan anda," ujar Kikan sambil menerima uluran tangan tuan Johan.
"Aku suka dengan kejutan. Aku tidak percaya kau sudah menikah Rey, banyak isu yang beredar bahwa kau belum siap menikah. Karena dari sekian banyak wanita, tak ada yang berhasil menarik minatmu."
"Mungkin aku menunggu orang yang tepat," jawab Rey.
" Kami sudah kenal sejak duduk di bangku SMA." ujar Kikan.
" Kikan adalah cinta pertamaku, dan sekarang telah menjadi cinta sejatiku." Jawab Rey sambil memandang istrinya. Sontak saja jawaban Rey membuat wajah Kikan memerah.
Tuan Johan tertawa mendengarnya. "Pantas saja." ujarnya.
Perasaan Kikan menjadi lebih ringan, karena sambutan baik tuan rumah, dan keseluruhan acara berjalan lancar, Rey mengenalkan Kikan ke lingkungan teman-temannya. Kecuali dengan adanya kehadiran Cindy, teman kencan Rey di danau biru dulu.
"Kenapa Cindy bisa ikut dalam acara ini?" tanya Kikan.
"Kau tahu, kau terdengar seperti istri yang sedang cemburu? Apakah kau sedang cemburu, Luv? Aku menganggapnya sangat menyenangkan, mengingat semua itu membuktikan kau mencintaiku."
__ADS_1
"Jangan mulai tertawa terlalu cepat karena aku sama sekali tidak seperti itu."
"Tidak?" tanya Rey.
Rey tersenyum senang ke arah Kikan, menggodanya sepanjang malam.
Kegembiraan Rey membuat kikan kesal, tapi tidak ada kemarahan di dalamnya, ia begitu mempercayai Rey. Hanya saja ia teringat saat Cindy duduk di pangkuan Rey di pesta ulang tahunnya. Emosi Kikan jadi naik turun seperti sekarang.
Rey memiringkan kepala sedikit, karena Kikan memalingkan wajahnya karena emosi. "Apakah kau menantangku untuk menciummu sekarang? Agar aku dapat membuktikan pada Cindy kaulah satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku yakin kau menantangku!"
Mata Kikan kembali beralih ke Rey, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain mendengus mendengar perkataan Rey yang tidak masuk akal. Mata Rey tampak berkilat, tidak diragukan lagi ia sedang menahan tawa. Apa yang dilakukan Rey! Tidak mungkin Rey serius. Tapi, Rey menggesekkan pipi pria itu ke pipinya, tepat ditengah orang banyak.
"Rey...?" seru Kikan kaget.
"Apa...?"
Seharusnya, ia tidak boleh meleleh karena sentuhan yang tak terduga itu. Apakah ia memang ditakdirkan untuk tidak bisa menolak pesona Rey. Rey memajukan badannya, ia langsung menjauh, saat pikirannya masih bisa berpikir untuk melakukannya. Tapi, Rey tak membiarkannya. Bahkan, Rey bergerak semakin dekat, mulut Rey mengejar mulutnya, sampai sama sekali tidak ada ketidaksengajaan dalam ciuman itu! Ia meronta, meskipun syarafnya terasa bergelenyar. Rey menciumnya lebih dalam. Dengan cepat, ia merasa tidak lagi peduli dengan penolakannya sendiri.
Tapi, dengan putus asa, kikan berhasil melepaskan pagutan mulut mereka untuk berkata, "Kau akan menyebabkan skandal!"
"Aku yakin itu sebanding dengan apa yang kudapatkan," ujar Rey lembut di telinga Kikan. "Tapi, ciuman tadi hanya akan menimbulkan kehebohan kecil dan bisa sangat dimaklumi, karena semua orang sudah tahu kita sudah menikah."
Kikan menggeleng melihat tingkah Rey.
"Kenapa?"
Kikan membenamkan wajah didada bidang Rey. "Kau membuat aku malu," ujarnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Rey membawanya berkeliling. Rey mulai mendatangi setiap orang di sekeliling ruangan itu, tidak ada satupun yang terlewat. Dari satu kelompok ke kelompok lain, Rey berhenti untuk mengenalkan Kikan sebagai istrinya, Rey melakukan pengenalan singkat, seolah pria itu bangga dengan keberadaannya. Membuat kikan merasa canggung namun berbunga-bunga.