Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 30


__ADS_3

Setelah selesai makan, Kikan menanyakan keberadaan anaknya Jason. "Dimana Jason?" tanyanya.


"Ada kerja kelompok," kata Rey, berusaha bersikap dingin. Dan menekan rasa ketertarikan yang timbul, sehingga Kikan tidak akan pernah menduganya.


Rasanya tak mungkin Rey tertarik lagi pada Kikan. Tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia memang tertarik. Ketegaran dan semangat patang menyerah Kikan yang menjadi daya pikat wanita mungil itu. Sehingga Rey merasakan perasaan yang sama seperti dulu lagi.


"Kau sudah pasti pulang dan membantu Jason kalau tidak harus membetulkan pintu itu."


Saat ini Rey sedang membantu Kikan memperbaiki salah satu pintu di tempat tinggalnya. Mencoba memalu paku ke lubang tengah engsel.


"Jason mengerjakan sendiri tugas sekolahnya tanpa perlu kubantu belakangan ini." Jawab Rey


"Dia anak yang hebat. Aku harap dia tak terlalu kecewa dengan kejadian pagi ini." ujar Kikan


"Dia menghawatirkanmu"


"Sedikit jatuh tidak perlu dipermasalahkan."


Sedikit jatuh... Dari sudut pandang Kikan, barangkali itu sedikit jatuh. Seperti yang dikatakannya, Kikan sudah pernah mengalami yang jauh lebih buruk. Rey dapat memastikan hal itu, ketika ia memandang bekas luka di bahunya.


Begitu selesai memperbaiki pintu, Kikan mengajak Rey untuk melihat-lihat kamar yang telah disediakannya untuk Jason. Rey mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencatat dalam hati, betapa rapi Kikan menumpuk barang di sudut, tidak ada lemari pakaian disana, tapi Kikan meletakkan meja berlaci di kamar Jason. Hal kecil itu tidak terlewat dari perhatian Rey. Tampaknya Jason juga punya tempat tidur yang lebih nyaman.


Rey melihat Kikan sedang menunggu dengan penuh harap, penilaiannya pada kamar Jason. "Kamarnya tampak bersih dan nyaman" kata Rey.


"Trims." jawab Kikan sambil tersenyum.


"Apakah kau menjual gelang, untuk mengumpulkan uang?" Rey mencoba bertanya.


Kikan tampak kaget mendengar pertanyaan Rey. "Itu usaha kecil yang aku mulai saat di penjara. Aku tak tahu bagaimana jadinya nanti."


"Sepertinya usaha itu cukup berhasil."


"Lebih baik dari yang kuduga" ujar Kikan, mengakui dengan senyuman malu.


"Bagaimana kau bisa terjun di bidang itu?"


"Mereka memberi kursus berkarya dengan kulit ketika dipenjara. Aku ikut dan... membuatnya dalam beberapa jenis yang disukai wanita lain dan ingin dibeli mereka. Jadi aku menjualnya, mendapat uang, lalu membeli lebih banyak bahan. Selanjutnya aku menjual lagi begitu seterusnya. Ada seorang sipir yang sangat menyukai gelang-gelangku. Setelah membeli beberapa gelang untuk hadiah, dia meminta izinku untuk memajang gelang-gelang itu di salah satu online shop. Aku berbagi hasil dengannya, karena aku tak dapat melakukannya sendiri. dan itulah yang membuatku punya uang yang sebagian besar kukirimkan kepadamu."


Rey merasakan dadanya perih karena diingatkan seperti itu. Uang itu ternyata pengorbanan yang cukup besar, padahal selama ini ia tidak benar-benar membutuhkannya. Hampir semua uang itu masih ada dalam tabungan untuk dana kuliah Jason. Sebenarnya Jason tahu Kikan sesekali mengiriminya uang, tetapi dia tak tahu bahwa ayahnya tidak banyak menggunakannya.


"Sekarang setelah kau bebas.... Apakah itu jadi murni bisnismu sendiri?" Rey berharap sipir itu tak lagi mendapat bagian.

__ADS_1


Kikan menggangguk. "Begitulah perjanjian kami."


"Bagus. jadi, pembelinya membayarmu langsung?


"Benar, dan langsung masuk ke rekeningku. hasilnya tak banyak, tapi..... itu sangat berarti."


"Mengapa kau tak memberi tahu Jason bahwa gelang yang kau berikan kepadanya buatanmu?"


"Tidak ada alasan," kata Kikan. Tapi Rey tahu bahwa itu bohong. Kikan pasti takut Jason menolaknya atau dia tak ingin Jason merasa wajib menerima hadiahnya.


Kikan berusaha keras untuk tidak mengharapkan orang lain mencintainya, Rey sadar akan itu.


"Terima kasih karena.... sudah datang untuk menolongku lagi," ujar Kikan.


Kalau Kikan meminta maaf sekali lagi atas kerepotan yang menurutnya dia timbulkan pada Rey. Mungkin Rey akan menjadi kesal. "Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku tidak keberatan."


Rey menghampiri Kikan, tetapi semakin ia mendekat Kikan semakin menjauh,


"Kubilang pada Jason dia boleh mampir kalau sudah selesai kerja kelompok, jadi sebaiknya kau bersiap-siap."


Kikan tampak menegang. "Jason akan datang ke sini?" Tanya Kikan.


Kepanikan dalam suaranya mengagetkan Rey. "Kemana lagi?" ucap Rey.


"Dia tidak akan menilaimu sama sekali," Kata Rey, tapi berkat ibunya, sepanjang hidupnya Kikan selalu dinilai orang. Rey tahu ia takkan mampu meyakinkan Kikan.


"Kamarnya belum siap," lanjut Kikan. "Aku ingin memperbaiki beberapa perabot yang ada di sini. Dan mengecatnya. Juga membersihkan bagian luar rumah." Kikan menoleh dua kali ke pelapis dinding yang belum selesai dilepasnya ternyata sudah tidak ada. "Apa yang terjadi dengan....Apa kau yang menyelesaikannya?"


Rey mengangkat bahu. "Tidak memakan waktu lama." ucapnya


"Terima kasih. Kertas pelapis dinding itu benar-benar susah dilepas." Kata Kikan


"Itulah gunanya alat pengikis." ujar Rey


"Apalagi yang kau lakukan?" tanya Kikan.


Rey menyebutkan pekerjaan yang dilakukannya tadi, tapi Kikan tampak tidak begitu senang. "Kau tidak perlu melakukan semua itu."


"Tak ada lagi yang bisa ku kerjakan tadi." Jawab Rey


"Tetap saja....."

__ADS_1


"Bukan masalah besar. Jadi kau ingin bagaimana dengan Jason? Apa kau ingin aku menyuruhnya agar tidak perlu datang?"


Kikan menggigit-gigit bibir bawah, tampak khawatir." Kalau kau tidak keberatan, aku ingin segalanya sempurna sebelum dia melihat semua ini."


Rey langsung bereaksi melihat ekspresi Kikan yang serius. "Tentu saja."


Ketegangan di tubuh Kikan mengendur karena lega. "Terima kasih." Ucapnya.


"Kalau begitu ayo kita mulai sekarang" Kata Rey dengan bersemangat.


"Baiklah. Aku akan ke kamar sebentar mencari sarung tangan kerja" ujar Kikan


Selama Kikan di kamar, Rey memeriksa mangkuk sup dan puas melihat Kikan Sudah makan cukup banyak. dia pasti sangat kelaparan....


" Kikan!" seseorang berteriak memanggil


Rey tak dapat melihat ibu Kikan, tapi Rey dapat mendengar suara teriakannya dengan jelas. "Dimana kau? Dimana makan siangku? Apa kau berniat membiarkanku kelaparan disini?"


Kikan tidak menjawab, tapi Rey yakin ia mendengar, semua jendela terbuka. Kalau Rey boleh menebak, menurutnya Kikan enggan balas berteriak dari kejauhan seperti ibunya.


Rey membayangkan Kikan sedang di dalam kamar tidur, berusaha bergegas. Tetapi Kikan bisa saja mengalami geger otak, dengan lima jahitan, dan Rey merasa seharusnya Kikan dibiarkan beristirahat.


Sambil berkata pada diri sendiri agar membawa lebih banyak makanan besok, Rey meraih sup yang tersisa dan berjalan tegap menuju tempat tinggal ibunya, dengan membawa sup itu. "Ini." ujar Rey. "Kikan menyuruhku memberimu sup ini untuk makan siang. Dia bermaksud membawakannya tapi dia terlalu sibuk dengan pesanan gelang."


Mata bu Lis seolah meloncat keluar ketika dia mengenali Rey. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya bu Lis, seolah ada setan yang muncul di pintu rumahnya. "Jangan katakan kau tidur dengan anak perempuanku lagi! Tentu dia tidak sebodoh itu."


Terdengar langkah kaki menapaki tanah dan Kikan muncul berlari-lari mendekati ibunya. "Aku akan mengurus Ibuku. Jangan khawatir"


"Apa dia melakukan itu padamu?" Desak Ibu Kikan begitu melihat goresan, dan jahitan di dahi anaknya.


Kikan berusaha berdiri di tengah mereka. Tetapi dia terhuyung dan tangannya memegang kepala seolah akan pingsan.


Rey meraih lengannya agar Kikan tidak jatuh. "Kau seharusnya tidak keluar."


Kikan tidak memedulikan Rey tetapi juga tidak menarik tangan seperti yang biasanya dia lakukan. Semenjak tadi di dalam rumah, Kikan tidak membiarkan Rey berada dalam jarak setengah meter darinya, buktinya ada pada cara Kikan berjalan melewatinya ketika di lorong. tapi Rey tahu kepala Kikan pening dan dia butuh bantuan. Namun perhatian Kikan sepenuhnya terpusat pada sang ibu.


"Tidak, dia tidak menyakitiku." Katanya, berjuang melawan efek yang timbul karena bergerak begitu cepat dengan kondisinya sekarang.


Kikan dengan gugup menjelaskan. "Tadi Rey mengantarku pulang naik mobilnya. itu saja"


"Lalu kau membiarkan dia menaiki mu?" tukas Ibu Lis. Sepertinya tujuh belas tahun mendekam di penjara tidak mengejarimu apa akibat dari merentangkan kaki untuk bocah Stinson yang manja itu, ya?"

__ADS_1


Rey menatap barang ke arah ibu Kikan. "Cukup" geramnya, "Aku tak peduli apa pendapatmu tentang aku. Tapi hati-hati kalau bicara pada anakmu."


"Oh, benar juga. Kau satu-satunya yang boleh memperlakukan dia seperti sampah," Kata Bu Lis sambil tertawa kecil, lalu membalikkan punggungnya dengan sombong.


__ADS_2