Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 22


__ADS_3

Kikan senang merasakan angin yang meniup rambutnya, sementara mobil melaju. Kadang-kadang agak cepat tapi tidak terlalu cepat sehingga ia tak perlu angkat suara. Ia lega menyadari itu. Keterampilan mengendarai mobil Jason cukup baik. "Untuk anak seusiamu kau cukup andal mengendarai mobil." Kata Kikan.


"Cukup oke, bukan?" Cengiran sombong yang ditunjukkan Jason membuat Kikan tertawa. Kemudian anak itu pun ikut tertawa.


kemudian Jason membawa mereka ke wilayah berlumpur di luar kota untuk menikmati off road. Kikan berpegangan pada sabuk pengamannya. tetapi Jason tidak terlalu gila-gilaan, jadi Kikan masih bisa menikmati. saat mereka kembali ke jalan aspal, perutnya terasa sakit karena terlalu banyak tertawa, dan ia berharap memiliki cukup uang untuk menawari Jason membeli bensin, mungkin minggu depan pikirnya. Kalau ia mendapatkan pesanan gelang cukup banyak. Kikan menjual hampir semua gelangnya, dan Ia mempertimbangkan untuk menambah beberapa model baru. Dan berusaha mengumpulkan uang.


"Kau pengemudi yang hebat" katanya.


Kikan menduga Jason mengucapkan terima kasih padanya. ketika tidak mendengarnya, Kikan menoleh dan melihat putranya tengah memperhatikan kaca spion dengan ekspresi khawatir.


" Ada apa?" tanyanya." jangan bilang yang kita lakukan tadi melanggar hukum." kalau Jason kena tilang ketika sedang bersamanya, Rey tidak akan senang. Pria itu sangat khawatir dengan pengaruh apapun yang akan Kikan berikan pada anaknya.


Jason tidak juga menjawab. Dia hanya mengganti gigi dan melaju dengan cepat, jadi Kikan berbalik untuk melihat sendiri.


Tidak ada mobil polisi yang mengikuti mereka, tetapi ada orang yang mengemudi begitu dekat di belakang mereka sehingga ia khawatir mereka akan bertabrakan.


" Ada apa?" ulangnya. "Kenapa orang itu berusaha menabrak kita?"


Rahang Jason mengencang. "Itu bukan orang biasa itu Logan."


Rasa takut menyebar ke sekujur tubuh kita, menghapus segala tawa dan kegembiraan yang dirasakan sebelumnya. "Kakak dari Lori?"


" Yeah." Jason berkata dari segala kertakan gigi. Tetapi Kikan dapat mengenali pengemudi di belakang mereka sekarang. Bahkan dengan pandangan terbatas melalui jendela depan Jeep itu. Logan telah banyak berubah. Dari yang dapat ditangkap mata, pria itu sekarang membiarkan janggutnya tumbuh lebat.


" Berhenti Jas." kata Kikan.


" Itu bukan ide bagus" anak itu menyahut.

__ADS_1


" Kenapa ?" seru Tristan. "Dia mau menabrak kita?"


Perhatian Kikan terlalu terfokus pada anaknya sehingga tidak bisa menjelaskan. "Kau harus membiarkan aku turun."


" Tidak akan." Kata Jason. "Itulah yang dia inginkan. Supaya dia bisa berbuat apa saja"


Situasinya terlalu berbahaya, Kikan ngeri membayangkan Jason atau temannya terluka gara-gara dia. "Berhenti sekarang, please!"


Jason mengeryit. Jelas dia sedang berpikir cepat, berusaha memutuskan tindakan terbaik untuk mereka. tetapi Kikan hanya ingin putranya dan Tristan keluar dari situasi ini secepat mungkin. sebelum terjadi sesuatu yang tragis.


Kemudian Logan menabrakkan mobilnya ke bemper belakang mereka, membuat mereka sedikit terlonjak.


" Aku tidak mau kau di tengah semua ini" tegas Kikan. "Lakukan yang kukatakan berhenti sekarang!"


" Tidak" balas Jason, tiba-tiba bersikap keras. Tetapi mereka sudah sampai di kota. Ia harus berhenti di lampu merah, jadi Kikan melepaskan sabuk pengaman dan melompat turun, bahkan tanpa berusaha membawa ransel berisi laptop dan dompetnya.


" Pergilah!" Kikan balas berteriak, "Pulang!"


.


.


********


.


.

__ADS_1


Rey baru selesai mencuci mobilnya dan bersandar ke meja dapur seraya membuka kaleng minuman dingin. Ketika ponselnya berbunyi. Ia meraih benda itu untuk mengetahui siapa yang menelponnya.


Seperti yang sudah ia duga, itu Jason.


Tepat waktu.. gumamnya. "Hai jas.. , ke mana saja? kupikir kau akan mengantar Tristan pulang dan segera kembali."


" Pa..! Papa harus kesini sekarang.!"


Mendengar suara panik anaknya, Rey meletakkan minumannya dengan keras, membuat botol itu berguling ke lantai. "Apa yang terjadi? Ada yang tidak beres, Jas? Kau baik baik saja?"


"Aku tidak apa-apa, tapi.."


Meskipun Rey tidak yakin kelihatannya Jason menangis, dan itu nyaris membuatnya lumpuh ketakutan. Jason sangat jarang menangis. "Apa kau kecelakaan?" Rey dengan segera menyambar kunci mobil. "Apa kau terluka?"


Jason berdehem, jelas berusaha agar suaranya tidak terdengar gemetaran. "Tidak, tapi Logan melihat kami... Dan dia bertingkah gila. Kelihatannya Logan tidak menabraknya terlalu keras, dan sekarang dia berdarah!"


Jason berbicara dengan sangat cepat, sehingga melewatkan beberapa detail penting. "Dia siapa?"


"Mom."


Kikan? Rey sudah dipintu depan, tapi ketika mendengar ini, ia berenti. Mau tak mau ia merasa dikhianati, seakan mereka sedang mengadakan pertemuan rahasia. "Apa yang kau lakukan dengannya?"


"Kami kebetulan ketemu di Black Coffee, dan aku.. Aku ingin memberinya tumpangan dengan jeep-ku."


Rey dapat dengan mudah membayangkannya. Jason sangat bangga dengan jeep tua itu, tentu saja ia akan menawarkan untuk mengantar pulang, dan tentu saja Kikan tidak akan menolak tawarannya.


Rey mendorong pintu hingga terbuka dan bergegas keluar. "Kau dimana?"

__ADS_1


__ADS_2