Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 33


__ADS_3

Kikan masih kelihatan agak ragu. Apakah ia bisa datang ke pertandingan Jason rabu ini, atau sebaiknya ia hadir di pertandingan berikut saja.


"Topi ide bagus," kata Rey berusaha meyakinkan. "Cuaca sekarang panas sekali."


"Akan kulihat apa yang dapat kulakukan," kata Kikan ketika mereka melangkah ke pintu depan.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu jam 14.30"


Kikan menyambar lengan Rey ketika ia melangkah keluar, lalu mendadak melepasnya seolah menyadari dirinya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. "Tunggu, apa maksudmu? menjemputku untuk apa?"


"Pertandingan itu. Apalagi?" Jawab Rey.


"Aku tidak berharap dijemput, aku bisa pergi ke sana sendiri. Tidak perlu dijemput." Kata Kikan.


"Tentu saja perlu."


"Tidak, tidak perlu! aku bisa melakukannya dengan caraku. Aku ingat punya sepeda di luar sini." Kikan menunjuk tempat Rey sudah mengambil sepedanya. "Apa kau kebetulan pernah melihatnya?"


Rey berpikir untuk mengingkari tetapi tak ingin membuat Kikan punya alasan untuk menelepon Devan. "Ada di tempat temanku"


"Tempat temanmu?"


"Apa kau ingat dengan Nanda, temanku waktu di sekolah dulu?"


Kikan mengangguk.


"Dia punya toko sepeda di kota."


"Jadi?"


"Dia sedang memperbaikinya."


"Bagaimana? maksudmu.... kau membawa sepedaku ke tokonya?"


"Itu karena kau memerlukan transportasi untuk pergi ke sana kemari."


Raut muka Kikan mengeras. "Tapi aku tidak ingin kau yang menyediakannya."


Rey menarik nafas dalam. "Jangan biarkan harga diri menghalangimu dari apapun yang kau butuhkan, Kikan. .."

__ADS_1


"Harga diri? yang tersisa dariku hanyalah rasa hormat pada diri sendiri. Kau juga ingin mengambilnya?"


Mendadak merasa tak nyaman, dan merasa lebih bertanggung jawab daripada sebelumnya karena telah ikut ambil bagian dalam urusan Kikan. Rey menggeser kaki. "Aku tak pernah bermaksud begitu."


"Bagus." Kikan mengangkat dagu. "Karena aku dapat pergi sendiri. Aku tidak membutuhkan bantuanmu."


Rey terpikir untuk menyebutkan betapa Kikan amat bersyukur atas kebaikan hati Devan tetapi khawatir kalau menyebut itu, Kikan akan mengembalikan semua barang yang telah mereka beli. "Baiklah," katanya sambil mengangkat bahu.


"Itu artinya tak ada lagi makanan," Kikan berkeras, dan menatap tajam ke arah Rey.


"Tak ada apa-apa lagi. Dan biarkan sepedamu di toko sampai selesai diperbaiki." Kata Rey.


"Aku tidak peduli, aku tidak ingin dikasihani." ujar Kikan.


"Nandan temanku, dia memperbaikinya dengan gratis. ini bukan rasa kasihan. ini...''


"Apa?" tuntut Kikan. "Kenapa kau ingin menolongku?"


Untuk mengurangi rasa bersalah yang mendera karena membiarkan orang tuanya menyuruh untuk memutuskan hubungan mereka, dan karena tidak bersikap lebih baik selama Kikan dalam penjara.


Ada masa-masa ketika Rey tergoda untuk mengubah keputusan, memberikan surat-surat Kikan kepada Jason. Tapi setelah meyakinkan diri sendiri bahwa Kikan mempunyai terlalu banyak kekurangan dalam karakternya, Rey tidak dapat melakukan itu.


Saat ini Rey memiliki lebih banyak perasaan bersalah. "Maafkan aku sudah menyakitimu."


Kikan bersikap tak acuh. "Pada usia itu..."


"Jangan membuat alasan untukku," Rey menyela. "Aku tahu apa itu cinta, dan dulu aku mencintaimu."


Rey tidak menunggu tanggapan Kikan. Ia tidak meminta Kikan memaafkannya. Mungkin itu terlalu berlebihan. Meski begitu, Ia benar-benar ingin Kikan tahu bahwa Kikan tidak gila karena mempercayai hatinya sendiri.


Kikan melangkah ke tangga depan dan langkah itu menarik perhatian Rey ketika ia hendak masuk ke mobil. Kikan tetap diam, bahkan tidak melambai.


Namun dia tersenyum, dan mau tak mau Rey membalas senyumnya.


...☆☆☆☆☆☆☆...


Ketika Devan datang dipertandingan Jason, dia mengenakan gelang kulit yang Kikan buatkan untuknya, Rey berusaha tidak membiarkan itu mengganggunya, tetapi ia menyadari matanya berkali-kali melirik gelang tersebut.


"Dia belum datang?"

__ADS_1


"Siapa?" tanya Rey, berpura-pura Kikan tak ada dalam benaknya sedetik pun sejak wanita itu kembali.


"Kau tahu siapa. Ibu Jason."


"Belum."


Devan berkacak pinggang. "Mungkin aku harus ke tempatnya, untuk melihat siapa tahu dia perlu dijemput."


"Aku sudah mengembalikan sepedanya tadi malam." Karena hari sudah larut, dan semua lampu sudah padam, Rey meninggalkan sepeda itu di samping trailer, tempat ia menemukannya sebelumnya. ketika mereka membawakan pakaian dan makanan untuk Kikan. Rey juga meninggalkan sebuah topi untuknya, kalau kalau Kikan belum mendapatkan topi untuk menyembunyikan jahitannya.


Devan terus mencari-cari di kerumunan. "Rumahnya cukup jauh." Katanya.


"Tidak sejauh itu, kalau ia menggunakan sepedanya. Aku yakin dia akan segera datang." Rey tak ingin Devan menjemput Kikan apalagi Kikan tidak mau dijemput olehnya.


Devan tampak tidak suka dengan reaksi Rey. tapi dia duduk dan meletakkan kaki di bangku di bawah mereka. "Butuh keberanian untuk datang kemari, terutama naik sepeda."


"Tidak ada salahnya naik sepeda." Kata Rey.


"Kalau kau melakukannya agar tetap sehat atau demi lingkungan, memang tidak. Tapi naik sepeda karena kau mantan narapidana dan tidak punya transportasi yang lebih baik, itu hanya membuat orang menemukan sesuatu yang lain untuk meremehkan dirimu." Ucap Devan.


"Orang-orang di kota ini merasa seolah mereka sudah punya cukup banyak alasan untuk meremehkannya."


"Itulah sebabnya Aku khawatir. Aku tidak suka membayangkan semua orang menuding dan memandanginya." Jelas Devan.


"Dia bahkan belum di sini, Van.."


"Kalau dia datang."


"Dia akan baik-baik saja. Dia hanya ingin melihat Jason main." Kata Rey.


"Jadi dia akan memberanikan diri. Aku mengerti. Dia berani menghadapi banyak hal, tapi yang ini tidak akan mudah."


Rey memandang temannya dengan tajam. Ia tak suka mendengar Devan begitu mengkhawatirkan Kikan. Karena hanya ia dan Devan dalam lingkar pertemanan mereka yang belum menikah. Tak satupun dari mereka sudah bertemu dengan wanita yang tepat. Rey curiga sebenarnya Devan diam-diam menyukai Kikan, tetapi Rey tidak akan membiarkan Devan mulai berpikir bahwa Kikan mungkin wanita yang tepat itu. "Jangan mengkhawatirkan dia, Bro."


Devan membalas dengan menatap tidak senang ke arah Rey. Dia jelas merasa komentar itu tidak perlu, tetapi Rey tak menarik ucapannya. Ia berpura-pura asik menonton putranya melakukan pemanasan. "Oh, itu dia." kata Devan.


Rey mengikuti arah pandangan Devan dan melihat Kikan memilih untuk duduk di pojokan, agar tidak menarik perhatian. Tak lama berselang orang tuanya muncul dari sisi kiri Tribun. orang tua Rey selalu datang kalau situasi memungkinkan. Sekarang setelah pensiun, setengah dari seluruh pertandingan Jason selalu mereka hadir. Tetapi dia berharap mereka tidak akan datang kali ini. Ia tidak memberitahu mereka jadwal pertandingan Jason kali ini, juga tidak memberitahu bahwa Jason mengundang ibunya.


"Halo!" Ibu Rey mendekat ke arah mereka. Rey meraih tangan sang Ibu dan membantunya duduk. Ia melakukan itu ketika ayahnya menyapa orang tua dari anak lain dalam tim. Tetapi dia sulit menunjukkan reaksi senang ketika bertemu dengan orang tuanya. Kikan sudah cukup banyak menghadapi banyak kesulitan, hal terakhir yang dibutuhkannya saat ini adalah berhadapan dengan orang tua Rey.

__ADS_1


__ADS_2