
Kikan menghabiskan tiga hari terakhir ini dengan membuat gelang. Ia punya begitu banyak pesanan untuk diselesaikan. Ia juga bangun pagi untuk membersihkan trailer dan memasak makanan sehat untuk ibunya, pada malam hari dia datang ke kantor Devan untuk mengecek pesanan-pesanan lain, berhubungan dengan para pembeli, dan membungkus barang-barang yang sudah ia selesaikan. Dan untungnya Devan cukup baik untuk memperbolehkan paket-paket itu dikirim dengan alamat kantor Devan, itu saja sangat menghemat waktu Kikan. Sekarang ia tak perlu lagi naik sepeda ke kota untuk menggunakan internet atau untuk mengirim barang.
Pada jumat larut malam, Devan datang dan melihat Kikan masih menggunakan salah satu komputernya.
"Wow, sudah hampir jam 21.00," kata Devan "Kukira kau sudah pulang dan lupa mematikan lampu."
" Tidak, maaf aku sedang banyak pesanan. Tapi aku hampir selesai. Aku harus pulang dan membuat tiga gelang lagi."
" Malam ini? ini akhir pekan. kau tidak ingin bersenang-senang?"
" Aku mengajak Jason sarapan, dan itu menyenangkan." Jason belum memberitahu apakah ayahnya akan bergabung bersama mereka, tetapi Kikan sudah memberitahu anaknya bahwa dia boleh mengajak Rey.
" Anakmu bermain bagus sekali tadi malam."
Perasaan hangat mengalir ke tubuh Kikan. Jason telah mengirim SMS padanya tentang ini, berkata bahwa dia menyerang tim lawan, mencetak angka dan mereka menang. Kikan menyesal telah melewatkannya. Ia bisa meninggalkan pekerjaannya untuk itu. Tidak ada yang lebih penting baginya selain Jason. Tetapi ia tidak ingin mengecewakan kakek nenek Jason atau siapapun dengan kembali datang, mengingat itu pertandingan di kandang.
Kikan berjanji untuk datang pada pertandingan berikutnya, acaranya akan berlangsung di luar kota pada hari selasa. Sekarang Ia hanya perlu mencari cara agar bisa ke sana. Membutuhkan waktu enam puluh menit naik mobil. Jason telah mengatakan ayahnya akan senang jika Kikan mau menumpang, tapi ia tidak bisa membayangkan menghabiskan waktu sebanyak itu berduaan dengan Rey. Ia belum melihat atau kontak dengan Rey semenjak pria itu berkelahi dengan Logan. Yang Kikan tahu, Rey marah karena menyeretnya dalam masalah itu, meskipun Kikan tidak mengharapkan, atau memintanya melakukan apa yang telah dilakukannya.
" Aku sangat bangga pada Jason." Kikan mengirimkan email terakhirnya dan berpaling pada Devan. "Kau tidak akan pergi ke pertandingan berikutnya?"
" Yang diadakan selasa ini? Tidak aku ada rapat yang belum akan berakhir ketika pertandingannya dimulai, dan lokasinya jauh. tidak sepadan dengan perjalanan ke sana."
Kikan menggangguk.
" Kenapa? ada apa?" tanya Devan.
" Tidak," kata Kikan. "Hanya penasaran"
" Kau perlu pinjam kendaraan? Aku punya pikap lama yang dipakai mandor ku. Kau bisa pakai jika mau."
" Terima kasih, tapi aku tidak punya SIM."
" Rey akan ikut." ujar Devan.
__ADS_1
" Ya. Mungkin aku akan pergi bersamanya" gumam Kikan.
Devan tentu mendengar nada sarkasme itu karena dia menatap Kikan dengan lebih tajam. "Dia tidak akan keberatan. Aku yakin dia akan suka."
" Tentu saja dia akan suka," kata Kikan sambil tertawa.
" Benar." ucap Devan.
Devan tentu saja tidak tahu. "Itu akan menciptakan gosip di seluruh kota." Kata Kikan.
" Tidak juga. kau kan Ibu dari anaknya."
" Aku akan mempertimbangkan itu."
" Bagaimana dengan usahamu?" tanya Devan ketika Kikan mengambil barang-barangnya.
" Sedang laris. Aku tidak tahu kenapa, tapi gelang-gelangku sepertinya laku di kalangan anak muda, aku sampai kesulitan memenuhi semua pesanan, Tapi itu bagus, karena aku butuh uang. Dan sekarang aku bisa ikut menyumbang dalam pengasuhan Jason. Rey selalu harus menanggung semuanya, jadi aku senang bisa menjadi mitra yang baik sekarang."
" Kau baik sekali," kata Devan sambil tersenyum.
" Terima kasih. Aku akan segera pulang jadi kau bisa menguncinya."
" Aku akan pergi minum di luar dengan beberapa teman malam ini jika kau mau bergabung." Devan malah mengangkat tangan "Jangan khawatir, ini bukan kencan. hanya tawaran dari teman."
" Siapa lagi yang datang?" tanya Kikan
" Rey dan teman-teman satu geng."
Kikan memutar bola mata. "Rey tak ingin aku masuk ke lingkungan teman-temannya."
" Dia tak ingin kau dekat dengan teman prianya yang masih lajang, yaitu aku." ucap Devan.
Dengan tertawa, Kikan berjalan keluar sambil mendekati Devan. "Terima kasih, tapi aku rasa tidak akan ikut. Selamat bersenang-senang."
__ADS_1
" Baiklah." jawab Devan "Besok sabtu, jadi karyawanku libur. Tapi aku bisa meninggalkan kunci di bawah tanaman di depan pintu jika kau merasa butuh komputer."
" Jika kau tidak keberatan. aku akan sangat berterima kasih."
" Tidak masalah, aku akan membuatkan kunci duplikat untukmu besok ketika aku ke kota."
dengan senyum dan anggukankan, Kikan melangkah ke jalan luar, tetapi Devan memanggilnya.
" Boleh aku mengantarmu pulang sambil aku pergi ke dessero?"
" Dessero arahnya berlawanan dengan jalan pulang," kata Kikan.
" Tidak apa-apa. hanya butuh beberapa menit dan ini akan membuatku merasa seperti gentlemen."
" Kalau begitu, aku yang justru menolongmu?" kata Kikan menggoda.
Devan tertawa. "Jika memang itu yang harus kau yakini agar setuju."
Hari sudah gelap dan tak ada lampu jalan yang menyala di daerah tempat tinggal Kikan. Kikan melakukan perjalanan ini tiga kali seminggu. tidak membutuhkan waktu lama, tetapi....
" Oke," kata Kikan, lalu mempersilahkan Devan menaruh sepedanya di belakang pick up.
Tetapi begitu sampai di rumah dan Devan telah pulang, Kikan merasa kesulitan untuk fokus membuat gelang. Tangannya lelah, punggungnya sakit. Dan ia terus memikirkan ajakan Devan ke dessero. Ia belum pernah pergi ke tempat sejauh itu semenjak keluar dari penjara, dan ia belum terlalu dewasa untuk jalan-jalan sebelum ditahan.
Hanya duduk di suatu tempat sambil mendengarkan musik dan minum minuman dingin, kedengarannya menyenangkan. mungkin Kikan bisa mengendarai sepedanya, menyelinap, dan mencari sudut yang nyaman. tempat ia bisa menyaksikan segala kegembiraan itu.
☆☆☆☆☆☆☆
.
Kekhawatiran yang pertama adalah apakah ia akan bertemu Logan di sini. Kikan tidak mungkin berada di tempat di mana Logan juga ada di sana. Karena begitu melihat Kikan, pria itu akan mulai membuat ulah.
Tapi setelah mengamati sekeliling pinggiran bar yang penuh itu, Ia merasa aman. Ia bahkan tak melihat Devan dan teman-temannya. Kikan melihat jam, hampir tengah malam. Butuh waktu lama baginya untuk memutuskan dan siap pergi, mereka pasti sudah pulang. Kikan cukup merasa lega.
__ADS_1
Ada alasan lain untuk merasa lega, kata Kikan pada diri sendiri sambil meluruskan gaun cantik yang diberikan Devan untuknya. Kikan tidak ingin dianggap mengikuti Rey kemanapun pria itu pergi.
Mendadak senang karena telah memutuskan untuk menikmati petualangan ini. Kikan duduk di sudut, Ia tak mengharapkan banyak hal malam ini. Kikan hanya ingin melihat seperti apa rasanya berada di sini.