Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 25


__ADS_3

Dokter Harris mengambil peralatannya ke sebuah ruangan. "Jahitannya tidak akan lebih dari beberapa detik" kata dokter itu, begitu ia kembali.


Kikan ingin melanjutkan argumennya, tapi mereka berdua jelas- jelas bersatu melawannya, kalau tidak, dokter itu tidak mungkin berkeras menjahit lukanya.


Setelah selesai, Dokter Harris meminta Rey untuk berbicara sebentar berdua saja dengannya. Lalu mereka pergi ke ruang tamu, tempat mereka berbicara dengan suara begitu pelan sehingga Kikan tak bisa mendengarnya. Ya tuhan, ia benci sekali ini. Kejadiannya benar-benar bertentangan dengan semua janjinya sendiri ketika keluar dari penjara. Ia tidak ingin memberi Rey alasan apapun untuk mengeluh tentang dirinya, atau merasa tidak senang dengan keberadaannya di kota. Tidak ingin memaksa pria itu mengeluarkan uang atau membuatnya susah. Ia cuma tidak ingin berurusan dengan Rey dan hanya ingin berdamai dengan pria itu.


Kikan memutuskan ia harus memikirkan cara untuk membayar jasa sang dokter. Hanya itulah tindakan bermartabat yang bisa dilakukannya. Namun saat ini ia akan membiarkan Rey membayarkannya terlebih dulu. Begitu kikan memiliki cukup uang ia dapat segera menggantinya.


Rey mengantarkan Kikan pulang. Untung saja anjing ibunya tidak berada diluar ketika mereka memasuki pekarangan, tetapi semua sampah yang membuat Kikan malu tetap teronggok disana dan dilihat Rey. Kikan benci sekali karena tidak mungkin Rey tidak melihatnya.


Dokter telah memberinya anestesi lokal ketika menjahit lukanya dan beberapa pil untuk meredakan rasa sakit. Kerena kepalanya sudah tidak berdentum dentum lagi, Kikan mampu turun dari pikap sebelum Rey sempat mengitari mobil untuk membukakannya pintu.


"Terima kasih banyak atas bantuanmu," katanya ketika berjalan melewati pria itu. "Aku tidak tahu bagaimana kau mengatur pembayaran dengan dokter itu, tapi aku akan menghargai kalau kau mau mengirimkan tagihannya kepadaku. Aku mungkin harus membayar beberapa tagihan lain, tapi aku bisa mengatasinya nanti. Dan aku akan membelikanmu kaus baru juga." Kikan telah mengembalikan kaus Rey, tapi kaus itu kini menggumpal di lantai mobil. Begitu basah terkena darah, sehingga Rey tak bisa menggunakannya.


Menyadari bahwa Rey mungkin tak ingin menyentuh kaus itu, dengan adanya peringatan tentang bahaya dari darah seperti yang banyak diberitakan belakangan ini, Kikan kembali menaiki pikap dan mengulurkan tangan ke dalam. "Ini, aku akan... Membuang kaus ini supaya kau tidak harus.."


Rey menangkap lengan Kikan. "Biarkan saja."


Kikan melakukan yang disuruh kalau-kalau Rey berencana menyimpannya. Mungkin itu kaus kesayangannya. "Aku sudah dites AIDS dan penyakit - penyakit menular lainnya sebelum dibebaskan, dan aku bersih."


"Senang mengetahuinya," kata Rey, tapi tidak terdengar terlalu peduli. "Ayo kuantar masuk."


Rey berkeras memapahnya ke trailer. Kikan menyesal karena belum selesai membetulkan trailer. Ia sudah bekerja sekeras mungkin, tetapi perbaikan lainnya membutuhkan uang yang tidak dimilikinya.

__ADS_1


Rey memegangi pintu sementara Kikan melangkah masuk. "Kau perlu istirahat, seperti kata dokter" katanya


"Aku akan langsung tidur." sambil mengantisipasi kelegaan yang akan ia rasakan ketika merangkak ke tempat tidur, dan berusaha melupakan penghinaan setelah membiarkan Rey menyelamatkan dirinya, Kikan berbalik untuk mengucapkan selamat jalan. Tetapi Rey tidak berhenti di tangga. Kikan terpaksa mundur karena pria itu mengikutinya masuk ke rumah.


"Dia juga bilang kau tidak cukup makan," kata Rey dengan kening berkerut.


Kenapa Rey masuk ke ruang tamunya? Kikan tidak menginginkan dia disini. Tempat ini belum terlihat cukup memadai. Ia berencana membereskannya hingga tampak pantas sebelum Rey datang untuk memeriksanya." Badanku memang tidak terlalu besar."


"Kurang gizi tidak sama dengan badan kecil."


Mengapa mereka membicarakan tentang pola makannya? Itu bukan urusan mereka. "Yah, kau tahu apa kata orang tentang makanan di penjara." Kikan mengatakan itu seakan sedang bercanda, tetapi ia memang sengaja makan sedikit mungkin. Makanan ditangani oleh para narapidana lain.


"Dia juga bilang seharusnya ada orang yang membangunkanmu setiap beberapa jam sekali."


"Kita belum tahu," kata Rey. "Lebih baik waspada daripada menyesal nanti."


"Oke." Kikan berdiri di pintu. Mungkin sekarang Rey akan pergi dan Kikan bisa berhenti menahan diri dari meliriknya. Lapar yang dirasakannya lebih erat kaitannya dengan sentuhan fisik daripada makanan.


"Oke apa?" Tanya Rey.


"Aku akan... Aku akan hati-hati."


"Aku tanya siapa yang akan membangunkanmu."

__ADS_1


"Ibuku, tentu saja." Kikan menunjuk kerumah ibunya. "Dia tinggal disana."


Rey mengerutkan kening lagi. "Tapi tidak pernah keluar."


Ibu Lis merasa lebih aman kalau tidak dilihat orang.


"Dia akan memeriksaku," tetapi itu kebohongan. Ia bahkan tak berencana memberitahu ibunya tentang apa yang terjadi. Ia akan tidur siang. Lalu dia akan memulihkan diri cukup lama agar dapat membuat beberapa gelang sehingga ia bisa membayar tagihan dokter.


" Kau yakin? " kata Rey.


Kikan berusaha menguatkan suara, berharap ia dapat meyakinkan Rey. "Sangat yakin. Pulanglah, aku yakin Jason bertanya-tanya kau ada dimana."


Rey tampak tersinggung karena Kikan begitu tergesa-gesa mengusirnya. "Dengar, aku tahu kau tidak terlalu suka padaku, dan aku tidak menyalahkanmu. Kau mengalami penderitaan hebat dan semua itu ada kaitannya denganku. Tapi... aku tidak ingin memperburuk keadaan. Aku hanya berusaha membantu."


"Karena kau mengira aku butuh dibantu padahal tidak," sahut Kikan. "Dan aku tidak tahu apa yang membuatmu mengira bahwa aku tidak menyukaimu, padahal aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan untuk Jason. Dan kau ayah yang luar biasa."


"Terima kasih atas pujiannya." gumam Rey.


Berkat obat penghilang sakit yang diberikan dokter. Sakit kepala Kikan sudah hilang, tetapi pikirannya belum benar-benar jernih. Kikan tahu itu karena ia memandang dada Rey bahkan tanpa berusaha menahan diri. Yang lebih buruk, ia Ingin sekali menyentuhnya.. menyentuh Rey. "Kau bilang apa?"


"Entah aku ayah yang baik atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan apa yang baru aku kukatakan."


"Tentu saja ada." Kikan membantah, berusaha keras agar pikirannya tetap utuh. "Penting untuk kau ketahui betapa aku menghargai usahamu.... Semua yang telah kau lakukan membuat hidup Jason begitu bahagia. Dia anak yang hebat. Dan sekarang kau bersimpati padaku karena aku ibunya. Tapi itu bukan beban yang harus kau bawa-bawa. Aku tidak selemah yang kau lihat. Perban ini hanya membuatku kelihatan menyedihkan."

__ADS_1


Kikan tertawa meskipun Rey tidak ikut tertawa bersamanya." Intinya aku bukan orang yang perlu kau pedulikan. Dan sekedar untuk membuatmu tenang, karena kita tidak punya kesempatan untuk mendiskusikannya, setidaknya sebagai orang dewasa yang kulakukan sebelumnya benar-benar sangat mengganggu. Jangan mengira itu akan terjadi lagi. Jujur saja, itu tidak lebih dari sikap Gadis sekolah kasmaran berat sampai kelewat batas." Obat pereda sakit itu membuat Kikan mencerocos tanpa rasa sungkan.


__ADS_2