Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 7


__ADS_3

Meskipun tidak diajak bicara secara langsung, Rey menambahkan komentar di sana - sini untuk mendukung perkataan Jason. Setiap kali itu terjadi, Kikan akan tersenyum sopan ke arah Rey untuk menghargai komentarnya, tapi perhatian Kikan terus terpaku kepada anak mereka, dan itu membuat situasi mereka nyaman. Sampai tagihan datang, saat itu Kikan terpaksa menegur Rey, karena berusaha merebut kertas tagihan dari sudut meja.


Untunglah, Kikan berhasil merebutnya lebih dahulu. Ia tak mau membiarkan Rey membelikannya makanan, membelikannya apapun. Ini masalah harga diri, meski harga diri yang masih dimilikinya begitu kecil. Saat mengundang mereka, Kikan menambahkan bahwa ia yang akan membayar makanan mereka. Kerena jika tidak, mungkin Rey akan percaya Kikan mencarinya untuk mendapatkan sesuatu darinya, selain izin untuk menemui Jason. Padahal sama sekali bukan seperti itu.


"Aku tidak keberatan," kata Rey, seakan tidak yakin harus mendesak atau tidak sementara Kikan mengeluarkan uang.


Bahkan dengan tip yang harus diberikan, uang Kikan masih cukup, syukurlah... "Aku yang traktir, tapi aku menghargai tawaranmu," ucapnya tegas.


Setelah selesai membayar, Kikan berjalan beriringan untuk keluar dari kafe tersebut.


"Sarapannya enak," kata Jason.

__ADS_1


Harapan dan kebahagiaan menyerbu Kikan, ketika melihat Jason tampak senang dengan pertemuan mereka. Jalan yang terbentang di depan mereka tidak akan berjalan mulus, tapi Kikan berhasil menjalani sarapan pertamanya bersama Jason tanpa harus merasa hancur berantakan. Mungkin ia terbantu karena selama ini telah mengalami banyak kekecewaan. Ia berharap pertemuan mereka berikutnya akan lebih mudah lagi. Dan begitu seterusnya, ia harus memulai.


"Aku senang kau suka," katanya.


Meskipun Kikan telah jalan berlamban lamban agar bisa berjalan di belakang, Jason dan Rey menunggunya untuk mendahului mereka. Kikan tidak punya kendaraan, dan itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke lahan tanah kering yang diwarisi ibunya dari orang tuanya.


Begitu mereka sudah diluar kafe, Kikan melangkah minggir sehingga mereka bisa melewatinya dan berjalan kearah parkiran. "Terima kasih sudah menemuiku."


Rey menyipitkan mata dari cahaya matahari yang mulai meninggi, dan melihat sekitar. Seakan bertanya, dan mencari kendaraan yang digunakan Kikan. "Kau pulang naik apa?"


"Apa yang sudah kau atasi?"

__ADS_1


"Bukankah kita sedang membicarakan pulang?"


"Kalau begitu ada yang menjemputmu?" Kapan mereka akan sampai? Apa kau perlu memakai ponselku? "


Sekarang setelah merasa terdesak, Kikan harus mengatakan yang sebenarnya. Ia tak memerlukan ponsel yang ditawarkan, karena tidak ada orang yang akan ditelponnya. "Tidak perlu merepotkan siapa pun. Hari ini cuaca cerah, aku Ingin pulang berjalan kaki."


Rey melirik sendal tali yang digunakan Kikan. "Kau bisa sampai rumah dengan sendal seperti itu?"


Kikan tersenyum canggung, "Aku tadi bisa sampai kesini," jawab nya. "Sandal ini lumayan nyaman." benar atau tidak itu tidak penting. Hanya sendal itu yang ia miliki.


Rey tampak tidak yakin, tapi Kikan melambaikan tangan dan berbalik hendak pergi, pria itupun mulai berjalan menuju pikap. Jason lah yang memanggilnya.

__ADS_1


"Mom?"


Jantung Kikan berdentam dengan keras dalam dada. Jason belum pernah memanggilnya dengan sebutkan apapun, apalagi Mom. Kikan tak berharap akan mendengar anak itu menggunakan panggilan tersebut, tidak secepat ini, terutama karena ia telah mengizinkannya Jason untuk memanggilnya apapun yang membuatnya nyaman. "Ya?" Semoga saja suaranya tak terdengar terlalu tercekik di telinga Jason sebagaimana ia sendiri mendengarnya.


__ADS_2