
"Mestinya kita memakai pengacara," Kata Rey. "Aku berharap kita mengajak pengacara dalam pertemuan hari ini, tapi aku terlalu khawatir bagaimana kau akan diperlakukan dan fakta bahwa aku tidak punya bukti kuat. Sampai hal itu tak terlintas di benakku." Rey menggeleng-geleng. "Bahkan jika kita merekam percakapan di ponselku begitu masuk ke sana, kita setidaknya akan punya bukti tentang apa yang telah diakuinya."
"Kita punya saksi. Orang tuamu tidak akan berbohong, bukan?" ujar Kikan.
"Tidak, tapi aku yakin keluarga Lori akan memilih tutup mulut. Mereka begitu yakin kau bersalah, jadi sangat memalukan kalau semua orang tahu betapa kelirunya mereka. Untungnya, meskipun ibuku sangat sayang pada sahabatnya itu, dia lebih sayang padaku. Kita bisa mengandalkan dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya."
"Kalau begitu itu sudah cukup bagiku," kata Kikan. "Sebaiknya kita tidak membuang-buang waktu untuk bertengkar lagi. Aku pernah mendengar tentang mantan narapidana yang menggugat ganti rugi. Tapi itu tidak mudah dilakukan, meskipun kita bisa membuat Via mengulangi apa yang dia pernah katakan hari ini, mereka akan menyanggah bahwa ingatan bisa salah. Bahwa dia dipaksa atau apalah. Pasti banyak sekali hal yang harus kita lakukan. Bahkan, mungkin kita akan menghabiskan lebih banyak uang untuk upaya itu daripada yang akan kita terima."
" Tapi selama ini tragedi tersebut telah merugikan pihakmu. Merenggut tujuh belas tahun masa hidupmu! Dan bagaimana dengan pembersihan nama? Apakah itu tidak penting untukmu?" tanya Rey.
" Aku mungkin akan berusaha sampai batas tertentu. Aku hanya belum mau mengurusnya sekarang, tidak ketika orang-orang yang paling berarti untukku mengetahui kebenarannya. Aku hanya ingin melupakan semua nya dan mulai dari awal lagi. Selain itu, bukan sistemnya yang merugikan ku. Tapi kejujuran dari satu orang. Tidak ada sistem yang dapat menggantikan ketiadaan kejujuran."
" Kau serius?" tanya Rey.
" Sangat. Paling tidak, itu sudah berlalu. Setidaknya kau tahu yang sebenarnya, dan begitu pula keluargamu. Itu sudah lebih dari yang berani kuharapkan sejak sekian lama. Dan ada begitu banyak hal lain yang kuharapkan ke depan."
" Bersamaku dan Jason... itu cukup?"
" Apalagi yang dapat ku minta?" Kikan merasa dirinya lebih ringan dari udara. Ia akan dapat berjalan ke seluruh penjuru kota kecil mereka dengan kepala tegak. Ia tidak perlu takut dengan keluarga Lori atau menerima kebencian mereka yang telah menyerangnya dengan begitu gencar sebelumnya. Ia bisa datang ke pertandingan Jason tanpa ragu dan merasa anaknya tak punya alasan untuk malu akan dirinya. "Aku tidak akan pernah lupa betapa malunya keluarga Lori setelah Via mengungkapkan semuanya, dan betapa menyesalnya orang tuamu."
__ADS_1
" Mereka keliru, dan sekarang mereka mengetahuinya." Rey menautkan jari mereka berdua. "Jadi bagaimana menurutmu?"
Kikan mengamati wajah Rey sementara pria itu menyetir. Ada gelagat yang menunjukkan dia ingin membawa percakapan itu ke arah yang berbeda, tetapi Kikan tidak tahu ke arah mana. "Tentang apa?"
Rey meringis. "Bukankah sekarang waktunya kau membuatkan aku gelang?"
♪
Rey tak sabar menunggu untuk memberitahu Jason tentang apa yang terjadi dengan Via, dan ia tahu Kikan lebih bersemangat lagi. Wanita itu terus-menerus meremas tangannya dan memindah-pindahkan bobot tubuh dari satu kaki ke kaki lainnya sementara mereka berdiri menunggu di luar kafe dan memandangi Jason memarkir mobil di parkiran. Jason tahu mereka bahagia berkat sesuatu, karena mereka memandangnya dengan sangat antusias. Tapi Jason tak tahu apa yang akan mereka katakan padanya.
" Hai!" sapa Jason. Sepatu Jason berbunyi di jalan masuk ketika dia mendekat. Jason datang langsung dari tempat latihan basket, dan bertanya apakah sebaiknya dia mampir di rumah dan mandi dulu tapi mereka terlalu bersemangat untuk bertemu dengannya.
Jason melirik Rey, sementara ia menerima pelukan ibunya, tampak agak ragu-ragu, dan Rey mengedipkan mata untuk mengatakan bahwa dia tak perlu khawatir.
" Kami bertemu Via hari ini," Kikan berbicara sambil tersenyum ketika sudah melepas pelukan anaknya.
" Dan?" Jason terdengar lebih ragu-ragu lagi.
" Akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya." Rey angkat suara karena air mata Kikan sudah berderai lagi, dan dia terus-menerus menyeka wajah. "Dia mengaku dialah yang menyebabkan kematian Lori." ujar Rey.
__ADS_1
" Apakah ini sungguh-sungguh? Kalian tidak bercanda kan?" Jason nyaris berteriak karena begitu gembira, yang menarik perhatian sekelompok orang yang lewat. Tetapi Rey bahkan ingin menyerukannya ke seluruh dunia, dan ia yakin Kikan juga punya perasaan yang sama.
Sambil tersenyum dan berurai air mata, Kikan menggeleng-geleng dan Jason merengkuhnya lagi ke dalam pelukan. "Mom apakah Mom tahu apa artinya ini?"
Kikan tertawa sementara Jason mengayunnya berputar-putar. "Itu berarti kau tidak perlu lagi bertanya-tanya tentang aku atau merasa seakan mempercayai kemungkinan yang terburuk," katanya.
" Kami selalu percaya padamu Mom, bukankah begitu pah?" ujar Jason. "Orang sepertimu tidak mungkin bisa berbuat begitu!"
Melihat Jason memeluk ibunya dengan lega dan bahagia membuat Rey ikut emosional. Ia khawatir suaranya akan pecah, jadi Rey berdehem untuk menyembunyikan emosi dan mengangguk, bukannya bersuara.
" Apakah Nenek dan kakekku juga ikut mendengarnya? tanya Jason, sambil menurunkan Kikan.
" Ya, " jawab Kikan. "Keluarga Lori juga mendengarnya, dan kita semua berutang pada ayahmu, dialah yang membuat Via mengaku bahwa dia yang merebut setir."
" Bagaimana Papa melakukannya?" tanya Jason.
Rey sudah cukup pulih sehingga bisa berbicara tanpa kehilangan kontrol, Jadi ia menyela sebelum Kikan mengisahkan kembali pengalaman mereka. "Ayo masuk dulu, dan kami akan menceritakan ditailnya di dalam."
" Ini hebat sekali!" Jason memberitahu Kikan. Kikan terrsenyum lebih lebar daripada yang pernah Rey lihat.
__ADS_1
"Rasanya lega sekali bisa bebas... benar-benar bebas, pada akhirnya." ucap Kikan, lalu menyelipkan badan ke bawah lengan Rey ketika mereka berjalan masuk ke kafe.