Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 55


__ADS_3

Logan sedang duduk di depan meja dapur dengan tangan kanan yang dibalut gips ketika Rey datang. Dari kabar yang beredar di kota, Logan mengatakan itu bukan akibat perkelahian mereka, padahal mestinya begitu. Rey ingat ia berhasil menghindari pukulan yang akhirnya mendarat pada dinding bata di belakangnya. Dari suara yang keluar dari mulut Logan ketika itu, dan wajahnya yang pucat pasi, tentu saat itu tangannya patah. Logan hanya tak ingin semua orang tahu bahwa dia yang paling menderita gara-gara perkelahian kecil mereka. Itu akan merusak citranya sebagai pria tangguh, bahwa seorang pria yang badannya kecil dan kurang pengalaman dalam berkelahi bisa lolos darinya tanpa luka berarti.


Tetapi tangan patah itulah yang mungkin membuat Rey selamat. Logan jelas tak sanggup melayangkan tinjunya setelah itu.


" Trims sudah mau datang, Rey." ekspresi wajah Ibu Logan lebih dingin daripada yang pernah dilihatnya sebelum ini, dan garis mulutnya yang kaku menunjukkan wanita itu sama marahnya terhadap Rey sebagaimana Logan. Bu Rini hanya berusaha menampilkan sikap sopan.


" Tidak masalah." Kata Rey. "Maafkan karena aku... aku membuat semua orang jadi susah."


" Hai Nak," ibunya ada di sana, duduk di sofa bersama ayahnya, yang juga menyapanya. Helen bergeser ke tengah, dan menepuk-nebut tempat di sebelahnya. "Ayo duduk di sini bersama kami."


Ayah Logan pria yang tak banyak bicara, seperti ayah Rey. Rey jauh lebih menyukai ayah Logan daripada ibunya yang emosional. Dan berharap ia masih tetap menyukai pria itu setelah malam ini.


" Mau kuambilkan minuman?" kakak perempuan Lori dan suaminya ada di situ juga, bersama dua anak mereka, yang masih duduk di bangku SMP. Rey tidak setuju anak-anak dilibatkan dalam masalah ini. Menurutnya, ini urusan orang dewasa. Kikan juga tak perlu diganggu oleh generasi berikutnya. Tetapi keluarga Lori beranggapan bahwa mereka akan mendiskusikan tentang ancaman publik, jadi mereka punya pandangan yang sangat berbeda mengenai Kikan.


" Tidak untukku," kata Rey. "Tapi terima kasih."


Ibu Logan duduk di ujung kursi di samping suaminya, dan menggunakan remote untuk mematikan TV. kesunyian mendadak itu terasa mencekam, dengan begitu banyak ketegangan di udara.


" Aku menyesal kau merasa perlu berkelahi dengan Logan di kedai kopi." Katanya. "Maukah kau ceritakan pada kami apa yang membuatmu memukulnya?"


Rey mengingatkan diri sendiri bahwa mereka orang-orang baik, bukan hanya sahabat ibunya, melainkan juga anggota masyarakat yang sudah lama dikenal dan dikaguminya. Mereka tidak akan bertindak dengan cara yang begitu tidak masuk akal jika tidak merasa punya alasan yang kuat, jika bukan karena masih belum merelakan anggota keluarga yang mereka anggap telah direnggut maut akibat tindakan jahat disengaja seseorang. Rey punya peran besar pada penderitaan dan kehilangan mereka, tetapi mengenal kembali Kikan sekarang telah menyadarkan Rey bahwa situasinya tidak sehitam putih yang mereka kira.

__ADS_1


" Logan pasti memancing kemarahan Rey," ibunya menyelipkan kalimat pembelaan itu sebelum Rey bisa menjawab.


Rey baru berada di sini selama lima menit, dan adegan yang muncul adalah seorang ibu membela anaknya melawan Ibu lain yang juga membela anaknya. Ia tak ingin menjadi biang keladi perseteruan di antara mereka, tetapi.... harus ada seseorang yang melindungi Kikan. "Dia mengganggu seorang wanita. Bukan hanya itu, yang menyebabkan wanita itu menjatuhkan satu-satunya benda berharga yang dimilikinya."


" Dia bukan sembarang wanita, dia pembunuh adikku," kata Logan. "Jadi jangan berharap kami akan kasihan padanya. Dan aku hanya berusaha berbicara dengannya. Yang terjadi pada laptop Itu bukan kesalahanku."


Langsung panas mendengar kebohongan ini, Rey sudah siap menjawab ketika ibu Logan mengangkat tangan, menyiratkan agar membiarkannya berbicara lebih dulu, "Logan semestinya tidak mengikuti wanita itu ke kamar mandi," katanya. "Kami mengakui itu, tapi kau tahu apa yang dialaminya. Kau tahu apa yang telah dilakukan Kikan terhadap keluarga kami. kau tidak bisa mengerti bagaimana kesedihan dan kemarahan kadang-kadang menguasai akal sehat? Tak bisakah kau membiarkan orang lain, yang tak punya hubungan terlalu dekat dengan keluarga kami membantu wanita itu?"


" Bisa kalau ada orang lain yang bersedia maju," Rey menjawab. "Tapi aku tidak menemukan satu orang pun, selain Ibu Kikan dan beberapa temanku yang mau berpihak padanya. Ibu Lis bukan pembela yang bisa diharapkan. Maaf jika terpaksa aku yang maju, tapi aku tidak akan membiarkan Logan atau yang lain menyiksa Kikan. Itu tidak akan mengembalikan Lori. Dan Kikan telah menjalani hukuman selama tujuh belas tahun atas kejadian itu. Dia menyatakan dirinya tak bersalah. Bagaimana kalau yang dikatakannya itu benar?"


" Tentunya kau tidak serius!" tukas Ibu Logan.


Logan langsung berdiri. "Aku tak pernah sungguh-sungguh melukainya. Ketika aku mengendarai jeepku, waktu melihat ke belakang dan melihatku, dia... ketakutan."


" Karena kau bertindak seakan-akan kau akan menimbulkan kecelakaan! dan jangan bilang sebaliknya. Seperti kataku tadi, anakku ada di sana. Dia menceritakan padaku apa yang terjadi." Bantah Rey.


" Aku cuma iseng!" Seringai Logan, dan juga suaranya menyiratkan seakan Rey telah berpendapat berlebihan. "Dan laptop itu, dia menjatuhkannya sendiri. aku tidak menyentuhnya."


" Kau membuatnya terlepas dari tangan Kikan, padahal itu satu-satunya benda miliknya yang dapat membantunya menjalankan usaha."


" Usaha?" ujar Logan. "Seakan dia bisa kerja saja"

__ADS_1


Rey menduga tidak lama lagi Kikan akan mampu menghasilkan lebih banyak uang daripada Logan, tetapi ia menahan lidah.


" Lagi pula, siapa yang peduli dengan komputer konyol atau usahanya!" tukas Logan. "Dia pembunuh. Kenapa kita tiba-tiba mengurusi apa yang dia miliki atau tidak?"


Rahang Rey menggertak begitu keras sehingga ia kesulitan bicara. "Lebih baik kau tidak mengganggunya, dan juga anakku. Atau kita akan terus berhadapan."


" Logan tidak akan melukai Jason!" ibu Logan berseru seakan-akan dia tersinggung dengan kalimat itu.


" Dia nyaris melukai Jason." Kata-kata itu diucapkan oleh ayah Rey. Rey kaget mendengar ayahnya bersuara meskipun sebenarnya itu tidak mengejutkan. Orang tuanya sangat protektif terhadap Jason sebagaimana dirinya.


Logan memutar bola mata. "Itu omong kosong."


" Apa yang kau bela dalam hal ini Rey?" Lea, kakak Logan ikut berbicara. "Kenapa kau repot-repot membela Kikan? Ia mengecewakanmu, juga orang lain, ketika dia membunuh Lori dan membebanimu dengan anak yang harus kau besarkan sendiri. Berani bertaruh, dia sengaja membuat dirinya hamil, untuk menjebakmu."


" Itu tidak benar!" sahut Rey.


" Bagaimana kau tahu?"


" Karena aku yang menjalani, ingat? Dia bukan gadis yang berusaha merayuku untuk menidurinya. Dia masih perawan ketika aku memacarinya."


Pernyataan itu membuat mereka terenyak, dan mungkin membuat malu Ibu Rey. Helen menutupi wajah dan menggeleng-geleng, tetapi kebenaran tetaplah kebenaran. Kini saatnya menunjukkan pada setiap orang sisi yang lain, hal-hal yang dilakukan Kikan yang membuatnya tampak sangat normal, bukannya gadis remaja yang kehilangan akal karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2