Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 72


__ADS_3

" Dia bilang apa?" tanya Rey.


Eva yang pergi ke dapur menoleh ketika menuang segelas air untuk diri sendiri. "Dia?"


Rey mengerutkan kening. "Jangan pura-pura. kau tahu siapa yang kubicarakan."


" Kikan? Dia bilang kau dan Cindy akan jadi pasangan serasi."


Rey menandaskan minuman kaleng yang di bawanya dan melempar botol itu ke keranjang sampah. "Aku tak percaya mereka berdua di sini. Tadi benar-benar canggung."


" Rey seandainya kau berhasil merebut hati kikan, berdua bersamanya tidak akan mudah. Dia sangat waspada dan ketakutan." kata Eva.


" Mungkin dia memang bersikap seperti itu, tapi aku tak percaya dia membunuh Lori. Aku merasa tolol karena pernah percaya yang sebaliknya."


Eva menyandarkan dirinya ke meja. "Dari semua berita yang kudengar, tidak banyak pertanyaan tentang itu."


" Ada banyak pertanyaan tentang itu. Dan Kikan tidak melakukannya." Rey yakin soal itu, ia merasa keraguan yang dihadapinya selama ini telah membawanya pada kebenaran dan berharap dulu dia mau mendengarkan intuisi sendiri, tujuh belas tahun silam.


" Ya, kelihatannya dia baik," kata Eva. "Benar-benar baik." terdengar nada tulus dalam suaranya.


" Tapi Menurutmu aku seharusnya tak berkencan dengannya."


" Aku tidak mengenalnya cukup baik untuk membuat penilaian. Meski begitu, aku jauh lebih suka dengannya daripada Cindy." Eva membalik badan untuk melihat ke ruang tamu yang sudah gelap.


" Omong-omong... di mana pasangan kencan mu?"


Rey merendahkan suara. "Akhirnya dia pingsan."


" Tapi dia tidak apa-apa kan?" tanya Eva.


" Ya, dia baik-baik saja. Hanya mabuk. Dan aku bersyukur bisa bebas."


" Dia memang... agak kebablasan." Ujar Eva.


" Terlalu kebablasan. Dia beberapa kali berusaha menarik ku ke tempat tidur."


" Bagaimana kau menolaknya?"


" Aku terus mengajaknya ke tengah pesta."

__ADS_1


" Astaga."


" Semoga saja dia sudah mendingan besok pagi. Mungkin tidak sopan, tapi aku berniat memintanya pergi." ucap Rey.


Eva bersandar pada satu tangan. "Bukankah dia datang bersama samantha?"


" Devan boleh mengantar Samantha nanti kalau dia ingin wanita itu tetap di sini,"


" Sebenarnya aku ragu Devan akan keberatan Kalau Samantha pulang." ujar Eva. "Dari yang kulihat Devan menghindarinya sebisa mungkin."


Rey menghampiri kulkas untuk mencari buah yang tadi dimasukkan Kikan ke sana. "Kubilang padanya bahwa dia tidak cukup mengenal wanita itu untuk menghabiskan akhir pekan bersamanya."


Eva mengetuk-ngetuk meja dapur dengan pelan, "Sayang sekali mereka kurang cocok. Kehilangan Olivia tampaknya cukup berat untuknya. Dan dengan kehadiran Olivia bersama Brandon di sini...."


" Samantha bukan orang yang bisa membantu Devan melupakan Olivia," sergah Rey, seraya memasukan beberapa butir anggur ke mulut.


Eva mendesah. "Aku setuju, jadi dimana Samantha sekarang?"


"Pergi tidur. Aku melihatnya beberapa saat lalu, dan dia meminta maaf atas perilaku temannya."


"Itu sikap yang baik, paling tidak." ujar Eva.


"Begitu Simon tidur, dia benar -benar menyerah. Kukira kalau tidak bisa menggoda Simon, dia akan menyambar siapa pun, termasuk lingkaran teman-temannya."


"Kau juga memperhatikannya ya." ujar Rey.


Eva mengangkat bahu. "Aku tidak bisa bilang bahwa aku terkesan olehnya."


Rey ingat betapa cepat Kikan menghilang begitu Cindy masuk ke kamar tidur. "Jadi menurutmu. Aku tidak punya kesempatan dengan Kikan?"


"Semua yang pernah dideritanya telah mengubahnya aku khawatir tentang itu." Ujar Eva.


"Aku juga. Tapi.... " Rey mengerutkan kening saat melihat kepalan tangannya. "Penderitaannya justru mengubahnya lebih baik. Bagaimanapun tak ada yang bisa mencegah ku menginginkan dirinya."


"Kalau begitu jangan melawan perasaanmu, majulah," Ucap Eva berusaha berpikiran terbuka.


"Aku mau, tapi... kau mungkin bisa mengerti kenapa dia mungkin enggan."


"Tentu saja. Aku juga mengerti bahwa orang-orang seperti David, yang memiliki masalah kepercayaan, kadang-kadang dapat pulih.. jika mereka mendapat cukup cinta dan dorongan."

__ADS_1


" Sementara aku orang yang paling tidak dia percaya." Kata Rey.


" Aku tidak bilang begitu. Kau ayah anaknya, Kau baik dan sehat secara emosional maupun fisik. Dan dia peduli padamu. Siapa yang lebih mampu memberinya apa yang dia butuhkan?"


Rey tersenyum mendengarnya.


" Kau suka mendengarnya ya?" tanya Eva.


" Ya." Rey mengaku




Karena Devan menonton film bersama beberapa teman lain, Rey sendirian menggunakan kamar mereka di lantai bawah. Tetapi ia tak betah lama-lama di sana. Ia merasa tidak nyaman berada di tempat tidur kecil itu. Lagi pula banyak sekali yang dipikirkannya. Ia tak bisa berhenti memikirkan buku foto buatan Kikan, tak bisa berhenti memikirkan betapa perhatiannya wanita itu. Ia merasa tak enak karena menyadari Kikan telah menghimpun keberanian demi bisa jauh-jauh ke tempat ini, bahkan menyewa mobil beserta sopirnya untuk mengantar, hanya untuk menerima kejutan yang sangat mengecewakan.


Rey ingin sebentar saja bersama Kikan, empat mata, agar bisa mengucapkan terima kasih atas hadiah yang di bawanya. Ia juga ingin menegaskan pada Kikan bahwa ia tidak tidur dengan Cindy. Ketika mereka duduk di sekitar api unggun, Ia pergi hanya karena Cindy terus mengerayanginya. Kalau tidak, Rey tidak akan meninggalkan Kikan, tidak akan pernah, ketika wanita itu merasa dia berada di tempat yang tak semestinya.


" Mau ke mana?" Devan menoleh dari layar TV ketika Rey berjalan melewatinya.


" Ambil minum." sahut Rey.


Devan tahu pasti itu tidak benar, karena dia bangkit dari sofa dan menyerahkan sesuatu ke tangan Rey. Rey tak bisa melihat benda apa itu karena ruangan gelap, tapi tekstur lembutnya cukup Rey kenali sebagai pelindung.


" Kalau kalau kau tidak bawa," bisik Devan.


" Aku memang tidak menyiapkannya," jawab Rey. "Tapi aku sama sekali tidak butuh ini. Aku hanya ingin bicara dengannya, tak mungkin dia membiarkanku menyentuhnya sedikitpun."


" Tapi membawanya juga tidak akan merugikan siapapun," gumam Devan, kemudian kembali menonton film.




Airnya dingin sekali. Kikan tahu semestinya Ia tidak berenang di danau, tidak sendirian dan tidak pada tengah malam. Ia bahkan tidak mengenakan pakaian yang pantas, Kikan terpaksa menggunakan bra dan ****** ***** saja, karena tak punya baju renang. Tadi Kikan menemukan balkon kecil dan anak tangga di depan kamarnya di dekat garasi, dengan jalan kecil yang mengarah ke danau. Bagaimanapun, ia harus melakukan sesuatu untuk mengendalikan pikiran dan hasrat yang menyerangnya dari segala penjuru.


Setelah tujuh belas tahun, Ia sudah bisa menerima bahwa Rey tak pernah mencintainya. Kikan pulang dengan rencana membangun kehidupan yang tidak melibatkan pria itu, kecuali dalam peran yang selalu dimainkannya sebagai ayah Jason. Dan sekarang Rey menginginkannya kembali?


Itu mustahil. Bahkan jika itu benar, mereka tidak punya kesempatan. Tidak di dunia yang mereka kenal, dunia di luar pondok yang sangat indah ini.

__ADS_1


Yang jadi masalah, tubuh Kikan tampaknya tidak menerima pesan itu. Ia tak dapat berhenti memikirkan Rey, tak sanggup berhenti mendambakan sentuhannya. Malam ini rasanya seperti semacam tarian pada musim kawin.


__ADS_2