Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 45


__ADS_3

Kikan berdehem sambil berusaha menahan kenangan-kenangan yang dengan cepat bermunculan karena kata-kata Rey.


"Aku tidak melihat ketika kau datang." kata Kikan berbicara untuk menghalau arus gambaran-gambaran sensual dulu.


"Bagus kan?"


"Kenapa bagus?" tanya Kikan.


"Karena kau mungkin tidak akan tinggal lama."


"Aku tidak menyalahkanmu." ucap Kikan.


"Itu katamu." kata Rey.


"Kau tidak percaya padaku?


"Kau merinding ketika aku mendekat" jawab Rey.


"Aku mencoba menjaga jarak. Aku tidak ingin kau merasa seolah...."


"Seolah kau masih menginginkanku. Kita sudah melewati ini. Kau belum. Bahkan sedikitpun belum. Tapi apakah kau harus membuktikannya dengan berdansa berjauhan?" tanya Rey.


"Aku tidak menjauh." jawab Kikan.


"Kau terlihat begitu, kau sangat terganggu berdekatan denganku"


Kikan punya alasan sendiri, tetapi ia tak ingin terdengar menuduh. "Aku tidak terganggu, aku baik-baik saja."


Rey tertawa. "Kau bisa lebih baik."


Kikan khawatir dengan arah percakapan ini. "Aku tadi tidak melihatmu di sekitar sini" tanyanya.


"Kapan?"


"Sebelumnya."


"Aku pergi sebentar." Jawab Rey.

__ADS_1


"kau pergi ke mana?"


"Aku pergi bersama Devan dan beberapa temanku, tapi mereka lelah dan ingin pulang. lalu sub kontraktor yang kadang bekerja denganku, menelpon dan ingin mengajakku keluar."


Ketika lagu sudah selesai, Rey belum pergi meskipun Kikan berusaha menjauh. "Sekali lagi," Kata Rey pada Kikan ketika lagu dari Pink 'A million dream' dimulai.


Ketika kikan melingkarkan lengan ke leher Rey lagi, ia berharap kebal dari sentuhan pria itu seperti yang seharusnya. Tapi Rey membangkitkan hormon dalam dirinya sehingga ia merasa mabuk.


Tahan sebentar, ini hanya dua atau tiga menit lagi. dan selanjutnya ia bisa menjaga jarak diantara mereka dan memperbaiki pertahanan dirinya. "Dimana Jason malam ini?"


"Dirumah, tidur. "


Pikirkan yang lain- yang lain selain dia. "kau tidak kerja besok?"


" Tidak pagi-pagi. Aku bekerja siang."


Rey mencoba menempelkan Kikan ke tubuhnya dan mengerutkan dahi ketika Kikan menolak. "Kau berdansa seperti robot," Kata Rey. "Maukah kau berhenti memusuhi ku?"


Rey terlihat puas ketika Kikan mengalah. Kikan merasa jantungnya berdetak cepat, dan dia bisa mendengarnya di telinga sendiri ketika Rey menempelkan tubuh mereka. Dan mendadak Kikan tak bisa berpikir untuk mengucapkan sesuatu. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kehangatan dan kekukuhan tubuh Rey.


Ia harus tetap mengendalikan diri, harus tetap menolak selama itu menyangkut Rey. "bertahanlah....."


" Kau bilang apa?" tanya Rey


Kikan tidak menyadari ia berbicara keras. "Tidak apa-apa." kata Kikan.


Rey mengangkat dagu Kikan, sehingga Kikan mau tak mau memandangnya. "Kau tahu aku menyesal kan?"


"Rey, kita berdansa terlalu dekat. Orang akan melihat kita dan beranggapan yang bukan bukan. Mereka bahkan akan memberitahu orang tuamu dan kau akan bertengkar lagi dengan mereka seperti kejadian di stadion."


" Aku tidak akan membiarkan orang tuaku mendikte caraku menjalani hidup. Kita bukan anak belasan tahun lagi, Kikan."


" Apa maksudmu?" tanya Kikan.


" Artinya kau harus berhenti mengkhawatirkan orang lain."


" Aku harus mengkhawatirkan orang lain. Sepertinya kau lupa bahwa kau membuat dirimu rentan terhadap kritik, celaan, dan kebencian."

__ADS_1


" Aku tidak takut." Kata Rey.


Kikan memandang ke sekeliling bar. "Kau akan takut jika tahu rasanya. Bersama denganku bisa bisa membuat seisi Kota ini berpaling darimu. Jika ada Jason bersamamu, mereka mungkin paham kenapa kau bicara denganku. Tapi kau harus menjaga jarak ketika dia tidak ada."


" Bagaimana jika aku tidak mau menjaga jarak?" tanya Rey.


Kikan tidak dapat meyakinkan Rey jika sedang begini. Tentu saja, saat ini tidak ada yang mempengaruhi selain alkohol, musik dan perasaan bisa melakukan apapun dan bebas dari konsekuensinya.


" Kau mabuk. Kau tidak serius." Ucap Kikan.


" Mungkin ini yang paling kuinginkan."


" Kau hanya bicara omong kosong." Bantah Kikan


Rey menyentuh dagu Kikan lagi. "Tolong katakan, apakah kau mau memaafkan aku?"


" Karena kau putus denganku ketika kita masih sekolah dulu? hal ini tidak berarti apa-apa jika aku bisa pergi semudah yang bisa kau lakukan." ucap Kikan.


" Tapi kau tetap setia pada hatimu. Perasaanmu."


" Lalu? kau jauh lebih berarti bagiku daripada aku bagimu. kau tidak bisa mengelak fakta itu." kata Kikan dengan suara muram.


" Aku mendengarkan orang-orang yang salah, Kikan aku mencintaimu. Aku ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu."


Sialan! semudah itu Kikan merasa begitu gugup. Ia sangat ingin mendengar Rey mengucapkan kata-kata itu sejak lama, ingin agar Rey mengatakan bahwa ia tidak sendirian dalam hubungan mereka, seperti yang terlihat pada akhirnya. Semua orang memperlakukannya seperti orang bodoh karena berpikir Rey masih peduli padanya.


Hal ini lebih dari pemulihan nama baik. ini... mengundang hasrat lama yang kembali melahapnya. Hasrat yang sama dengan yang membuat masa lalunya masih tetap di dalam dirinya, monster yang menyelinap di balik bayangan, kemanapun ia berusaha membunuhnya.


" Terima kasih." Kikan berhenti berbicara dan berharap dia juga melakukannya. Ia takut apa yang akan dikatakan Rey selanjutnya dan bagaimana ia akan menanggapinya. Kikan tak bisa berhenti mengkhawatirkan masa lalu atau mencoba menghidupkannya kembali. Ia harus fokus pada keadaan sekarang dan saat ini ia punya alasan untuk melawan yang ia rasakan.


" Baumu enak sekali," bisik Rey. Lalu tubuh mereka semakin dekat, dan Kikan benar-benar lepas kendali, tenggelam dalam momen bersama Rey dan lirik lagu yang menyedihkan ini. "Pernahkah kau berharap malam takkan pernah berakhir..."


Kikan mengharapkan itu sekarang, Dan itu sebabnya ia akhirnya mendorong Rey menjauh. Pria itu membuatnya menginginkan hal-hal yang tidak bisa ia miliki.


Tidak ada alasan untuk membuatnya menderita lagi. Tidak ada alasan ia harus membiarkan kelemahannya pada satu pria ini mematahkan hatinya lagi.


" Sudah larut. Aku harus pergi," kata Kikan dan segera menuju pintu keluar tanpa memberi Rey kesempatan untuk menjawab.

__ADS_1


__ADS_2