Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 29


__ADS_3

Begitu Rey keluar dari ruang kerja. Kikan terkesiap, "Apa yang kau lakukan disini" tanyanya


Rey bergerak canggung, dan mengusap wajah dengan satu tangan. "Maaf Kupikir kau tahu. Aku datang beberapa jam lalu untuk memeriksamu, aku bicara denganmu dan kau menyahut. Aku sudah keluar masuk dan memalu ini- itu dan sebagainya ....."


Kikan tak ingat apapun. Ia hanya ingat dirinya jatuh ke tempat tidur. "Memalu?" ucapan itu menarik perhatiannya, karena ia tak menduga Rey akan berkata begitu. Mengapa Rey memalu dirumahnya?


Rey mengangkat bahu. "Mungkin aku ingin membuat diriku berguna."


"Dengan..."


"Melakukan sedikit perbaikan sementara aku ada disini."


Apakah Rey benar-benar harus melihat bagaimana kehidupannya? Semoga saja Kikan tak meminta bantuannya ketika masih setengah sadar tadi, tentu saja ia tak bermaksud begitu. "Bagaimana kau tahu harus mulai dari mana?" Tanyanya, seolah Kikan bersikap cuek, walau menyadari ia tampak begitu menyedihkan di mata Rey.


"Melepas kertas pelapis itu bagian yang sulit," Kata Rey. "Masih banyak yang perlu dilakukan. Tapi aku tidak bekerja diam-diam, itu sebabnya kupikir kehadiranku tidak akan mengejutkan."


"Aku tak menduga akan bertemu denganmu lagi." Kikan menjelaskan. "maksudku... tidak hari ini. Aku sedang mempersiapkan kamar untuk Jason, kalau-kalau kau sesekali mengizinkannya untuk menginap pada akhir pekan di sini. Aku tadinya ingin kau datang dan memeriksanya kalau aku sudah selesai, tapi.... kamar itu sama sekali belum siap."


"Kamar yang di sana?" Rey menoleh ke arah Ujung. "Itu untuk Jason?"


"Hanya kalau kau mengizinkan, tentunya. Aku berharap dia akan berkunjung sesekali.. itu saja. tidak ada.... tidak ada yang akan membuatmu gusar atau mengancam hubunganmu dengan Jason."


Cara Rey mengamatinya membuat Kikan bertanya-tanya apakah ia seharusnya diam saja.


"Tahu tidak, aku tidak selalu berpikir buruk," kata Rey.


Kikan menggeleng. "Bukannya aku menuduhmu. Aku hanya ingin memperjelas maksudku supaya kau dapat.... mulai percaya padaku... sedikit."

__ADS_1


"Sepertinya kau juga bisa lebih percaya padaku. ngomong-ngomong, aku membawakan sup untukmu, dapatkah kita tetap bicara sementara kau makan?."


Semangkok sup? ketika keluar dari penjara, Kikan sudah mempersiapkan diri untuk tidak memedulikan sikap Rey yang meremehkannya, sudah bertekad untuk membalas kekasaran sekalipun dengan kebaikan. Itu satu-satunya cara yang menurut Kikan dapat ia gunakan untuk membangun hubungan dengan Jason. tetapi Rey jauh lebih baik daripada dugaannya, dan ia tak tahu bagaimana menghadapi kebaikan seperti itu, "Kau tidak perlu melakukannya, tapi aku menghargai sikapmu. Aku tak ingin kau berpikir bahwa aku sedang berupaya mendekatimu lagi."


"Wajahmu yang tampak khawatir sudah menunjukkan padaku bahwa itu tidak dibuat-buat"


Suara Rey sedikit serak membuat Kikan bertanya-tanya apa persisnya yang berkecamuk dalam benak pria itu. Dia tidak terdengar lega, seperti yang disangka Kikan. Tetapi tampaknya Rey memang percaya padanya, jadi Kikan tak mempermasalahkannya lagi. "Terima kasih atas pengertianmu. Mungkin aku sudah mengatakannya padamu, tapi kalau belum, aku tak punya niat apa-apa terhadapmu, tidak ada perasaan yang tersisa atau apapun. Kau dan setiap orang lain di kota pastinya bertanya-tanya. Tapi tak usah cemas, kau sepenuhnya aman."


"Sepenuhnya." Ulang Rey, meniru apa yang diucapkan Kikan.


Kikan tak yakin harus bereaksi bagaimana. Bukankah yang ia katakan itu berita bagus? "Ya"


Ekspresi Rey meredup. "Kau tidak akan tidur denganku lagi bahkan kalau aku pria terakhir dibumi. Mengerti. Terima kasih sudah memberitahuku."


Ada sesuatu yang aneh lagi dalam suara Rey. Membuat Kikan bingung, Kikan pikir, ia telah mengatakan yang ingin didengar Rey, yang akan membuat pria itu lega walau telah mengizinkan Kikan kembali dalam kehidupannya. Meskipun hanya demi kepentingan putra mereka. Tapi Rey lebih kelihatan tersinggung daripada lega.


"Bukan berarti aku tidak menganggapmu tidak menarik atau apa," ujar Kikan. "Aku tak bermaksud membuatmu tersinggung."


"Tentu saja tidak. Wanita manapun akan merasa beruntung kalau bersamaku. Wanita manapun kecuali kau. Benar?"


Kikan terkesiap. Entah bagaimana, ini jadi keliru. "Menurutku kau tampan, Rey."


"Ya Tuhan, Kikan." Rey mengusapkan tangan ke muka. "Maukah kau.... berhenti? Katakan saja apa yang sebetulnya kaupikirkan dan rasakan? Aku bukan monster seperti yang kau bayangkan."


Kikan berdehem. "Oke. Tentu itu adil, kupikir aku hanya berusaha jujur."


Rey bersedekap dan bersandar ke dinding. "Baiklah, dan perlu kau ketahui. Aku tidak akan menggunakan Jason sebagai senjata melawanmu, jadi berhentilah bersikap waspada didekatku. Aku tidak suka melihatmu menganggapku orang jahat. Aku bukan musuhmu."

__ADS_1


Rey tampak seperti musuh Kikan saat dipengadilan. Tetapi Kikan tidak mengatakannya. Sudah sejak lama ia memutuskan bahwa Rey berhak mengahiri hubungan mereka. Mungkin dulu Rey mengira dia mencintai Kikan kemudian menyadari bahwa perasaannya keliru. Untuk siapapun yang berusia tujuh belas dan sembilan belas tahun, kadang - kadang suatu hubungan dapat berlangsung seperti itu. Putus lagi, sambung lagi, aku mencintaimu, aku membencimu. Mereka dulu masih begitu muda. Dan setiap orang berhak putus hubungan dengan orang lain. Sudah seharusnya ia melepas Rey.


"Trims."


"Makanlah."


"Aku akan makan. Kalau kau.." Kikan menunjuk lorong "..... Membiarkanku lewat." Rey berdiri menyandar dekat lorong menuju dapur.


Rey memberenggut. "Aku tidak menghalangi jalanmu," katanya. "Silahkan!"


Sambil berjalan menyamping, Kikan dapat melewati Rey tanpa bersentuhan dengannya.


"Wah sekarang aku juga dianggap menggigit?" ujar Rey. Pria itu jelas menyadari betapa hati-hati Kikan bersikap dengan menjauh darinya, tetapi Kikan berpura-pura seolah tak mendengar. Rey tak mengerti apa akibat dari tujuh belas tahun lalu. Ia tak ingin akhirnya malah melakukan apa yang pernah menjadi sumpahnya. Tidak mendambakan sentuhan Rey.


Rey berdiri tak bergerak selama beberapa detik. Berusaha mengatur napas. Saat ini tubuhnya ingin memeluk Kikan, menenangkan kegelisahannya, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Barangkali sebenarnya tubuh Rey menghianatinya. Dalam bawah sadarnya ia begitu merindukan tubuh mungil itu.


Selama ini Rey tidak banyak menikmati suasana romantis. Sebagai orang tua tunggal, tidak bijaksana rasanya membawa pulang sembarang wanita yang menarik minatnya. Dan Rey sudah lama tak menjalin hubungan serius. Tidak ada teman kencan yang ia rasa cocok menjadi ibu tiri Jason. Terutama kalau Rey tidak yakin dengan hubungannya.


"Inikah supnya?" Tanya Kikan dari dapur.


Rey menarik napas dalam dalam sebelum menjawab. "Yap, itu Ayam, setelah kau panasi tambahkan keripik dan bawang goreng yang ada dikantong putih."


"Sepertinya enak. Kau mau? Ada cukup banyak"


"Tidak, itu untukmu." Rey tak tahu kapan Kikan akan merasa cukup kuat untuk berbelanja ke Kota. Apalagi yang akan dia makan?


"Kau benar-benar tidak mau?"

__ADS_1


"Aku tidak lapar." Tidak lapar makanan.


__ADS_2