
Rey harus membungkuk untuk memandang Kikan. "Jelas tidak aman kalau kau pergi! Dan itu akan menjadikanku jahat? Karena aku tak ingin sesuatu menimpamu.
"Aku bahkan belum mencoba menelepon," sanggah Kikan. "Bagaimana kau tahu aku tidak akan mendapatkan mobil? "
"Sekarang hampir jam 23:00 dan kita berada di tempat yang sulit dicapai! Itu hanya buang-buang energi. Kemungkinan besar, Kikan pasti kesulitan mencari sopir yang mau membawanya kesini tadi. Dia hanya ingin menyelamatkan muka. Disamping itu, dia tidak berjalan ke meja telepon, dia berjalan ke pintu. Jadi kapan persisnya, dan dengan cara bagaimana dia berenca menelepon perusahaan sewa mobil? "Akan lebih mudah dilakukan besok pagi."
"Besok pagi?" Kikan melemparkan tatapan ragu ke arah Rey. "Kau punya teman kencan! Kalian berdua punya."
"Tidak juga," kata Devan. "Maksudku pasangan Rey bukan pasangan kencan sungguhan, karena aku yang memintanya, oke? "
Kikan memutar bola mata. "Lagi pula, tidak ada cukup kamar untukku disini."
Devan melambaikan tangan ke sekitar rumah. "Tempat ini sangat besar."
"Dan kalian punya banyak teman, yang masing-masing butuh tempat tidur."
Rey tidak memikirkan itu. Ia akan memikirkan tempat untuk Kikan tidur nanti, walaupun ia sendiri harus tidur di sofa, tapi ia membiarkan Devan yang menjawab, karena tampaknya dia akan lebih mudah meyakinkan Kikan dengan pendekatan yang lebih baik dan lebih lembut.
" Tidak sebanyak itu sampai kami tidak dapat menyisakan satu," jawabnya. "Aku dan Rey diberi kamar dengan tempat tidur susun. Tapi badan kami terlalu tinggi Jadi kau pakai saja kamar kami dan kami akan cari kamar lain."
Kikan menggeleng. "Aku menghargai itu, tapi.."
" Tidak ada tapi tapi lagi." Rey tidak sabar membiarkan Devan berusaha mengatasi masalah ini, dan mengambil alih. "Kau tetap harus tinggal, karena kalau kau berkeras pulang, aku sendiri yang akan mengantarmu, tak peduli ada pesta atau tidak."
" Tidak," sanggah Kikan. "Kau tidak boleh pergi. Akan sangat aneh jika tamu kehormatan justru pergi. Dan akan terlalu larut kalau nanti kau kembali. Aku tidak ingin merusak pestamu, kau bersikap berlebihan."
" Kaulah yang bersikap berlebihan! Apa sulitnya mengulur waktu beberapa jam lagi di sini? Aku akan mengantarmu, atau mengatur cara untuk mengantarmu besok."
" Aku yang mengundang Cindy. Bukan Rey." Devan menambahkan.
Kikan memberenggut ke arah Devan. "Tolong berhenti mengatakan itu. Tidak ada apa-apa antara Rey dan aku, jadi penjelasanmu tidak ada bedanya."
" Kau datang ke sini bukan karena ingin ketemu denganku?" tuntut Rey.
Kikan tampak sangat terkejut mendengar Rey mengucapkan itu. "Bukan begitu..."
__ADS_1
Rey meletakkan kedua tangan di pinggul. "Kalau begitu karena apa?"
" Apa maksudmu?" Kikan terlihat jelas susah payah menelan ludah. "Ini hari ulang tahunmu. Aku... Aku ingin memberimu hadiah."
Bukan hanya itu. Tidak ada mantan kekasih yang bersusah payah melakukan itu tanpa alasan. Kikan bisa saja menunggu sampai Rey pulang untuk memberikan buku foto itu. "Kalau begitu kenapa kau tidak menginap?" tanya Rey. "Kalau kau tidak tertarik padaku, pasti tidak masalah bahwa aku punya teman kencan, bahkan jika aku berhubungan serius dengan Cindy nanti."
Ketika tatapan mereka bertemu, Rey bisa melihat tantangannya memberi dampak. tetapi ia sebenarnya tidak bermaksud menantang Kikan. Mungkin Kikan akan menginap hanya untuk membuktikan dia tidak peduli...
" Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan bersama Cindy," katanya.
" Rey tidak akan cocok dengan Cindy," kata Devan. "Ia bahkan tidak suka wanita itu."
Rey menepuk punggung Devan. "Tidak perlu menjelaskan. Kau dengar dia. Dia tidak peduli dengan apa yang kulakukan karena dia tidak peduli padaku."
" Dalam hal itu..." Kikan mencoba menjelaskan
" Mungkin sekarang waktunya mengakui kebenaran," potong Rey. "Sebenarnya kau peduli meskipun kau tak ingin. Aku bisa merasakannya."
Mata Kikan melebar. "Apa maksudmu?"
Jujur saja, Rey sendiri tidak yakin. Jelas ini tidak akan memberinya apa yang ia inginkan. Kebutuhan yang ia rasakan untuk memaksa Kikan mengaku, untuk menanggapi perasaannya, telah membuatnya mendorong terlalu keras. Ia harus meredakan emosinya dan bersikap tenang.
" Baik. Aku terima, meskipun itu artinya kau harus tidur berimpitan dengan Cindy!" tukas Kikan.
Rey tersenyum samar mendengar nada marah dalam suara Kikan. "Barangkali memang itu yang akan kulakukan." Katanya.
" Jangan tertipu olehnya," kata Devan. "Dia tidak menginginkan Cindy."
" Devan, aku tidak butuh bantuanmu." Rey sudah cukup frustasi, dan melihat Devan ikut campur, meskipun itu karena ingin menjernihkan masalah, hanya membuat situasi semakin buruk.
Tetapi Devan meneruskan, tidak terpengaruh dengan ucapan Rey. "Sebenarnya, Cindy dan teman kencan ku lebih tertarik mendekati Simon. Aku menduga mereka akan terus begitu selama berada di dekat Simon."
" Sayang sekali," kata Kikan. "Aku tidak suka Rey tidak bisa bersama wanita itu. Dia terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya."
" Aku tetap bisa hidup dengan kekecewaan itu," ujar Rey. Atau apakah Kikan sedang berusaha menegaskan bahwa Rey tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya dari Kikan?
__ADS_1
" Bagus." kata Devan sambil bertepuk tangan dengan antusiasme palsu. "Lalu bagaimana kalau kita ke bawah dan main billiar sebelum kalian benar-benar bertengkar? Aku akan bilang pada Cindy dan Samantha bahwa mereka bisa ikut kapanpun mereka siap."
Kikan mengusap-ngusap lengan seakan belum memutuskan dan tidak suka dengan pilihan yang harus diambilnya.
" Apa aku harus mengambil kunci mobil?" tanya Rey. "Apa kita akan pulang?"
Kikan menjatuhkan kedua tangan. "Tidak."
" Kalau begitu kau mau menginap?" tanya Rey memastikan.
" Hanya sampai besok pagi," ujar Kikan dengan kesal, lalu berpaling pada Devan. "Siapa yang akan main?"
" Rey dan David."
Rey hampir tertawa ketika Kikan meringis mendengar nama Rey. Ia telah membuat wanita itu marah, tapi tidak mau berpura-pura lagi. Mereka punya sejarah, dan sejarah itu mungkin sulit untuk diatasi. Tetapi ia tak percaya bahwa pria lain akan memperlakukan Kikan dengan lebih baik daripada dirinya. Selama ini dia tak pernah menginginkan keadaan memburuk, tak pernah secara sengaja berusaha menyakiti Kikan. Rey mulai berpikir bahwa mereka bertemu terlalu cepat, terlalu dini...
" Siapa David?" tanya Kikan.
Lagi-lagi Devan yang menjawab. "Tunangan Eva."
" Dia pintar main billiar?"
" Ya." Devan menolehkan kepala ke arah Rey. "Dia dan Rey belum terkalahkan sampai sekarang. Merekalah yang menguasai Arena. Tapi kita bisa mencoba, bagaimanapun ini hanya untuk bersenang-senang."
" Jangan terlalu cepat mengira kita akan kalah," kata Kikan dengan datar. "Kau belum pernah melihatku main."
Devan mengurutkan bibir seraya mengamati Kikan. "kau juga belum pernah melihat mereka main."
" Aku tidak peduli. Ayo kita bertaruh siapa yang bisa menang."
Rey mengangkat koper Kikan. "Aku tidak akan bertaruh kalau jadi kau."
" Aku tidak khawatir." ujar Kikan.
saat Kikan memberenggut ke arahnya, Rey berharap situasi di antara mereka tidak begitu rumit. Ada tarikan yang begitu kuat. Ia merasakannya bahkan saat ini. Dan ia tahu Kikan juga merasakan itu.
__ADS_1
" Terserah sajalah," jawabnya.
Ketika mereka kembali ke dalam, Rey menyimpan koper Kikan di dekat pintu, berencana mengurus koper itu nanti. "Panggil David," katanya pada Devan. "Kikan dan aku akan segera menjadi rival untuk permainan ini."