Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 34


__ADS_3

Untunglah orang tua Rey tidak melihat Kikan. "Kita akan melawan siapa hari ini?" tanya ibu Rey.


"Tim Blue Star" jawab Rey.


"Mereka cukup tangguh bukan?" kata ibunya


"Ya." Jawab Rey


"Jason bisa mengatasi mereka" Ucap ayah Rey setelah selesai mengobrol, dan bergabung dengan mereka.


Rey berharap ayahnya benar. Ia selalu mencemaskan anaknya. Ada begitu banyak pertandingan yang bergantung pada pencetak poin. Itu tekanan besar, terutama karena Jason berharap dapat diterima di universitas berkat beasiswa basketnya.


Tetapi hari ini, ada hal-hal lebih besar lainnya untuk dikhawatirkan, dan Rey menyadari itu ketika melihat seorang wanita berusaha menyembunyikan diri di balik topinya. Rey bertanya-tanya apakah Kikan sudah melihat kedua orang tuanya. Dan karena itu Rey berusaha untuk mengalihkan pandangan orang tuanya agar tidak curiga.


Disisi lain, Kikan merasa perutnya begitu bergolak sehingga dia berpikir akan muntah. Ia terus berkata pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, dia punya alasan untuk hadir di pertandingan ini, tetapi siapa yang dapat menebak apa yang akan terjadi?


Sebesar apapun rasa takutnya akan dikenali dan dipandang sebelah mata, Kikan jauh lebih takut kedatangannya akan menjadi peristiwa memalukan bagi putranya. Ia tidak dapat membayangkan Jason tak akan mengundangnya lagi kalau kehadirannya justru menimbulkan kehebohan.


Kikan menarik turun topinya dengan harapan tidak akan terlihat atau dikenali, lalu ia duduk sejauh mungkin dari kerumunan tuan rumah, di sepanjang tepi tribun lawan. Tempat ia dapat mengawasi sepedanya. Ia tak punya kunci untuk mengunci sepedanya itu dan tak ingin sepedanya dicuri. Ia ragu akan ada yang berusaha mengambil sepeda itu karena harganya tak seberapa, tapi kalau mereka tahu sepeda itu miliknya, sudah diduga apa yang dapat mereka lakukan.


Sambil menarik napas dalam-dalam, ia mecari ke arah lapangan dan melihat Jason di lapangan sedang pemanasan. Anak itu tampak sangat dewasa dalam baju timnya. Kikan tersenyum sambil duduk bertopang dagu dan mendengarkan seruan-seruan kencang dari penonton untuk mendukung tim kesayangan mereka masing-masing.


Untunglah, sepertinya tak ada orang dari sisi penonton yang peduli dengannya. Ia tidak menimbulkan gejolak bahkan di sisi penonton tuan rumah, jika Kikan terus beruntung begini seluruh pertandingan akan berlangsung dengan baik.


Kikan dapat melihat Jason terus-menerus memandang ke arah bangku penonton seolah sedang mencari seseorang membuat Kikan bertanya-tanya apakah anak itu sedang mencari dirinya.

__ADS_1


Kikan melambai untuk menarik perhatian Jason dan anak itu membalas lembaiannya, tampak sangat senang.


Setelah babak pertama usai, Kikan berjalan ke pagar pembatas. Mendekati anaknya.


"Aku membawakan makanan kecil untukmu" Katanya ketika mereka bertemu di pagar pembatas. "Tapi kau mungkin sudah punya" ujar Kikan


"Aku bisa makan lebih banyak" Jason mendekat untuk menerimanya. "Trims"


"Aku betul-betul senang melihatmu bertanding hari ini," kata Kikan.


Jason tersenyum lebar ke arah ibunya. "Mudah-mudahan permainanku tidak jelek."


Kikan memasukkan tangannya ke celana, dengan atasan baju biru cantik yang menjadi favoritnya. "Tentu saja tidak akan, aku harap permainannya berjalan lancar, tidak masalah kalah atau menang. bagiku melihatmu bertanding saja sudah membuatku bahagia."


Kikan berdiri sedikit lebih lama, ia dapat melihat Jason jauh lebih jelas kalau berdiri sedekat ini. "Kau pasti bisa" gumam Kikan. Dan saat itu ia melihat Rey duduk tepat di seberangnya, mengenakan topi bisbol yang sama dengan yang ia kenakan. Kikan tak yakin tapi ia menduga Rey sedang memandangnya. karena tepi topi menutupi wajah pria itu. Tetapi bukan hanya Rey yang sedang memandangnya, Rey duduk bersama Devan, begitu pula orang tua Rey, Kikan sudah tujuh belas tahun tidak bertemu Ibu Helen dan Pak Andi stinson. tapi dia dapat langsung mengenali mereka.


Kikan tadi keluar dari bangku penonton untuk berbicara dengan Jason dan itu membuat semua orang tahu akan identitasnya.


Merasa terlalu mencolok, Kikan melepaskan pagar pembatas. Ia bahkan tak sadar dari tadi memegangi pagar itu begitu erat, dan memaksa kakinya untuk kembali ke tempat terpencil yang tadi dipilihnya. Kikan menduga kalau ia tak melakukan hal lain, pada akhirnya orang - orang akan mengalihkan pandangan. Lalu ia berusaha mengabaikan semuanya selain pertandingan.


Kikan mungkin berhasil menenangkan diri tapi kemudian ia sempat melihat keributan dan, tanpa dapat dihindari. Memandang sekilas dengan tatapan cemas ke arah Rey. Ibu Rey mulai beranjak mendekatinya, tetapi Rey berdiri menghalangi dan menahan lengan sang ibu.


Kikan tak dapat mendengar mereka, tapi ia tahu mereka sedang berdebat tentang dirinya dan itu menimbulkan kesadaran diri dan kekhawatirannya. Haruskah dia pergi? orang-orang mulai mengamati Kikan dan berbisik-bisik. Bahkan Jason yang sedang bermainpun, berhenti untuk memandangi mereka seolah anak itu tahu persis apa yang terjadi.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


Jason tidak banyak bicara setelah tiba di rumah usai pertandingan. Memang hal itu dapat dimaklumi.


Rey mengajak anaknya untuk makan malam, dan menyajikan sup yang sudah dipanaskan. Tetapi dia enggan menyajikan perkedel kentang yang tadi ibunya berikan walau itu makanan kesukaan mereka.


Rey marah pada ibunya atas reaksi sang Ibu ketika melihat Kikan di stadion. Gara-gara itu dan keributan yang disebabkan oleh neneknya, Jason menjadi gelisah di area basket sebelum akhirnya ditarik dari permainan, lebih buruk lagi, mereka kalah.


"Apa kau mau tambah? tanya Rey sambil mengamati anaknya mengunyah makanan dengan murung.


"Tidak"


Pelatih membuat Jason pulang belakangan membahas mengenai permainannya yang buruk, tak diragukan lagi jadi Rey harus menjaga perasaan anaknya agar tidak terlalu merasa bersalah. "Kau tidak apa-apa!"


"Aku baik-baik saja"


"Tadi itu pasti sulit apalagi kalau kau tidak bisa berkonsentrasi pada pertandingan"


Jason diam saja, dan Rey beranggapan Jason akan menghabiskan makan malamnya dalam diam. Tetapi anak itu mendadak berkata, "Aku kasihan pada Mom! Apakah tidak ada yang peduli kalau dia mungkin tidak bersalah sama sekali?"


Rey tak ingin memperdebatkan hal itu lagi. dulu Ia yakin Kikan bersalah, Ia tidak bisa mencegah Kikan masuk penjara. Tetapi sekarang ketika Kikan sudah kembali, Rey mempunyai keraguan dan simpati yang sama seperti yang dirasakan oleh Jason. "Nenekmu tidak perlu membuat onar begitu. Kikan punya hak untuk berada di sana."


"Benar! aku mengundang dia! tapi nenek menganggap boleh saja untuk membencinya," Kata Jason dengan nada kesal. "Aku melihat betapa marahnya nenek ketika Papa tidak membiarkannya mendekati Mom. Mom sampai harus meninggalkan lapangan."


.


🐾 Jangan lupa like setiap babnya, dan berikan juga vote setiap minggunya... Terima kasih para pembaca setia❤️🐾

__ADS_1


__ADS_2