Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 47


__ADS_3

Rey tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Kikan sambil memutar-mutar gelasnya.


"Aku berusaha keras menjauh darimu," kata Kikan


"Ya Tuhan, Kikan." Rey menekan tiga jemarinya di dahi. "Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan."


Nada suaranya yang putus asa membuat Kikan sedikit gugup. "Tentang..."


"Aku tidak bisa melupakan beberapa menit di lantai dansa itu."


Khawatir Jason sudah berjalan kembali, Kikan melihat ke arah kamar kecil. Untungnya ia belum melihat anaknya. "Kenapa?" tanya Kikan, seolah tidak sempat memikirkannya dua kali.


"Kau tidak merasakan apa-apa?" Rey bertanya pada Kikan, sangat ingin Kikan menjawabnya.


Kikan kembali menyeruput air. "Jika maksudmu adalah pria yang meraba-rabaku, aku bersyukur kau datang. Memang sudah tujuh belas tahun berlalu, tapi bahkan aku tidak seputus asa itu," kata Kikan berseloroh.


Rahang Rey mengeras. "Kau sengaja salah paham."


"Tidak terjadi apa-apa lagi."


Rey merendahkan suara. "Aku ingin tidur denganmu. Aku tahu ini tidak adil untukmu, setelah apa yang kau lalui. Yang membuat aku merasa seperti pengecut, karena punya keinginan itu, dan karena mengakuinya. Tapi begitulah sebenarnya."


Kikan menekuk jemari ke dalam telapak tangan. "Kau mabuk tadi malam." ucap Kikan.


"Dan sekarang?"


Bicara apa Rey? Dan mengapa dia mengatakannya? "Ini tabu."


"Tabu." Rey mengulanginya sambil tertawa.


"Ya. Kau tertarik dengan sesuatu yang tidak baik untukmu. Atau mungkin ini...." Kikan mendapat penjelasan untuk diri sendiri "Perasaan kehilangan seperti yang dirasakan orang lain, ketika seseorang yang selalu mengagumi mereka telah melanjutkan hidup. Mereka tak bisa kehilangan perhatian, meskipun sebenarnya tidak menginginkan orang itu."


"Aku tidak cukup angkuh untuk berharap kau mengagumiku tanpa aku perlu membalasnya," kata Rey sambil menyeringai.


Kikan mencari-cari Jason lagi. "Oke. Carilah penjelasan sendiri. Atau....abaikan saja godaannya dan itu akan pergi dengan sendirinya. Itulah yang terjadi dulu."


Rey menyadarkan tubuh. "Jadi kau membawa-bawa masa lalu untuk melawanku."


"Tidak, aku... Aku tidak bermaksud begitu," kata Kikan dengan gugup. "Aku minta maaf kalau kepulanganku membuat semua orang susah, tetapi aku berusaha membuatnya semudah mungkin."

__ADS_1


"Dan itukah yang kau lakukan sekarang?" tanya Rey.


"Apa maksudmu?"


"Kau menutup diri dariku sepenuhnya."


"Aku tidak percaya kau berkata begitu. Aku tidak menutup diri. Kau tidak benar-benar menginginkan aku!" kata Kikan.


"Bagaimana kau tahu, apa yang kuinginkan?" tanya Rey.


" Bisakah kita tidak membahasnya, aku tidak merasakan kebencian, tapi kita telah melewati ini, ingat?" ucap Kikan.


"Sekarang kita berbeda" balas Rey.


"Tidak juga. Jadi salah satu dari kita harus menjaga yang lain, untuk tidak membuat kesalahan besar."


"Kesalahan besar? Bagus sekali, kau orang yang sangat berhati-hati."


Kikan mencondongkan badan ke arah Rey. "Apa kau menyindir lagi?"


Rey mendesah. "Aku selalu memikirkan tentang kita... seperti apa kita dulu....pasti terlintas dalam pikiranmu juga. Kau bilang sudah tujuh belas tahun sejak kau menjalin hubungan dengan pria."


"Jadi aku satu-satunya pria yang pernah menyentuhmu," kata Rey.


Karena merasa tidak enak melanjutkan percakapan ini, Kikan berdiri. "Maaf jika boleh, aku mau ke kamar kecil juga," kata Kikan. Dan memastikan Jason sudah kembali ke tempat duduknya ketika ia kembali.


.


Apa yang kau lakukan? Pikir Rey.


Ia tidak tahu. Kepalanya masih pusing meskipun sudah minum obat sebelum datang ke restoran ini. Mulutnya terasa kering, tidak peduli berapa banyak air yang ia minum. Ia harus bekerja fisik selama enam hingga delapan jam kedepan untuk merombak dapur, yang tidak mudah mengingat keadaannya sekarang. Dan ia sangat bingung.


Apakah ia harus tetap diam dengan apa yang ia rasakan? apakah ia membuat Kikan takut?


Mungkin. Tetapi mungkin itu yang secara tidak sadar ia maksudkan. Jika Kikan mau memberi sedikit respon saja semalam... Siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian?


Rey tidak ingin menyakiti Kikan lagi. Ia tahu benar itu. Ia benci betapa dulu ia sangat menyakiti Kikan.


" Apakah boleh Pah?"

__ADS_1


Sembari berusaha untuk mengalihkan pikiran, Rey berhenti sebentar dengan garpu setengah masuk mulut untuk memandang anaknya. Jason bercerita pada Kikan tentang teman yang memukul tangannya ke pintu mobil dan mematahkan jemarinya. Ini bukan percakapan yang menyenangkan dilakukan sambil makan, tetapi Rey tak ingin mengganggu. Kikan terlihat ingin sekali mendengar apapun yang dikatakan Jason, jadi Rey mengikuti percakapan itu. "Dia bisa apa?"


" Datang malam ini. aku bilang pada Mom papa akan memasak barbekyu untuk makan malam dan setelah itu kita akan menonton film."


" Hmm, tentu saja." Rey tidak keberatan, tetapi dia ragu Kikan mau datang. Tidak setelah kejadian semalam.


" Tidak apa-apa," kata Kikan pada Jason. "Ini akhir pekan. Ayahmu mungkin sudah punya rencana lain."


" Sekarang Papa tidak pergi sesering itu," kata Jason. Aku selalu memintanya untuk mencari pasangan. Dia akan sendirian setelah aku kuliah. Tapi aku tidak ingat, kapan terakhir kali Papa membawa wanita ke rumah."


" Ibumu tidak membutuhkan laporan tentang kehidupan cintaku, jas." semalam mereka ke luar, kan? dan ia menyesalinya.


" Aku hanya bilang papa suka membuat barbekyu, benar kan?"


Rey menghabiskan jus jeruknya. "Aku senang melakukannya."


" Tuh, kan? Jason kembali memandang Kikan, tetapi ketika Kikan tampak ragu-ragu, Jason berkata, "Mom tidak ingin datang?"


Rey tahu, ketika kedua kalinya Jason bertanya, Kikan akan melakukan apapun yang dia bisa untuk meyakinkan anaknya.


" Tentu saja aku ingin datang!" kata Kikan. "Jam berapa?"


Jason menoleh ke Rey. "Jam 18.00?"


" Aku setuju saja," Kata Rey.


Kikan tersenyum, tapi Rey bisa mengatakan bahwa ada sedikit keraguan di balik senyum itu. "Aku akan datang" katanya


" Aku akan menjemput Mom," kata Jason, dan Kikan mengangguk.


Ketika pelayan datang, Rey membayar sarapan mereka, meskipun Kikan memprotes. kemudian ketika mereka keluar, Jason bertemu dengan teman sekolahnya dan berhenti sebentar untuk menyapa, yang memberi Rey dan Kikan waktu berdua.


" Jangan khawatir tentang malam ini," gumam Rey.


" Mau tak mau aku khawatir," kata Kikan.


Rey tertawa. "Kenapa? jika memang kau sudah tidak punya perasaan lagi kepadaku seperti yang kau katakan, aku pasti bisa ditolak dengan mudah."


Rey beranggapan Kikan akan membiarkan perkataannya, tetapi ia mengejutkan Rey. "Selalu ada kemungkinan bahwa aku memanfaatkanmu untuk s***." Kikan tersenyum manis. "Bagaimanapun, tujuh belas tahun adalah waktu yang lama."

__ADS_1


Rey yakin Kikan menganggap ia bisa menangkap kata terakhir itu, dan karena itu ia tidak melepaskannya. "Kalau ada kemungkinan aku bisa mengisi posisi itu, hubungi saja aku. aku akan selalu siap" Kata Rey dan harus tertawa ketika mata Kikan membelalak karena kaget.


__ADS_2