Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 74


__ADS_3

Bagaimana bisa? Mereka berdua tinggal di kota kecil, dan itu berarti masa lalu akan selalu menjadi jurang di antara mereka.


"Kikan?" Rey mendesak.


Kikan memejamkan mata, tapi ketika Rey menyebut namanya, Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuka mata. "Sudah lebih dari tujuh belas tahun aku tidak berhubungan dengan pria. Kau tahu kaulah pria itu. Aku tak bisa apa-apa. Aku bahkan tak ingat seperti apa tubuh pria, apalagi yang harus kulakukan dengannya."


Suara Rey terdengar tercekik. "Kau hanya ingin menyangkal apapun yang kukatakan. Kau pikir aku hanya menginginkan s***"


"Tidak, kupikir kau bermaksud baik." sanggah Kikan.


"Tapi... " tanya Rey.


"Kau juga bermaksud baik tujuh belas tahun lalu. Aku bersedia tidur denganmu malam ini, ketika kita lepas dari kehidupan normal, hanya itu yang bisa kutawarkan. Besok kita akan.... melanjutkan semuanya seakan ini tidak pernah terjadi."


"Jangan bilang begitu! Aku bisa menentang semua orang, masa bodoh dengan mereka, bahwa kita akan selalu bersama selama kita mau. Aku akan senang melakukan pertentangan itu, demi kita. Tapi aku harus memilikimu disisiku. Aku harus tahu aku berjuang untuk sesuatu yang bisa kumenangkan."


Kikan menggeleng. "Takkan ada kebaikan yang datang jika bersamaku. Aku tak bisa membiarkanmu melakukan itu."


"Astaga." Rey mulai berenang untuk menepi, namun ketika Kikan tidak mengikutinya, dia kembali. "Aku tak bisa meninggalkanmu di sini. Setidaknya biarkan aku membawa masuk dan menghangatkan badanmu."


Bagaimanapun, Kikan memang tidak bisa tetap terus di dalam air. Ia tidak lagi merasakan lengan dan kakinya. "Aku akan menyusul."




Aku bersedia tidur denganmu malam ini, ketika kita lepas dari kehidupan normal, hanya itu yang bisa kutawarkan.


Rey menolak tawaran itu pada prinsipnya. Tetapi itu lebih mudah dilakukan ketika mereka berdua gemetar kedinginan di danau. Begitu mereka bergegas ke kamar Kikan dan wanita itu menutup dadanya yang basah, nyaris mustahil bagi Rey untuk mengingat mengapa ia harus menolak.


Kikan lah yang menyarankan mereka untuk melewatkan malam itu bersama. Rey tidak akan mendesaknya melakukan apapun yang mengarah ke hubungan fisik, tidak sebelum ia dapat melakukan sesuatu untuk membuktikan diri dan tahu bahwa Kikan mempercayainya. Rey harus hati-hati dengannya. Karena berbagai alasan, Kikan bukanlah wanita biasa. Tetapi...

__ADS_1


Keberanian mendadak yang ditunjukkan Kikan membuatnya lengah. Tampaknya wanita itu bertindak dengan kenekatan yang sembrono, menyingkirkan seluruh kewaspadaan seakan-akan Rey akan mengambil sesuatu yang diinginkannya kemudian menerima hukuman apapun atau kekecewaan yang nanti menyusul.


Itu bukan kerangka berpikir yang benar.


Meski begitu... di sanalah Kikan berada, menjatuhkan sisa terakhir penutup tubuhnya, dan juga pertahanannya, menantang Rey dengan cara yang sama sekali baru.


" Kau telan**g persis di depan mataku," matanya terpaku pada sepasang payu****.


Kikan ragu-ragu. "Bukankah karena itu kau datang ke sini?"


" Aku yakin aku menolak ketika kita di danau tadi." ujar Rey.


" Tapi kau tidak harus datang ke kamarku. Aku bisa mandi sendiri."


Itu benar. Dalam penyangkalannya, Rey ingin menjaga Kikan, ingin memastikan tubuhnya hangat, kering, dan aman sebelum tidur. Namun sekarang ketika dihadapkan dalam pilihan itu lagi, ia juga ingin merasakan kaki Kikan melingkar di pinggulnya ketika tangan wanita itu membawanya masuk. Dan ketika Kikan melepas br*nya yang basah, pemandangan itu menjadi magnet yang luar biasa.


Otot-otot Rey yang menegang ketika ia menahan testosteron yang mengalir cepat dalam tubuhnya. "Kalau begitu katakan padaku, risiko apa yang akan kuhadapi?"


Kikan masih menggigil. "Risiko?"


Mendadak tak yakin, Kikan menyilangkan kedua lengan, membiarkan celana dal**nya tetap di tempat. Rey mengenal itu sebagai salah satu pakaian berenda yang dibelinya bersama Devan untuk Kikan dan bertanya-tanya apakah itu juga yang Kikan pakai di kolam renang. Tapi itu kenangan yang tak seharusnya ia ingat, tidak jika ia masih berencana untuk tidur di tempat tidur sendiri. Mengingat kenangan bagaimana kikan menyambar pinggangnya ketika Rey menjelajahi kehangatan di tubuh wanita itu membuatnya sangat ingin melakukan itu lagi.


" Kikan? Katakan padaku ini tidak apa-apa."


Suara Kikan terdengar serak ketika berkata, "Tidak apa-apa. Aku tidak mengharapkan kau Pergi. Aku bahkan tidak ingin kau pergi."


Raut wajah Kikan memancarkan kebenaran dari kata-katanya.


Selain celana boxer yang basah, Rey telah melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah keluar dari danau, mereka terlalu terburu-buru untuk berhenti dan berpakaian. Mereka hanya berhenti sebentar untuk memungut pakaian dari tanah. "Kau tak takut membiarkanku bercinta denganmu setelah bertahun-tahun?"


Tatapan Kikan jatuh dari dada ke bukti gairah Rey yang tampak jelas dibalik boxernya. "Menurutku ini tak bisa dihindari."

__ADS_1


Kikan merasa situasinya tak terhindarkan jika Rey memutuskan hubungan mereka setelah malam ini. Tetapi mungkin cara paling mudah untuk meyakinkan Kikan tentang sebaliknya adalah dengan membuktikan bahwa dia salah.


Rey berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan keran air. "Kemarilah."


Tampak sangat gugup sekarang setelah memutuskan ini, Kikan menggigit bibir saat sudah berada di kamar mandi.


" Kau cantik," kata Rey, dan dengan sengaja menyentuh wajah Kikan dan bukan payu****. Kau tahu itu bukan?"


Ketika Kikan meringis dan mulai menggeleng seakan dia tidak mengharapkan pujian yang begitu berlimpah, Rey menekankan kedua tangan ke pipi wanita itu dan membuat Kikan memandang dirinya. "Itu benar."


" Aku punya terlalu banyak bekas luka." kata Kikan.


" Semua itu tidak menutupi kecantikanmu." Rey menyentuh bekas luka di perut Kikan. "Apa yang terjadi di sini?"


Salah satu otot di pipinya tampak bergerak. "Aku dipukul dengan tongkat."


Sikap Kikan menunjukkan seolah dia berkata 'Terima aku apa adanya, atau tinggalkan' seperti ketika mereka bermain billiar. Hampir seakan-akan dia sengaja memamerkan segala yang dikiranya tidak akan disukai Rey, untuk membuktikan bahwa Rey tak mungkin benar-benar peduli padanya.


Tetapi Kikan salah. Aspek-aspek yang tidak terlalu menarik dari kehidupan dan masa lalunya tidak membuat Rey takut, tidak seperti dulu. Bayangan Kikan berbaring di lantai semen dan berlumuran darah, membuat Rey marah pada diri sendiri. Mengapa ia tidak berbuat lebih banyak untuk membantu Kikan selama tujuh belas tahun ini? Untuk membuat masa hukuman yang dijalaninya di lembaga permasyarakatan tidak terlalu berat?


" Kenapa dan bagaimana kau diserang?" tanyanya dengan lembut.


" Jangan bahas tentang bekas lukaku. Itu.... tidak enak dilihat."


Rey mengira membicarakan hal-hal semacam itu bisa membantu, ia ingin Kikan tahu bahwa dia tidak perlu merasa takut atau minder. Rey mengerti siapa dan seperti apa Kikan. Dan tetap menginginkan wanita itu. "Untukku tidak seperti itu. Bekas luka itu hanya.... merupakan bagian dari dirimu. Aku berharap kau tidak harus mengalami semua itu..."


" Sudahlah," kata Kikan. "Sebaiknya jangan mengungkit-ungkit masa lalu.... itu merupakan bagian yang tak bisa kita hindari."


" Oke, tapi selain penyesalan yang kurasakan tentang penderitaanmu, aku tidak keberatan dengan bekas luka ini atau yang lain." Rey menggerakkan ibu jari di karet celana dal** Kikan. "Bagaimana kalau aku melepas ini?"


" Ketika Kikan mengangguk, Rey menurunkan celana itu lalu menatap Kikan.

__ADS_1


" Nah?" Ujar wanita itu, jelas minder merasakan pengamatan tanpa suara Rey.


" Ini akan menyenangkan." Rey melepaskan celananya sendiri, lalu ia merengkuh Kikan dalam pelukan dan mengangkatnya ke air panas.


__ADS_2