Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 40


__ADS_3

Kikan menarik napas dalam-dalam untuk meredakan amarah yang mengalir dalam dirinya dan, anehnya tiba-tiba ia ingin menangis.


Untung saja, Ia bisa menahan air mata. Kikan tidak tahu kenapa ia berubah cengeng setelah keluar dari penjara. Jika para tahanan lain tahu hal ini, mereka akan mengolok-oloknya. "Siapa yang menggantikan perkelahian itu?" tanya Kikan. "Apa polisi datang ke sana?"


" Tidak. Itu hanya cekcok antara dua pria. Barista kedai yang melerai mereka tidak lama setelah kau pergi." kata Devan.


Kikan mengepalkan tangan. "Lalu bagaimana?"


"Kami semua pergi juga."


" Rey berdarah. Aku melihatnya.... aku melihatnya." kata Kikan.


Devan mengangkat bahu. "Hidungnya berdarah. lukanya bisa bengkak dalam beberapa hari ke depan, tapi tangan Logan mungkin patah dan matanya mungkin juga bengkak. Seharusnya kau melihat matanya."


Kikan tak ingin melihat mata Logan. Ia hanya ingin yang sudah berlalu biarlah berlalu, ia ingin mereka semua melupakannya. "Rey tidak perlu terlibat. Aku tidak tahu kenapa dia sampai terlibat, dan membuat dirinya sendiri terluka."


" Harus ada orang yang melakukan sesuatu, kikan. Logan tidak bisa terus menyiksamu. Aku kasihan pada Logan, kasihan pada adiknya. Tapi kau sudah menjalani hukuman."


" Aku tidak membunuhnya," kata Kikan. sudah lama ia berhenti meyakinkan orang-orang. sangat menyakitkan diperlakukan dengan skeptis dan diragukan. tetapi ia peduli dengan apa yang dipikirkan Devan tentang dirinya. meskipun berharap sebaliknya, Kikan peduli pada pendapat teman-teman Rey.


Devan memandang Kikan selama beberapa saat. "Jadi itu alasan dia melakukannya." ucap Devan.

__ADS_1


Kikan tidak mengerti. "Maksudnya?"


" Kurasa dia percaya padamu."


Benarkah? Kikan hampir takut untuk berharap. Perhatian terbesarnya adalah Rey dan Jason akan bisa tahu, atau mengatakan dalam hati mereka bahwa mereka percaya padanya. Karena tidak ada cara lain untuk membuktikan bahwa Kikan tidak bersalah.


" Ini." Devan menyerahkan laptop Kikan. "Laptop ini sudah rusak. Tapi kupikir kau mungkin menginginkannya. Mungkin bisa diperbaiki."


" Sudah terlalu tua untuk diperbaiki." kata Kikan, seolah kehilangan laptop bukan masalah baginya. Ia tidak ingin Devan tahu bahwa ia mengalami masalah lain yang lebih besar. Kikan menyukai keramahan Devan, bahkan mungkin menghargai sikapnya, tetapi tidak rasa kasihannya. Walau begitu Kikan tidak tahu bagaimana ia bisa menjalankan bisnis tanpa akses internet. Tidak ada perpustakaan umum di dekat situ. Dan ia tidak punya kendaraan untuk bepergian jauh.


" Rey sangat marah melihat laptop ini rusak. dia bilang kau menghasilkan uang dari membuat gelang seperti ini." Devan menunjukkan pergelangan tangannya. Bahwa kau harus menggunakan internet. Dan aku bilang padanya kau bisa mampir ke kantorku kapan saja dan memakai salah satu laptopku, kantorku lebih dekat daripada kau harus pergi ke kota." Tawar Devan pada Kikan.


" Kau punya kantor?" Kikan bahkan tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan Devan. Ketika mengantarkan gelang itu, Ia hanya pergi ke alamat yang terdaftar di buku telepon Ibunya dan saat itu sudah malam.


" Kau percaya padaku? untuk bekerja di kantormu sendirian?" tanya Kikan.


" Tentu saja." Devan meringis. Tapi jangan terlalu berterima kasih kepadaku, tidak ada yang bisa dicuri kecuali berkas-berkas." Canda Devan.


" Ada komputer," Kikan mengejek. Aku butuh satu"


Devan tertawa. "Aku tahu mesti kemana mencari jika ada yang hilang."

__ADS_1


Kikan menjadi tenang. "Sungguh tawaran yang baik. Terima kasih."


" Semua orang butuh jeda."


" Apakah kau butuh jeda juga?" tanya Kikan.


" Aku pernah mengalami masa-masa yang suram. kau tidak tahu karena kau sedang... pergi jauh." Wajah Devan tampak murung ketika mengatakannya.


Mungkin karena itu Devan mampu bersimpati pada Kikan, dan Kikan sangat menghargainya. "Boleh juga sih sekali-kali gantian mendengar masalah orang lain. Kau mau masuk?"


Devan tampak ingin tetapi kemudian menggeleng. "Aku tidak yakin Rey akan suka" katanya.


" Ia lebih suka aku tidak bergaul dengan teman-temannya," kata Kikan. "Dan aku tidak bisa menyalahkannya. dia tak ingin mantannya, terutama yang terkenal jahat ini, bergabung dengan teman-temannya."


Devan memasang ekspresi serius. "Aku tidak yakin jika hanya itu sebabnya."


" Lalu apa?" tanya Kikan.


" Kau tidak akan percaya padaku kalau aku mengatakannya," kata Devan sambil tertawa dan berjalan kembali ke pick up-nya.


Kikan tidak tahu apa artinya, tetapi apapun yang dimaksud Devan, dia tentunya tidak ingin menjelaskan. "Aku akan datang besok, sekitar jam 05.00 sore" kata Kikan.

__ADS_1


" Kalau begitu sampai ketemu."


Kikan mengamati Devan yang berlalu pergi. Ia yakin sekarang ia bisa tidur dengan tenang. Tetapi ibunya melihat Kikan sebelum ia kembali ke dalam. "Kau bermain-main dengan bahaya," Teriak ibunya dari jendela.


__ADS_2