Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 17


__ADS_3

Suara berisik membangunkan Kikan. Sebelumnya ia sudah bangun kerena lehernya sakit, setelah menunduk dimeja lalu berjalan pelan menuju kasur, tempat tidurnya itu. Ia hanya dapat beristirahat sebentar hari ini, ia terlalu sibuk, terlalu cemas, terlalu khawatir. Rasa lelah telah mengalahkan semua itu, walau ia masih merasa gelisah. Kikan terus teringat pada surat dari keluarga Lori, dan ancaman yang tertulis didalamnya. Ini Kota mereka, menurut keluarga itu. Kotanya Lori. Kikan tidak tahu apakah Logan, kakak laki-laki Lori yang mengirimkan surat yang paling kasar, akan benar-benar "membuatnya menyesal" seperti yang dikatakan laki-laki itu. Tetapi bunyi berisik ini... bukan hanya disebabkan oleh anjing yang menyalak membuat keributan, dari arah tempat tinggal ibunya.


Kikan mengerjap dalam kegelapan ketika tangga kayu pintu rumahnya berderit lagi. Apakah ada orang yang mencoba masuk? Kenyataan bahwa mencari jalan untuk mendobrak masuk bukan perkara sulit, membuat Kikan sadar bahwa tempat tinggalnya sangat rentan. Tadi ia membuka jendela karena cuaca sore begitu hangat dan ia tidak punya AC yang bisa dihidupkan. lalu ia terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ingat untuk menutup jendela sebelum tidur. Logan bisa dengan mudah merusak kaca jendela ruang tengah di samping tangga lalu menyelinap masuk....


dengan jantung yang serasa naik ke tenggorokan, Kikan turun dari tempat tidur dan mencari-cari ke seluruh ruangan sampai menemukan pentungan. Hanya itu yang dimilikinya untuk membela diri, tetapi ia bertekad tidak akan membiarkan logan menghalanginya menjadi bagian dari hidup Jason. Ia sudah cukup menderita gara-gara kematian Lori. karena tidak melakukan kesalahan apapun pada Lori. selain beberapa telepon gelap sebelum kecelakaan, bisa dikatakan Kikan dihukum karena jatuh cinta pada Rey Stinson. Perasaan tergila-gilanya dulu membuatnya menjadi "motif".


"Siapa itu?" ia benci mendengar suaranya gemetaran. Ia harus terdengar cukup tegas untuk meyakinkan Logan untuk tidak mencoba macam-macam. namun tampaknya pria itu tidak memaksa masuk. Kikan mendengar bunyi gedebuk samar, seakan Logan menjatuhkan sesuatu di terasnya. lalu terdengar gedebuk lagi dan langkah kaki yang bergerak menjauh.


Kikan memegangi pentungan dengan kuat mencoba melintasi lorong menuju pintu depan, berteriak dengan keras "Jangan macam-macam."


Kikan melihat bagian belakang dari sosok tubuh tinggi berpakaian hitam dengan tudung kepala. Ia merasa mendengar orang itu berseru "Brengsek, Ayo pergi!" Orang itu telah pergi meninggalkan propertinya menuju jalan raya, terlalu jauh untuk bisa dikejar Kikan.


"Kikan?"


Anjing yang menyalak juga telah membangunkan ibunya.


"Tidak apa-apa" katanya, ia menyipit agar bisa melihat dalam kegelapan, ingin memastikan bahwa memang tidak ada apa-apa. Tidak ada orang lain di tanah pekarangan mereka, bukan?

__ADS_1


Tak ada seorangpun yang dapat dilihatnya. orang yang tadi ia lihat berlari meninggalkan dua kardus berukuran sedang di depan pintu rumahnya.


Kikan bertanya-tanya kejahatan apa yang direncanakan penduduk kota ini. sambil menggunakan pentungan untuk menyodok kardus-kardus itu agar tidak perlu berada terlalu dekat, Ia yakin kardus itu berisi ular atau sesuatu yang tidak menyenangkan untuk mengancamnya. Ia begitu yakin dengan dugaannya sehingga tidak ingin membuka kardus itu. Tetapi salah satu kardus itu robek ketika membentur lantai dan yang keluar dari situ sama sekali tidak terlihat berbahaya ataupun tidak menyenangkan.


Dari yang bisa dilihatnya, itu... pakaian. Kikan Mencoba membuka kardus lebih lebar, tampaklah makanan kaleng, yang menyebabkan kardus itu berbunyi begitu nyaring ketika membentur lantai.


tidak mungkin Logan atau siapapun membawakan pakaian dan makanan untuknya. Apakah ada niat buruk di balik ini? dan apa yang ada di kardus satunya? yang tidak rusak dan terbuka. Kikan tetap bersikap waspada dengan melihat ke belakang untuk mengecek apakah ada orang di sana. kalau Logan berniat untuk menyakitinya, dia tidak akan mungkin datang jauh-jauh hanya untuk mengantar makanan kaleng.


Suasana di tempat tinggal Kikan begitu sunyi, tidak ada gerakan, tidak ada suara.


"Kikan?"


"anjngku mendengar sesuatu, kalau tidak Mereka tak mungkin bertingkah seperti itu!" ibunya mendesak.


"Cuma aku, mengejar tikus." apapun yang dibawa oleh tamunya, ibunya tak perlu tahu sudah cukup wanita itu tersiksa dengan dikucilkan orang sekitar.


"Berhati-hatilah Nak," ibunya memperingatkan. "Tak seorang pun dikota ini yang menyukaimu."

__ADS_1


" Aku tahu, mom....kau memberitahuku itu setiap hari," Katanya, tapi tidak cukup keras sehingga bisa didengar sampai tempat tinggal ibunya.


"Kau dengar aku?" Tukas ibunya.


Kikan bebicara lebih keras. "Aku dengar, jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri." katanya berusaha tegar.


"Masuklah dan kunci pintu," desak ibunya


"Aku akan masuk," kata Kikan, tapi malah terus mengitari kardus. Apapun isinya ia harus menyingkirkannya terlebih dulu.


Sekali lagi dengan menggunakan pentungan, Kikan menyodok kardus yang sudah terbuka. Isinya memang pakaian. Seperti yang telah ia lihat sebelumnya, kardus itu juga berisi berbagai makanan kaleng. Dan ada kotak sepatu. Awalnya Kikan mengira itu tempat menyimpan bangkai tikus, namun setelah dibuka, ia melihatnya dengan jelas.... Sepatu lari.


"Ada apa ini?" gumamnya. Pakaian pakaian itu untuk wanita, tidak ada tulisan yang menempel, atau darah yang bisa dilihatnya. Semuanya tampak bagus dan baru.


Barang lain juga sama, masih dengan label termasuk beberapa makanan kemasan yang terisi dalam kardus kedua.


Kikan terkesiap... Cairan bening turun dari matanya. "Oh tuhan..."

__ADS_1


Siapa yang membawakan barang - barang ini untuknya.


__ADS_2