Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 66


__ADS_3

Rasanya begitu gegabah untuk menenteng koper itu ke dalam rumah ini, tetapi Kikan tidak bisa meninggalkannya diluar. Dan sekali lagi ia beruntung karena Simon mengambilnya sebelum ia melakukannya. "Biar kubawakan," kata pria itu.


Kikan tak yakin apakah perlu berkomentar tentang kepopuleran lelaki itu. Haruskah ia memuji Simon tentang karirnya?


Menurutnya itu akan menjadi tindakan sopan. Namun Kikan malah berkomentar, "Tempat ini indah sekali."


"Terima kasih." Simon menelengkan kepala seakan-akan ada sesuatu pada Kikan yang tidak masuk akal, tetapi ia sudah menduga akan mendapat reaksi seperti itu, jadi ia tidak tersinggung.


"Aku minta maaf karena mengganggu semua orang selarut ini," ujarnya. "Aku tidak bisa berangkat lebih awal."


"Tidak masalah." Simon meletakkan koper itu di ruang masuk. "Kita akan....meninggalkan kopermu disini dulu. Istriku akan menunjukkan kamar untukmu tak lama lagi. Sebelum itu, ayo ikut menikmati jagung bakar bersama yang lain."


Kikan bersyukur Simon bersikap begitu sopan. "Kedengarannya lezat," ujarnya. Tapi ia takut akan tersedak jika mencoba makan sesuatu sebelum dapat mengendalikan sarafnya.


"Lewat sini."


Simon berjalan mendahuluinya melewati beberapa ruang besar yang pastinya didekorasi oleh tenaga profesional. Kikan berusaha untuk tidak menatap dengan takjub, namun ia memang tak pernah melihat rumah yang begitu mewah. Atau mungkin mewah bukan kata yang tepat. Rumah itu tidak terlihat berlebihan, melainkan berkualitas.

__ADS_1


Di ruang tamu terdapat lukisan yang besar dan dinding kaca yang menghadap teras luar. Kikan dapat melihat sekelompok besar orang yang berkumpul. Tapi ia tak sempat mengenali mereka semua. Ia tak berani melakukan kontak mata dengan siapapun karena takut orang itu akan balas menatapnya dengan rasa ngeri dan jijik. Karena jika itu yang terjadi, ia tak punya pilihan kecuali berjalan keluar ketika Simon membuka pintu dan mengantarnya.


"Rey ada lagi yang mau mengucapkan selamat ulang tahun padamu." Simon harus meninggikan suara untuk mengatasi keriuhan suasana tetapi, satu demi satu, tamu-tamu Rey menolehkan wajah mereka dan terdiam.


Wajah Kikan begitu panas sampai rasanya seolah ia sedang berdiri didekat api. Dan itu sebelum orang yang ada di depan Rey melangkah ke samping, dan ia melihat Rey tengah duduk bersama wanita cantik yang menggelayut di pangkuannya. Pemandangan itu membuat Kikan sedikit mual, seakan Rey sengaja membuat lelucon kejam dengan mengundangnya kesini.


Tetapi kemudian ia menyadari bahwa setiap orang punya pasangan....


Dimana Ia keliru menafsirkannya? ketika Rey meminta Kikan datang, yang mengatakannya seolah-olah akan ada banyak orang, pesta yang cukup besar. Kikan memang mengira akan ada beberapa pasangan. Banyak teman Rey yang sudah menikah. Tapi ia tak tahu bahwa Rey dan Devan akan membawa teman kencan. Tak heran Simon tak tahu harus bilang apa tentang pengaturan tempat tidur. Dia dan istrinya pasti bingung mesti berbuat apa dengan dirinya, dan apakah Rey mengharapkan kedua wanita itu menginap.


" Kikan!" Rey berdiri dengan begitu cepat sampai nyaris menjatuhkan wanita pirang itu ke lantai.


" Maafkan Aku. rencananya memang tidak, tapi kemudian... kemudian..." Kikan tak bisa menyelesaikan kalimat itu. Ia tidak punya alasan yang kuat hingga berubah pikiran, karena satu-satunya yang inginkan adalah berada bersama Rey. Tetapi ia harus mengatakan sesuatu, semua orang tengah memandangnya dengan terkejut. Oleh karena itu ia mengeluarkan hadiah dari bawah lengannya dan menyerahkannya kepada Rey. "Aku hanya ingin memberimu ini."


Rey jelas kaget. Kikan pasti telah membuatnya sangat terkejut. Pasangan Rey dan orang-orang yang lain bertukar pandang dengan tatapan bertanya apa-apaan ini?


Untunglah, Eva Rasmus, yang orang tuanya memiliki penginapan kecil di kota ketika mereka masih SMA, mungkin sekarang juga masih. Langsung melompat bangkit.

__ADS_1


" Kikan! sudah lama sekali! Aku tidak pernah melihatmu sejak kau... kembali ke sini. Duduklah!"


Kelly dan suaminya mendorong kursi yang sebelumnya mereka dudukki bersama ke dekat Eva, sehingga Kikan bisa duduk di sampingnya. Semua kursi lain sudah diduduki.


Kikan mengerjap tanpa daya ke arah mereka. Ia tak ingin mengambil kursi mereka, tidak ingin mengganggu kegembiraan mereka saat itu, Ia berharap dapat meleleh dan lenyap di lantai. Tetapi tidak ada jalan untuk melarikan diri. Belum. "Terima kasih."


Kikan berjanji pada diri sendiri hanya akan duduk di sana selama kira-kira tiga puluh menit dan bersiap-siap untuk merencanakan pulang, untungnya Devan telah memberikan alat pemanggang modern ke tangannya. Selama ini, Kikan hanya menggunakan pemanggang model kuno, yang kembali menyadarkannya bahwa ia sama sekali tidak cocok di lingkungan orang-orang sini.


Tiga puluh menit, Kikan mengingatkan diri sendiri. Ia tak bisa bergegas pergi tanpa lebih mempermalukan diri sendiri. Pertama, ia harus meredakan kekeliruannya dengan bersikap seakan ini bukan masalah besar. Kemudian ia harus memikirkan cara untuk kabur dari pesta ini dan pulang meskipun itu artinya ia harus berjalan kaki.




Rey merasakan beratnya hadiah Kikan di tangannya dan berharap dapat menarik wanita itu ke samping dan menenangkannya serta mengucapkan terima kasih karena sudah mau datang. Tetapi dengan teman kencan yang berdiri disampingnya, yang tampak sama kagetnya dengan setiap orang lain lantaran munculnya gangguan mendadak ini, tindakannya akan dianggap tidak sopan. Satu-satunya cara untuk bisa meredakan rasa malu Kikan adalah dengan menarik perhatian semua orang pada dirinya dengan membuka hadiah itu. "Rasanya berat," katanya. "Aku tidak bisa membayangkan apa isinya."


Rey berharap akan menerima gelang, karena pernah hampir memesan satu berkali-kali. Tetapi hadiah ini terlalu berat, terlalu besar.

__ADS_1


Setiap orang bergerak mendekat ketika Rey merobek kertas pembungkus, sama penasaran dengan dirinya untuk melihat apa yang dibawa Kikan. Mereka telah mendengar begitu banyak cerita tentang Kikan, sebagian cerita itu berasal dari Rey sendiri. Selama ini, Rey begitu percaya Kikan bersalah. Bukan karena ia punya niat buruk atau ingin mencelakai wanita itu, tetapi untuk membenarkan tindakannya menjauhkan Kikan dari dirinya dan Jason.


Kini ia berharap tetap menjaga hubungan baik dengan Kikan. Atau setidaknya mendekatinya sampai taraf tertentu. Ia sadar sekarang bahwa memutuskan hubungan dengan Kikan sangat merugikan dirinya juga wanita itu. Kalau ada yang menjadi jelas dimatanya sekarang adalah ia sangat berterima kasih bisa bertemu dengan Kikan baik dulu maupun saat ini.


__ADS_2