
Sambil mengendarai mobilnya pulang, Rey dengan lirih memaki diri sendiri karena semua yang dikatakan Kikan terus terngiang dalam benaknya. Kata-kata Kikan tidak akan mempengaruhinya begitu dalam seandainya wanita itu menuduhnya atau marah-marah. Mungkin dengan begitu, Rey hanya perlu membela diri. Tetapi Kikan justru merasa bertanggung jawab atas semuanya, selama mereka dulu bersama-sama. Meskipun Rey mengatakan bahwa ia mencintainya dan merenggut keperawanannya. Tentu saja Kikan akan beranggapan dia dapat mempercayai ucapan Rey. Karena selama ini Kikan sangat tulus padanya.
Mudah dimengerti mengapa Kikan merasa bagai dihantam tiba-tiba ketika Rey memutuskan hubungan mereka. Tetapi sejujurnya Rey tidak bermaksud membuat Kikan berada dalam situasi itu. Kikan tak tahu betapa berat tekanan yang Rey harus hadapi dari orang tua, dari setiap orang, termasuk guru-gurunya agar dirinya menjauh dari Kikan. "Tak ada orang yang ingin dia bergaul dengan anak bu Lis." Ibu Rey menginginkan Rey berkencan dengan Lori, anak perempuan sahabatnya. Rey tak pernah tertarik pada Lori. Kikan sangat berarti bagi Rey seperti yang dulu ia katakan pada gadis itu.
Mungkin itu sebabnya ia merasa tersiksa ketika Kikan mengabaikan apa yang sudah Rey katakan dan lakukan. Menghubung-hubungkan perbuatannya dengan cinta yang tak memiliki arti, tak heran Kikan menganggapnya begitu. Rey sudah membuatnya kecewa, meskipun saat itu ia memang belum cukup tua atau dewasa untuk tahu bagaimana bersikap tegas.
Rey bahkan tak yakin bahwa ia harus bersikap tegas, ia tak ingin kehilangan kasih sayang orang tua, mereka pembimbing sekaligus tempatnya bersandar. Dan tentu saja ia tak ingin mengacaukan masa depannya, maka Rey tanpa sadar mengacaukan masa depan Kikan.
Sesekali, Rey memikirkan pada larut malam bagaimana seharusnya ia memperlakukan Kikan, namun makin lama mengenal Kikan sebagai orang dewasa, makin mudah bagi Rey untuk percaya penjelasan Kikan atas kejadian tragis tersebut.
Setelah memarkir mobil di jalan masuk, dan bukan di garasi, karena berenca pergi lagi, Rey berjalan ke rumah yang ia bangun beberapa tahun lalu, untuk memakai kaus bersih dan memeriksa Jason.
"Apakah mom baik-baik saja?" Tanya Jason, ia langsung bergegas keluar kamar begitu mendengar pintu terbuka.
"Dia akan segera sembuh." Rey berharap. Dokter telah mengindikasikan bahwa Kikan akan sembuh. Tapi sepertinya tidak mungkin meninggalkannya disana sendiri, trailer itu tidak ber- AC dan Kikan tidak punya telepon. Bagaimana cara dia meminta bantuan kalau membutuhkan sesuatu.
Ada kemungkinan dia tak dapat turun dari tempat tidur, sehingga Rey berencana kembali kesana dan memeriksanya. Mustahil Rey bisa mengandalkan ibu Lis untuk mengurus apapun atau siapapun. Jika tidak kembali, Rey tidak yakin Kikan bahkan akan mendapat makan malam, dan itu membuatnya khawatir. Terutama Kikan harus makan sebelum minum lebih banyak obat penghilang sakit yang diberikan dokter.
Jason menyingkir sehingga Rey dapat melewatinya di tangga. Lalu membuntutinya ke kamar. "Apakah papa membawanya ke dokter?"
"Ya." Rey mengambil kaus dari salah satu laci pakaian dan mengenakannya lewat kepala. "Dokter membersihkan lukanya dan menjahitnya."
"Dia perlu dijahit? Berapa banyak?"
"Lima. Lukanya cukup besar tapi tidak separah yang dilihat. Luka di kepala selalu mengeluarkan banyak darah, seperti yang dikatakannya."
Jason mengeyakkan diri ditempat tidur sementara Rey masuk ke kamar mandi untuk membasuh tangan dan wajah. "Semua itu membuatku sangat ketakutan," kata Jason dengan cukup lantang agar Rey dapat mendengarnya mengatasi suara air yang mengalir. "Ketika aku melihat Logan mengebut di belakangku dengan jeep-nya, mula-mula kupikir dia hanya main-main denganku. tapi kemudian aku melihat raut mukanya, dan aku sadar kami dalam masalah."
__ADS_1
Ketakutan yang pasti dirasakan anaknya ketika itu membuat Rey kembali marah. Jason baru bisa mengendarai mobil beberapa bulan belakangan ini.
"Bisakah papa percaya Logan akan bertindak seperti itu?" Tanya Jason.
Tentu saja tidak. Rey tahu Logan tidak suka Kikan kembali ke Kota, tetapi ini benar-benar konyol. "Aku akan ke kantor polisi untuk melaporkan tindakan Logan, bagaimana kalau kau ikut denganku, agar bisa menjelaskan persis kejadiannya? "
"Papa akan melaporkan dia?"
"Benar. Logan tidak berhak melakukan perbuatan itu."
Jason tampak enggan. "Tapi papa bahkan tidak menyukai mom."
"Aku tidak pernah bilang begitu."
"Papa tidak senang sewaktu mom kembali ke Kota ini. Dan tidak ingin menemuinya ketika sarapan."
"Aku tadinya tidak yakin dia jadi seperti apa sekarang, itu saja. "
"Anggap saja aku mengambil resiko untuk mempercayai ucapannya. Selama dia tidak merusak kepercayaanku, tidak masalah bagiku dia berada disini."
"Tapi kalau papa membela mom, kita akan berhadapan dengan Logan, dan itu bakal kacau balau. Oma sangat menyukai keluarga itu, dan juga bersahabat dengan kedua orang tua Logan. Dan artinya kita sesekali bertemu dengan Logan."
"Kadang-kadang kau harus melakukan apa yang menurutmu benar, tak peduli akibat buruknya."
Jason tidak berkomentar, jadi Rey mengira Jason sudah pergi. "Jason?"
"Aku disini."
__ADS_1
"Tidakkah menurutmu itu benar?"
"Ya, menurutku itu benar."
Ketika Rey kembali masuk ke kamar, Jason masih ditempat tidur. "Pakailah sepatu. Kita harus pergi sekarang."
Putranya bangkit, tapi tidak segera menuju pintu. Dia mendekat dan memeluk Rey. Itu pelukan singkat seorang laki-laki. Tetapi terasa berharga karena sangat tak terduga.
"Thanks Pa."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ketika Rey kembali ke trailer Kikan, semua tampak tenang. Rey tak ingin membuat Kikan terpaksa turun dari tempat tidur dan melintasi lorong untuk menjawab apabila dia sedang tidur. Oleh karena itu diketuknya pintu dengan pelan. Ketika tidak ada yang muncul, Rey mencoba membuka pintu, terkunci. Rey rasa, entah bagaimana ia harus membangunkan Kikan... Sampai kemudian ia menyadari pintu itu tidak benar - benar terkait. Pintu itu dapat dibukanya tanpa masalah.
Begitu masuk, trailer terasa panas, tapi tidak terlalu panas sehingga membahayakan penghuninya.
Setelah meletakkan sup yang dibelinya dimeja dapur, bersama dengan ransel dan dompet Kikan yang tertinggal di dalam jeep Jason. Rey menuju lorong, mencoba mengetuk pelan untuk memberitahu Kikan kedatangannya. Ia tak ingin membuat Kikan ketakutan.
"Kikan? Ini aku Rey."
Masih belum ada jawaban. Namun pintu kamar tidur sedikit terbuka, Rey melongok ke dalam Kikan sudah mandi, tetapi hanya itu. Dia seakan jatuh ke tempat tidur dengan handuk yang membungkus kepalanya. Dan hanya mengenakan jubah mandi dibalik selimut yang menutupi badannya. Rey tertegun, Kikan memang cantik bahkan ketika dia tampak berantakan.
"Kikan?" Tidak ada jawaban
Rey mendekat ke sebelah Kikan, menyentuh tangannya. "Hei Kikan. Kau baik - baik saja?"
Kikan bergumam dia baik-baik saja dan menggulingkan badan, melepaskan tangannya. Selimut itu tertarik turun ketika dia bergerak, membuat jubahnya sedikit terbuka menampilkan bahunya yang putih. Rey melihat bekas luka dengan bentuk aneh, serta bekas luka baru akibat jatuh ke parit tadi.
__ADS_1
Sambil mengalihkan pandang sebelum melihat lebih banyak lagi bagian tubuh yang terbuka. Rey memaki pelan. Kikan tampak begitu kecil dan lemah terbaring ditempatnya. Logan sungguh biadab karena telah membuat situasinya makin buruk.
🐾 Jangan lupa like setiap babnya, dan berikan juga vote setiap minggunya... Terima kasih para pembaca setia❤️🐾