
Kikan merasa senang, bisa mengemukakan masalah ini ketika punya kesempatan berdua saja bersama Rey. Tidak mungkin dia menelepon Rey untuk mengucapkan semua ini. Ia tidak akan menelepon pria itu karena alasan apapun.. kecuali dalam keadaan darurat dan dia harus menghubungi Jason. "Kau pemuda pertama yang... Yah, kau tahu.."
Rey menatapnya lamat lamat sehingga Kikan tak mampu lagi membalas tatapan itu. "Aku ingat. Aku kan juga disana."
"Kukira kau sudah melupakan semuanya, tapi mungkin wajar saja jika seorang gadis dalam situasi itu merasakan semacam.... Ikatan. Kau pasti bisa memahami itu kan?"
Rey tidak mengatakan bahwa dia bisa. Dia diam saja, jadi Kikan terus mengoceh.
"Aku hanya terlalu naif sehingga tidak menyadari bahwa.. Ucapan 'Aku cinta padamu' bagi seorang... bagi seorang pemuda punya arti berbeda dari yang dimengerti gadis tertentu, itu saja. Kukira kita berdua sungguh-sungguh, meskipun bagaimana mungkin, kita kan masih begitu muda?" Ya tuhan, apa yang kuocehkan? Pikir Kikan.
Apakah itu masuk akal? Ia bahkan berusaha lebih keras menjelaskannya. "Aku terlalu terbuai oleh tiga kata itu dan oleh... ****. Aku benar-benar mabuk kepayang." Kikan tergelak lagi untuk menunjukkan betapa konyolnya ia dulu. "Kemudian aku panik ketika tahu aku akan punya bayi."
Kikan menyelipkan rambut, yang kaku karena darah, ke belakang telinga. "Aku tidak berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakanku, jangan salah sangka. Mestinya aku tidak meneleponmu sesering itu atau lewat di depan rumahmu. 'Pergi' artinya ya 'pergi'. Bukan karena aku sering mendengarmu mengatakannya, tapi mungkin karena aku tidak ingin mendengarnya. Bagaimanapun, kuharap kau mengerti aku tidak akan berusaha memaksakan perasaanku padamu lagi. Aku sudah lebih memahami cara kerja hidup, meskipun aku tak punya pengalaman dengan pria. Jadi kau tidak perlu khawatir. "
"Kau sudah memahami cara kerja hidup." Rey mengulang perkataannya.
Kikan mengatakan itu dalam serangan kata-katanya yang entah darimana. Tetapi mengapa Rey mengutip komentar yang itu? Apakah Kikan berhasil membuatnya mengerti, atau tidak? "Ya barangkali lebih mengerti daripada kebanyakan orang."
"Dan aku cinta padamu, punya arti berbeda bagi pria muda."
__ADS_1
Suara Rey terdengar kasar pada akhir kalimatnya. Membuat Kikan takut pria itu tidak menganggap perkataannya sebagai permintaan maaf sebagaimana yang dimaksudkannya. "Benar. **** dan cinta dua hal yang berbeda, dan anak laki-laki bisa membuat perbedaan itu dengan lebih mudah daripada anak perempuan. Itulah yang kumaksud, aku mengerti sekarang."
"Benarkah... penting sekali pelajaran itu"
Apakah itu sarkastis? Kikan benar-benar bingung. "Itu pelajaran yang ku butuhkan, dan mempelajarinya seperti yang kulakukan dulu berarti aku tidak akan lupa."
Otot di pipi Rey bergerak.
"Maafkan Aku," kata Kikan. "Apakah ucapanku salah? Aku berusaha minta maaf karena... karena jatuh cinta padamu. atau karena tidak mau melepasmu ketika semestinya aku membiarkan kau pergi." Kedengarannya tidak tepat. Kikan sadar itu, maka dia berusaha tidak menjelaskan lagi dan memilih pendekatan langsung. "Tidak peduli apa yang terjadi. Ketahuilah... aku berjanji tidak akan mengistimewakanmu lagi, atau melakukan apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman."
Nah.. itu pasti jelas. Kikan tersenyum memandang Rey, berharap apa yang dikatakannya akhirnya bisa diterima. tetapi Rey justru mengerutkan kening, ada apa?" tanyanya.
Kikan menekankan jemari pada pelipis. Obat pereda sakit itu benar-benar beraksi. "Aku mengakui pikiranku agak.... Mengawur. Apa persisnya yang kukatakan."
"Bahwa kau tidak percaya pada pria," jawab Rey. "Bahwa pria tidak tahu apa artinya cinta."
Kedengarannya itu agak kasar. Apakah tadi aku benar-benar mengatakan itu? pikir Kikan. "Mungkin tidak semua pria," ia berusaha menjelaskan.
"Oke. Hanya aku," kata Rey, lalu berjalan keluar.
__ADS_1
"Aku berusaha meminta maaf!" Kikan berseru dibelakangnya.
Rey menggeleng-geleng seraya berbalik. "Karena pernah mencintaiku?"
Kikan berusaha mengikuti Rey ke depan, tapi badannya terlalu lemah untuk melangkah sejauh itu. Maka dia bersandar ke pintu. "Kau tidak ingin aku mencintaimu! Aku bersumpah tidak sedang mencari-cari kesalahanmu atau menyalahkanmu atas apapun. Aku berusaha mencari alasan agar bisa tetap disini. Aku tidak ingin kau jadi susah hanya karena aku ingin mengenal Jason." Kikan menghela nafas. "Aku merasa tidak enak telah membuatmu kerepotan. Aku berharap kau membiarkanku mengatasi masalahku sendiri."
"Kau pikir kau bisa mengatasi Logan?"
"Aku harus bisa," Kikan menjawab. "Dia bukan urusanmu"
"Ya, dia urusanku. Dia tidak akan lolos dengan perbuatannya."
Perkataan itu mendorong Kikan untuk keluar meskipun kakinya gemetaran. "Jangan bilang begitu, jangan melibatkan diri. Kau pasti tak ingin kehilangan teman gara-gara aku."
"Karena dia teman yang jauh lebih baik ketimbang kau?"
Kikan tertawa lagi, berharap akhirnya masalah ini jelas. "Tak banyak orang bisa menawarkan begitu sedikit padamu, seperti aku."
Rey menggeleng-geleng seraya membalas tatapan Kikan.
__ADS_1
Kikan menggunakan jemari untuk menyisir rambutnya yang acak-acakan. Ia pasti berlumur darah dari lukanya dan tanah akibat jatuh tadi. "Kau tak perlu merasakan konflik Rey. Kau punya semuanya. Nikmati saja dan teruskan hidupmu dengan cara seperti yang kaujalani selama ini." Katanya, kemudian menutup pintu.