Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 54


__ADS_3

Rey tidak yakin ia mau pergi ke Black Coffee pagi ini, sekarang ketika anaknya sudah besar, ia menjadi orang yang paling konsisten dalam kelompoknya. Ia suka mengobrol dengan teman-temannya selama dua puluh atau tiga puluh menit. Tetapi Rey tahu semua orang akan banyak bertanya pagi ini. Terakhir kali mereka ngobrol bersama, Rey pergi ke toilet wanita dan menunjuk wajah Logan, dan meskipun mulai mendapat banyak pesan dari teman-temannya setelah insiden itu, dan juga beberapa telepon, hampir semuanya belum Ia balas.


Rey menyuruh diri sendiri untuk melewatkan pertemuan dengan teman-temannya. Sulit untuk menjelaskan perasaannya kepada Kikan, dia tidak ingin diragukan oleh siapapun.


Tapi pada akhirnya melihat mobil-mobil mereka terparkir di parkiran dan ia tak bisa hanya lewat.


" Hei! Dilan sedang menelpon tetapi mengangguk padanya. Rey melambai dan memesan kopi sebelum duduk bersama Nanda dan Kelly.


" Formasi lengkap minggu ini?" tanya Rey.


Kelly melihat jam. "Masih pagi aku yakin ted dan Devan akan datang."


Nanda mengangguk sambil menatap pintu masuk, "Panjang umur," katanya. Ted telah tiba dan segera diikuti Devan.


Perlu waktu beberapa menit sampai semua orang selesai memesan dan duduk di meja mereka di sudut ruangan, tetapi ia suka karena sepertinya semua siap mendengarkan. Dilan menanyakan tentang perkelahian Rey dengan Logan segera setelah dia selesai menelepon.


"Bagaimana kabar Logan maniak?" pancing Dilan.


Rey mencoba bersikap tenang, "Aku yakin dia baik-baik saja. Hanya perkelahian kecil."


"Tidak terlalu kecil," kata Kelly. "Itu benar-benar mengerikan. Aku belum pernah melihatmu seperti itu."


Rey mengangkat bahu. "Dia tidak berhak mengganggu Kikan, atau siapapun."


Ada momen yang tidak menyenangkan ketika Rey merasa ada yang mengiakan pendapat ibunya, 'Kikan membunuh adiknya, ingat itu?' - tetapi ternyata tidak ada. "omong - omong, hidungmu sepertinya baik-baik saja."


"Seperti yang kubilang... Perkelahian kecil." kata Rey.

__ADS_1


"Kikan sepertinya merasa malu karena kau terlibat, " kata Ted.


Nanda ikut memberikan pendapat. "Itu lebih dari sekedar malu. Kikan begitu takut Rey akan terluka hingga dia bertarung layaknya kucing liar agar bisa keluar. Aku tidak tahu apa yang menurutnya bisa dilakukan, tetapi dia benar - benar ingin membantu."


"Dia memang petarung," gumam Rey.


"Apa yang membuatmu hilang kesabaran seperti itu?" tanya Kelly. "Maksudku, kita bisa saja memanggil polisi."


"Urusannya pasti sudah selesai ketika mereka datang," jawab Rey. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan."


"Apakah Kikan menghargainya?" tanya Kelly.


Rey menyeruput kopi. "Dia tidak menginginkan aku dalam hidupnya. Dan mengingat masa lalu kami, kurasa itu bisa dimengerti."


Dilan merentangkan kaki. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya.


"Membuat semua orang berhenti menyiksanya. Bagaimanapun, dia ibu Jason."


Rey meminum isi cangkir sekali lagi sebelum menjawab. "Tentu saja."


Devan diam saja, tetapi dia terus menyeringai dan itu membuat Rey kesal. Rasanya ia ingin sekali memukul temannya itu.


"Jadi bagaimana dengan kabarmu?" tanya Rey sambil menengok Kelly.


Kelly memandang Rey. "Maaf?"


"Aku dengar kau punya cerita."

__ADS_1


Pipi Kelly memerah dan dia melirik suaminya lalu seulas senyum tersimpul diwajahnya ketika dia memandang sekeliling meja. "Ya, benar. Aku bermaksud mengumumkannya minggu kemarin, tapi... Kita melihat perkelahian itu, lalu aku terpikir menundanya.


Ted bertanya. "Tentang apa ini?"


Kelly menggenggam tangan suaminya. "Levi dan aku akan segera punya anak."


Semua mendadak diam setelah mendengarnya. Rey tidak pernah menyangka kabar yang ingin disampaikan Kelly adalah tentang kehamilan. Ia pikir Kelly tidak boleh hamil karena masalah kesehatan dan obat-obatan yang dia minum, Kelly memiliki masalah dengan ginjalnya.


" Benarkah? Dilan tampak tercengang tetapi mencoba mengatur suaranya agar terdengar antusias. Luar biasa!"


Kelly mengeryit karena usaha teman-temannya menunjukkan antusiasme. "Sudahlah! aku tahu apa yang kalian pikirkan. Kalian takut aku tidak bisa melalui kehamilan ini, bahwa ini akan membuatku sakit. Tapi Levi dan aku telah membicarakan ini sejak lama, bersama dengan dokterku, tentu saja. Dan kami memutuskan untuk melanjutkan, apapun resikonya."


Percakapan berlanjut dengan rencana mereka merayakan ulang tahun Rey di pondok. Devan menyarankan Rey untuk mengajak Kikan ikut.


" Aku akan mengajaknya." kata Rey. walaupun ia tak yakin kikan mau untuk pergi, karena ia sudah mencobanya semalam.


" Oh iya, Kenapa kau tidak menjawab teleponku semalam?" tanya Devan.


" Aku sibuk." jawab Rey.


"Sibuk apa?"


"Makan malam."


"Kau punya kencan?" tanya teman-temannya hampir bersamaan.


Sekali lagi Rey merasa tidak nyaman, harus menjelaskan hubungannya dengan Kikan. "Jason mengundang ibunya."

__ADS_1


"Oh." sunyi sejenak. lalu Nanda berkata, "Bagaimana acaranya? "


"Baik. Sempurna," Rey berbohong, dan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


__ADS_2