
" Aku belum perlu berkencan," kata Kikan.
"Meski begitu, ayahmu harus memamerkan profilnya. Dia jauh lebih menarik daripada aku kalau sudah masuk persaingan pasar."
Raut muka Rey menunjukkan dia tidak peduli dengan hal itu. "Aku belum siap untuk kencan daring."
" Memang Papa ingin tetap melajang seumur hidup?" tanya Jason.
Rey dengan main-main meninju lengan anak mereka. "Tidak, tapi aku akan menjalani kehidupan cintaku tanpa bantuanmu, terima kasih."
" Baiklah. kalau begitu aku akan membantu Mom ketika kau siap. kau ingin menikah kan mom?"
Kikan berpura-pura senang dengan gagang emas di meja rias. "Suatu hari nanti." Jawabnya.
" Ingin lebih banyak anak?" tanya Jason.
Sepertinya aneh kalau pertanyaan itu muncul dari Jason, tetapi Kikan senang Jason seolah tak terganggu dengan pikiran itu. "Itu akan menyenangkan kalau.... kalau kau tidak keberatan."
" Bukan aku yang harus memutuskan," kata Jason.
" Saatnya bicara hal lain," kata Rey sambil mengajak mereka keluar kamar. "Dagingnya pasti sudah matang sekarang."
Setelah mereka kembali ke ruang duduk, Kikan berhenti sejenak untuk memandangi berbagai foto pertumbuhan Jason, dan kaget ketika Rey juga ikut berhenti.
" Ini bagus sekali," kata Kikan sambil menghela nafas, perhatiannya sepenuhnya terserap pada foto-foto anaknya sepanjang tahun-tahun yang tidak dapat ia lalui bersamanya.
" Aku seharusnya mengirimkan kepadamu beberapa salinannya," kata Rey, dengan nada suara menyesal.
" Aku dapat mengerti kenapa kau tidak mengirimkannya. Aku membeli kamera sekali pakai di toko tadi, berharap aku dapat memotretnya malam ini."
" Aku juga akan mengirimkan kepadamu beberapa salinan foto-foto ini. aku sudah memindahnya sehingga dapat dengan mudah mengirimkan email kepadamu dalam bentuk berkas digital." Kata Rey.
" Terima kasih" ucap Kikan.
Rey menuruni tangga mendahului mereka.
" Aku tidak tahu mengapa Papa tidak membiarkan aku memasang profilnya di match.com," kata Jason mengeluh
__ADS_1
" Mungkin dia pikir itu membuatnya tampak putus asa?"
" Tapi banyak orang seusia Papa berkencan"
" Maksudmu seusia kami?" Kikan mengedipkan mata pada Jason. Ia tak yakin ada wanita yang akan menolak pria seperti Rey. Rey tampan, kuat, karismatik, sukses... semua yang diinginkan wanita. Bukan berarti Kikan dapat melihat Rey seperti itu. "Lebih baik kita membantunya," kata Kikan.
Beberapa menit kemudian mereka semua ada di teras, duduk mengelilingi meja piknik dengan piring penuh.
" Aromanya sedap," kata Kikan sambil menarik daging iganya hingga lepas dari tulang.
Sebelumnya ia mengira akan merasa tidak nyaman makan malam di rumah Rey, dan pada awalnya memang agak canggung. Rey sudah tujuh belas tahun membangun kehidupan yang menyenangkan, sementara Ia baru memulainya. Tapi sambil makan dan bersantai di sekitar geladak, mengobrol dan tertawa serta berfoto-foto, Kikan mulai merasa senang. mereka membicarakan pekerjaan terakhir Rey, pelajaran Jason dan teman-temannya, bisnis Kikan, dan semua perubahan yang terjadi di kota ini pada umumnya.
Sudah hampir gelap ketika mereka akhirnya berdiri untuk membersihkan meja.
" Makan malamnya enak." Saat itu, Kikan berharap salah satu dari mereka akan berkata bahwa sekarang waktunya nonton film, tetapi Rey mengatakan mereka akan berenang dan bertanya apakah Kikan membawa pakaian renangnya.
" Mom tidak punya," kata Jason.
Saat yang sama kikan juga berkata. "Aku akan menonton kalian berdua saja."
Kikan tidak dapat membayangkan apa yang mungkin mereka miliki. Mereka berdua jauh lebih besar daripada dirinya. "Tidak perlu. Aku akan memotret lagi dan aku akan merendam kaki di anak tangga kolam."
Rey tidak sempat membujuk Kikan. Jason belum apa-apa sudah berusaha mendorong ayahnya ke air kolam, dan mereka mulai bergelut, masing-masing berusaha untuk memperdaya yang lain.
Kikan beberapa kali memotret mereka. Lalu ia meletakkan kameranya, bermaksud melangkah ke anak tangga terakhir dari kolam. tetapi ketika ia tahu betapa sempoyongan Rey dan Jason saat berusaha menyeimbangkan badan di tepi kolam, betapa ia dapat dengan mudah mendorong mereka berdua masuk kembali ke kolam, Kikan merasakan dorongan untuk mengganggu mereka. Dengan arah yang mendadak berubah, ia lari dan mendorong mereka kuat-kuat. Mereka pun terjatuh kembali ke kolam dengan seruan kaget dan percikan besar air.
Kikan tertawa begitu keras ketika mereka muncul di permukaan air hingga Ia nyaris tak sanggup berdiri. Tetapi ia berhenti tertawa ketika mendengar Rey berkata, "Awas, aku akan membalas," dan Kikan melihat kerlingan jahil di mata mereka. ayah dan anak itu mengejarnya.
Keinginannya bercanda langsung lenyap. dengan jeritan panik, Ia lari masuk ke rumah.
" Kau ingin bermain curang?" Rey berseru dan menangkap Kikan, selagi Kikan berusaha membuka pintu kaca.
" Rey aku tidak pakai baju renang!"
Mereka sudah masuk kolam dengan berpakaian lengkap, Rey jelas tidak peduli. Dia mengangkat Kikan dengan satu lengan, membawanya kembali ke kolam, dan Jason menepi ketika ayahnya menyeburkan Kikan ke bagian kolam yang dalam.
Kikan tidak pernah berenang lagi sejak remaja, tetapi ia tidak lupa caranya. Dia dapat dengan mudah berenang ke tepi kalau mau. Tetapi ia malah muncul ke permukaan, meneguk air kolam, dan memercik-mercikkan air seolah ia mungkin akan tenggelam.
__ADS_1
Kikan melihat kepanikan melintas di wajah Rey sejenak sebelum pria itu terjun menyelam untuk menyelamatkannya. Tetapi ketika Rey berhasil memegangnya, Kikan mendorongnya menjauh.
" Kikan!" seru Rey, masih cemas.
Kikan tertawa ketika ia mulai menjejak air kolam. "Kena kau!" katanya.
Rey menyibakkan rambutnya yang basah dari wajah. "Kau nyaris membuatku kena serangan jantung!"
Kikan memercikkan air ke arahnya. "Kau menceburkan aku ke kolam tanpa bertanya dulu apakah aku dapat berenang!"
" Memang," Kata Rey, dan kembali menyelam, menyeret Kikan ke bawah dengan satu kakinya.
Setelah itu, yang terlihat adalah percikan air dari pergulatan seseorang yang berusaha menenggelamkan yang lain. Jason akan menyeretnya lebih dalam sesekali, tapi lebih sering mereka bersekutu untuk menyeret Rey. selama lima belaa atau dua puluh menit berikutnya, mereka berebutan dan tertawa keras hingga nyaris tidak dapat bernafas, apalagi berbicara. Hanya ketika ada suara yang berseru kepada mereka dari geladak maka mereka berhenti.
" Hey Jas. Apa yang terjadi dengan kalian malam ini?"
Sambil berusaha menghirup udara, mereka menyebar dan mendongak melihat Tristan.
" Apa maksudmu?" tanya Jason. "Apa kita punya rencana?"
" Kau bilang kau akan membantuku mengajak Ambar untuk pesta malam perpisahan, ingat?"
" Oh, ya! kita akan mengumpulkan barang berburu harta karun untuk mengejutkan dia. Maaf aku lupa."
" Belum terlalu malam kan?" tanya Tristan.
" Mungkin tidak, tapi..."
Jason melihat sekilas ke ayahnya, dan Rey melambai menyuruhnya pergi. "Aku akan mengantar ibumu pulang. Jangan khawatir. Pergilah dengan Tristan."
" Tidak apa-apa Mom?" tanya Jason.
Kikan tersenyum. "Tentu tidak."
" Trims." Jason berenang ke tepi kolam tetapi berhenti di sana, tampak senyuman bahagia dan lelah di wajahnya. "Aku senang. aku senang Mom datang," katanya pada Kikan.
" Aku juga," kata Kikan, dan mengamati Jason melangkah masuk ke rumah dengan temannya.
__ADS_1