
Rey sedang berada di ruang kerjanya, ketika Devan mampir.
"Apa maksudmu kau memberi Kikan tumpangan?"
"Dia sedang berjalan kaki dipinggir jalan saat aku hendak menemui Alex."
Rey ingin bertanya lebih, namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Dan?"
"Waktu aku bertemu dengannya, dia sudah setengah perjalanan dan kakinya lecet-lecet begitu parah sampai dia nyaris tidak bisa melangkah lagi."
Rey menarik nafas panjang. "Dia mungkin pulang berjalan kaki dari kafe tempat kami sarapan kemarin. Kubilang padanya jaraknya terlalu jauh, apalagi dia memakai sendal"
Bayangan itu membuat Rey meringis karena tidak tega. "Apa dia mengenalimu ?"
"Langsung. Itulah sebabnya aku sulit sekali memintanya naik ke mobilku."
"Kenapa? kau tidak punya hubungan buruk dengannya."
"Tapi kau punya, dan aku bagian dari orang - orang terdekatmu"
Peran Rey telah berubah dimata Kikan, dari sebelumnya objek cinta kini menjadi musuh. Saat sarapan wanita itu bersikap hati - hati untuk tidak menunjukkan ketidaksukaannya, tapi dia memang nyaris tidak pernah memandang Rey. "Bagaimana kau meyakinkannya?"
"Aku berkeras mengajaknya. Aku tidak sampai hati melihatnya terus berjalan kaki, dengan tertatih."
__ADS_1
Rey berpikir dialah yang seharusnya mendesak untuk memgantar Kikan. Kikan memang bukan tanggung jawabnya, tapi entah bagaimana terasa seperti itu. "Apa dia cerita kami ketemu sebelum itu ?"
"Tidak. Dia tidak banyak bicara."
Lalu apa tujuan Devan mendatanginya? "Cuma itu yang ingin kau ceritakan? Bahwa kau memberinya tumpangan?"
Devan berdehem. "Sebenarnya tidak. Aku ingin tahu, apakah kau keberatan kalau..."
"Apa?"
"Kalau aku membelikannya beberapa barang?"
Rey terpaku beberapa lama, terdiam, ia berusaha lebih memperhatikan. "Kau bicara apa? Barang-barang seperti apa?"
"Kenapa kau mau melakukan itu?"
"Karena aku kasihan padanya, oke? Dia tidak punya apa apa. Aku tidak tahu sudah berapa lama sejak kau terakhir datang ke rumah Bu. Lis. Tapi... Kelihatannya tidak bagus. Ketika sudah tidak membutuhkan sesuatu, dia melemparkan begitu saja di halaman. Dengan permulaan seperti itu, sulit bagi Kikan untuk membangun kembali hidupnya. Dia tidak mungkin menabung banyak dipenjara, tidak dengan uang yang selalu dikirimkannya kepadamu. "
Rey menggeleng tidak percaya." Sejak kapan kau punya kasih sayang seperti itu pada mantan pacarku? "
" Sejak aku melihatnya tersaruk saruk di jalan, dan dia ragu - ragu untuk menerima bantuan yang sangat kecil, karena takut bantuan itu berubah menjadi pukulan lain ke wajahnya. Dia mengingatkanku pada hewan yang dianiaya. Caranya berusaha menghindari orang atau menyingkir jauh dari mereka. "
" Kau mempelajari itu semua, hanya dengan satu kali pertemuan?"
__ADS_1
" entahlah... "
" Bahkan setelah masuk mobil, dia memegangi pintu. Kelihatannya dia siap melompat keluar bahkan ketika aku mengangkat tangan untuk menggaruk. Jalan yang harus dilaluinya nanti sulit, terutama dikota ini. Tapi dia menantang orang - orang yang mencelanya, demi anaknya. Itu butuh nyali... Mau tak mau aku kagum. "
" Rey merasakan kekaguman yang sama, tetapi ia benci mengakuinya, benci mengakui bahwa ia akan pergi kemana saja, kecuali kembali ke Kota ini, jika berada pada posisi Kikan. Tidak banyak orang yang bisa tahan menghadapi sentimen negatif sehebat itu.
"Dia benar benar mulia, mau maunya menghadapi situasi yang tidak menguntungkan semacam ini."
Mulia bukanlah kata yang pernah Rey ucapan jika berkaitan dengan Kikan. "Kau serius?"
"Aku tidak mau berdebat apakah dia benar - benar pembunuh Rey. Menurutku, itu masa lalu. Siapa yang bisa mengatakan yang sedang dipikirkannya ketika dia melakukan apapun yang dilakukannya? Dan yang pasti, menurut hukum, dia sudah membayar utang pada masyarakat. Tujuh belas tahun adalah waktu yang lama, dan aku salah satunya yang siap membiarkannya melanjutkan hidup. "
Rey menggosokkan tangannya ke wajah. Kalau yang dikatakan Kikan di pengadilan, dan yang dikatakannya sewaktu sarapan itu, tentang teman yang merebut setir mobil itu benar. Dia bahkan tidak bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Dan jika mau jujur, sebenarnya tawaran Devan untuk membantu Kikan mengganggunya karena alasan lain. Alasan yang tak ingin dipikirkannya dengan sungguh-sungguh. "Kau mau membelikannya apa?"
"Sepatu baru yang nyaman, jika dia harus berjalan kaki kemana mana. Beberapa kebutuhan pokok. Tidak banyak"
Rey meringis tidak suka, menurutnya Devan bersikap terlalu peduli, walaupun niatnya baik. Rey sendiri tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti ini. "Dia tidak akan mau menerima sedekah, terutama dariku, atau salah satu temanku."
"Aku berenca untuk tidak memberinya pilihan lain"
"Bagaimana kau akan melakukannya?"
"Aku akan membeli barang dan akan meninggalkannya di depan pintu" Devan berpikir idenya cukup cemerlang
__ADS_1