
Begitu Rey menyebut dokter, Kikan berusaha melepaskan diri, "Tidak aku... aku tidak butuh dokter."
"Dia akan memeriksa luka itu, memberitahu kita apakah luka itu perlu dijahit."
"Kalau ke dokter, artinya ada biaya yang dikeluarkan. Sementara aku.. Aku punya rencana lain, untuk penghasilanku dalam waktu dekat ini."
Penghasilan dari mana? Rey ragu Kikan punya penghasilan, tetapi ia tidak bisa mengatakannya. "Kikan..."
"Hentikan." Katanya, "Aku pernah mengalami yang lebih buruk. Ini bukan apa-apa."
Seraya mengamati Kikan dengan cermat, Rey yakin wanita itu merasa pusing, "Kalau begitu lalukan ini demi ketenangan hati Jason."
"Jangan."
"Jangan apa?"
"Aku belum punya uang untuk biaya dokter. Aku yakin kau tahu itu."
"Aku yang akan membayar tagihannya," kata Rey. Tapi mestinya ia tahu itu tidak akan dapat meyakinkan Kikan.
Kikan dengan halus mencoba menjauh darinya. Lalu Kikan mulai berjalan dengan langkah cepat daripada seharusnya. "Aku baik-baik saja." Katanya "Pergilah mengurus Jason."
"Brengsek, Kikan." Rey bergegas mengejarnya. "Kenapa kau begitu keras kepala? Biayanya tidak akan terlalu mahal."
Kikan tidak repot-repot menengok ketika mendengarnya bicara, jadi Rey berbicara dengan punggungnya. "Itu hanya buang-buang uang" kata wanita itu. "Aku baik - baik saja, seperti yang kubilang tadi."
"Jaraknya tujuh kilo lebih ke rumahmu. Kau tidak akan sampai kesana."
Kikan tidak berkomentar
__ADS_1
"Tidak lama lagi kau tak akan bisa melihat arah jalan, dengan darah yang terus mengucur itu."
Lagi-lagi Kikan tidak merespon. Dia berusaha menjaga jarak diantara mereka. Dan tampaknya dia yakin akan berhasil, tetapi rey tidak mau melepaskannya. Ia tak tahu apakah Kikan akan sampai ke rumahnya dengan selamat. Maka ia berlari kecil mengejar Kikan dan menariknya ke pelukan, yang tidak sulit karena tubuh wanita itu tidak berat.
"Ah!" jerit Kikan. Rey mengejutkannya dan tak mengira akan diperlakukan seperti itu. Rey menduga kepala Kikan juga sakit, dan membiarkan wanita itu membandel tidak ada gunanya.
"Kita lakukan dengan caraku," kata Rey, lalu menggendong Kikan menaiki pikap.
Kikan merasa ingin muntah. Rasa sakit itu, ditambah rasa malu yang begitu besar dan penyesalan mulai mempengaruhinya. Ia tak seharusnya menaiki jeep Jason tadi. Rey pasti tidak ingin Jason menghabiskan waktu bersamanya jika anak itu tidak aman. Hanya itulah yang dapat dipikirkannya sementara ia menyeka darah yang mengalir dari luka di dekat alis kanannya. Dalam usaha menjaga agar darah itu tidak menodai kain pelapis jok pikap Rey. Ia sudah tidak lagi berusaha menyelamatkan baju barunya.
Rey tampak muram ketika menyetir. Kikan dapat dengan mudah membayangkan apa yang sedang dipikikan pria itu. Bahwa Rey sudah tahu keadaan akan menjadi mimpi buruk ketika membiarkan Kikan pulang ke kampung halaman. Bahwa seharusnya Kikan pergi entah kemana selain kesini. Bahwa Kikan tidak punya hak menghancurkan hidupnya untuk kedua kalinya. Dan yang terburuk, bahwa Jason jelas akan lebih bahagia tanpa Kikan.
Sayangnya, Kikan tidak merasa cukup kuat untuk mengubah situasi. Ia harus menunggu dan berharap masih diizinkan berkomunikasi dengan Jason. Dan mungkin menonton pertandingannya, setelah semua ini lewat.
Ketika mereka berhenti di satu-satunya lampu merah di kota, Rey meliriknya dan pasti melihat Kikan sia sia menahan darahnya. Kikan tidak punya apa-apa untuk menahan darah itu, maka Rey melepaskan kaus yang dipakainya.
"Ini gunakan ini."
Sambil menutup mata, Kikan menekankan kain itu ke kepalanya kemudian menempelkan ke jendela agar tidak bergeser.
"Kau baik-baik saja?" Rey bertanya ketika mereka parkir di depan rumah yang tidak dikenal Kikan.
Ia tidak mau repot repot menjawab. Ia tidak baik-baik saja, tetapi itu tidak sepenuhnya karena lukanya. Kikan lebih merasa kecewa lebih dari apapun. "Kita dimana?"
"Dirumah dokter Harris. Sekarang minggu kita tidak bisa menemuinya di tempat praktek."
"Kita tidak boleh mengganggu siapapun dirumahnya!" Kikan memprotes, tapi Rey sudah turun dari pikap
"Astaga," gerutu Kikan saat Rey bergegas ke pintu rumah, dan merasa lebih kesal ketika dokter itu membuka pintu, melihat kearahnya, dan mengangguk kepada Rey. Kikan tahu dari ekspresi Rey, bahwa Kikan akan menyerah.
__ADS_1
Ketika mendatanginya, Rey tidak membantu Kikan turun seperti yang diperkirakan. Rey menggendongnya lagi. Namun kali ini terasa lebih canggung karena dia tidak mengenakan baju. Kausnya menggumpal di tangan Kikan.
Kikan dapat merasakan kulit hangat Rey di pipinya, oleh karena itu dia berusaha menjauhkan kepala. Tapi posisi itu, membuat nya begitu kesakitan sehingga dia tak mampu melakukannya lama-lama. Dan tampaknya Rey mulai tidak sabar melihat usahanya menghindari kontak, karena dia menguatkan pelukan sehingga Kikan tak bisa berbuat apa-apa.
"Kau mengalami benturan keras," kata dokter ketika mereka masuk rumah.
"Tidak terlalu parah." sahut Kikan.
Dokter itu memberi isyarat pada Rey untuk ke dapur, lalu mengikuti mereka. "Mari kita periksa." Katanya
Dokter itu mengambil kaus berdarah itu sesaat setelah Rey mendudukkan Kikan di kursi. "Kita harus membersihkannya dahulu sebelum mengetahui seberapa dalam lukanya."
Kikan menguatkan diri melawan denyut kencang di dalam kepalanya yang terasa semakin parah. "Cuma luka kecil."
"Menurutku luka kecil itu membutuhkan beberapa jahitan." kata dokter dengan suara datar.
"Pakai Band-Aid saja cukup. Lalu aku akan segera pulang. Sekarang hari minggu, aku yakin bukan ini yang ingin kau lakukan."
"Tenang saja," sahut dokter itu. "Tidak akan lama."
Bahkan jika berlangsung cepat, tidak ada yang bisa dilihat Kikan kecuali Rey. Yang berdiri di dekatnya, tampak tidak senang dengan kedua lengan terlihat didada.
Dokter itu membersihkannya luka Kikan, kemudian mempertimbangkan apakah perlu menjahitnya. Sudah lama sekali Kikan tak pernah melihat seorang pria dalam keadaan tanpa baju, sehingga ia tergoda untuk memandang Rey. Oleh karena itu ia berusaha sebisa mungkin memusatkan perhatian pada kaki sendiri, pada pangkuan, pada lantai. Meski begitu ia sempat melirik Rey cukup lama tadi. Sehingga dapat melihat perbedaan fisik pria itu sejak SMA menjadikan penampilannya jauh lebih baik. Pekerjaannya membuat tubuh Rey tetap gagah. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu, dan kebanyakan wanita akan memganggapnya sangat menarik.
Tetapi bukan aku. Kata Kikan pada diri sendiri. Ia sama sekali tidak boleh mengagumi atau tertarik sedikitpun pada pria itu.
"Kau akan sembuh dengan bekas luka lebih kecil kalau aku menjahitnya," kata dokter Harris.
"Tidak jadi soal. Aku akan baik-baik saja." Jawabnya "Aku juga punya bekas luka lain."
__ADS_1
.
🐾Jangan lupa dukungannya...Like, dan vote🐾