Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 63


__ADS_3

Empat puluh menit kemudian, Kikan mengenakan blus biru dengan rok bermotif cantik yang ditemukannya dalam obralan di salah satu toko untuk wisatawan kemudian melirik jam. Mereka mestinya datang jam 19.00. Lima belas menit lagi. Kikan kembali memperhatikan meja, meluruskan garpu di piring Jason dan menata kembali bunga liar yang dipetiknya di dekat sungai kecil dan diletakkannya dalam tiga gelas toples yang dicelupkannya ke cat merah dan diikat jadi satu dengan pita sebagai hiasan di tengah meja. Lalu ia ke dapur untuk menaburkan keju permesan parut di salad hijau dan mengecek kue bolu yang dibuatnya. Sebelum akhirnya berjalan ke ruang tamu untuk mengintip dari jendela.


Pada pukul 18.55 pikap Rey berbelok masuk ke halaman dan Kikan merasakan perutnya bergolak. Entah mengapa ia menjadi begitu gelisah. Mereka hanya akan makan bersama. Tapi sepertinya ia tak mampu membuat jantungnya berdegup dalam kecepatan normal.


Mungkin ia takut ibunya akan merusak semuanya. Kikan telah berdebat dengan diri sendiri apakah akan mengundang ibunya, atau mencoba menikmati makan malam di sana, tapi ia tidak bisa membayangkan mereka berempat bersama-sama. Rasanya terlalu cepat untuk itu. Jadi ia membawakan hidangan untuk ibunya lebih awal dan memintanya untuk menghangatkan hidangan itu jika ia sudah lapar.


Ketika mendengar ketukan di pintu, Kikan ingin bergegas tetapi menahan diri. menghitung sampai lima, agar tidak merasa tampak terlalu bersemangat, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu. "Hei, ayo masuk."


Rey membawakan seikat bunga yang diserahkannya kepada Kikan. "Kau tampak cantik," katanya.


Dia sendiri kelihatan tampan, habis mandi dan mengenakan celana warna krem dengan kaos katun coklat yang tampak pas di badannya membuat kilau emas di matanya tampak menawan.


" Trims." Kikan tersenyum tetapi berkata pada diri sendiri untuk tidak menganggap pembicaraan seperti itu terlalu serius. Rey hanya bersikap sopan. Orang-orang biasa berkata seperti itu ketika mereka datang ke rumah orang lain untuk makan malam.


sambil memaksakan pandangannya lepas dari Rey, Kikan menyapa anak mereka. "Kuharap masakanku lezat, seperti yang kalian tahu, memasak adalah kegiatan baru bagiku, jadi mudah-mudahan kalian tidak berharap terlalu tinggi.


Jason memeluknya. "Kalau saus spaghetti Mom separuh enaknya dari kue buatanmu, kami pasti akan suka."


Rey batuk-batuk "Alergi," katanya ketika Kikan memandangnya. "Baunya sedap."


Kikan masuk untuk mencari wadah untuk meletakkan bunga. Tidak seperti bunga-bunganya, bunga ini tidak liar, bunga yang jelas dibeli di toko.


"Aku ada pertandingan lagi hari senin," Jason mengumumkan ketika Kikan mencari-cari wadah di lemarinya.


"Pertandingan ke kandang lawan?"


"Ya."


"Aku akan menonton." kata Kikan.


"Mom bahkan belum tahu tempatnya."


"Tidak jadi soal," kata Kikan, dan ia mendengar Jason tertawa.


Ketika Jason ke kamar mandi, Rey berjalan ke ruang tempat dapur menghadap ke meja makan. "Ada yang bisa kulakukan untuk membantu?"


Dia bisa berhenti terlihat tampan dan beraroma harum seperti sekarang. Itu akan membuat Kikan lebih mudah mengendalikan pikirannya.

__ADS_1


Ketika Kikan tidak bisa menemukan wadah yang cocok untuk digunakan sebagai vas, Rey berjalan melewatinya, mencuci kaleng saus tomat besar yang tadi dibuang Kikan di tempat sampah dan memasukkan bunga itu kesana.


"Ide bagus," katanya.


Rey mengedip padanya. "Aku memang bisa diandalkan."


Kikan mengabaikan implikasi dari pernyataan itu, meskipun Rey tersenyum lebar untuk menyampaikan makna yang dimaksudkannya.


"Ada hal lain yang dapat kulakukan?" tanyanya.


"Aku sudah bisa mengatasinya. Duduklah. Kau lapar?" tanya Kikan.


"Sangat."


"Yah, ini tidak akan menyamai masakan apapun yang pernah kau makan di rumah ibumu. Tapi... mudah-mudahan rasanya enak."


"Berada disini saja aku sudah senang," kata Rey terdengar begitu tulus sehingga Kikan berpaling untuk memandangnya.


"Kau tampak cantik," kata Rey lagi, hanya saja kali ini tidak ada Jason yang bisa melihat ekspresi wajahnya. Rey bertingkah seakan tidak sanggup menahan diri untuk tidak menyentuhnya.


"Aku akan lebih senang kalau kau mau datang ke pondok." kata Rey.


"Lebih baik aku tidak ikut. Jadi aku bisa membantu menemani Jason. Tidak ada alasan dia harus pergi ke rumah Tristan, tahu. Dia bisa datang kesini kalau dia mau."


"Orang tua Tristan mengajak anak-anak berlibur ke luar kota."


"Jadi dia juga akan pergi akhir pekan?" tanya Kikan.


Rey mengamatinya. "Lihat? Jason tidak akan membutuhkanmu. Sebaiknya kau ikut aku."


"Itu hanya akan membuat semua orang bingung," kata Kikan. Terutama dirinya sendiri.


"Tidak. Nanti akan banyak orang di pesta. Kau hanya salah satu dari banyak tamu yang ada."


Kikan tidak pernah pergi kemanapun seperti itu. Dan ia belum pernah ikut dalam kelompok orang yang merayakan sesuatu dan bersenang-senang sejak SMA. Ia pun merasa tergoda. Di samping itu, Ia sudah menyiapkan hadiah yang sangat bagus untuk Rey. Kalau saja hadiah itu bisa tiba tepat waktu lewat jasa kurir...


Tetapi Kikan menggeleng. Dia tidak bisa membayangkan dirinya bergaul dengan teman-teman Rey, tidak bisa membayangkan pria itu senang melihat tatapan orang pada dirinya. "Aku berharap aku bisa datang," gumamnya.

__ADS_1


Rey meletakkan kedua tangan di bahu Kikan. "Kau bisa datang, Kikan. Yang perlu kau lakukan hanya menyetujuinya"


Rey cukup dekat sehingga Kikan bisa merasakan panas tubuhnya, dan itu mendatangkan kembali ingatan bagaimana pria itu menyentuhnya di kolam renang. "Kadang-kadang aku tidak tahu apakah kau sedang... Menggodaku..."


" Tentu saja tidak!"


Kikan agak terkejut mendengar kemarahan Rey. "Atau... Mengujiku."


" Untuk apa?" Desak pria itu.


" Untuk memastikan kau aman, mungkin. bahwa kau tidak perlu khawatir aku akan.... terlalu terikat."


Sentuhan Rey mengencang. "Aku tidak takut dengan itu, Kikan."


Lalu apa yang dilakukannya? Kikan tahu apa yang akan dikatakan ibunya. Bahwa Rey akan memanfaatkannya dan menyingkirkannya lagi. Kikan tidak mau mempercayainya, tetapi Rey bersikap seakan masih tertarik padanya, padahal Kikan tidak punya apa-apa yang bisa menarik minat seorang pria seperti Rey. Apakah ibunya benar? Apakah Rey berharap akan menerima keuntungan fisik sebagai balasan atas kebaikannya terkait Jason?


" Jangan ketakutan begitu," Rey menambahkan. "Untuk sekarang, aku mengundangmu datang ke pestaku. Itu saja."


" Tapi kedatanganku di sana hanya akan menimbulkan masalah."


" Bagaimana bisa?" tanya Rey.


Memang Rey telah melupakan apa yang mereka lakukan di kolam renang? Betapa mudahnya kejadian itu membawa mereka melangkah lebih jauh? "Orang-orang akan bergunjing karena satu hal." ujar Kikan.


" Tentang apa?"


" Bahwa aku.... aku tidak belajar dari pengalaman."


" Kikan...."


Ketika mendengar guyuran air di kamar mandi dan langkah Jason di lorong, Kikan mengangkat jemari ke bibir dan bergegas menjauhi Rey karena takut anak mereka akan melihat mereka berdiri begitu dekat.


Rey menekankan ibu jari dan telunjuk di puncak batang hidung ketika mendengar Kikan berkata pada Jason bahwa dia membuat bolu coklat. Anak itu mengoceh pada ibunya. Terutama ketika malam semakin larut. Kikan memusatkan pembicaraan mereka pada Jason untuk mengobrol tentang pesta akhir tahun, yang akan segera tiba, latihan basketnya, pertandingan-pertandingannya, teman-temannya, berbagai universitas yang dipertimbangkannya.


Rey makan tanpa banyak bicara, dan tertegun karena masakannya begitu lezat. Setelah merasakan biskuit yang dibawakan ke pertandingan Jason, Rey mengira mereka akan terpaksa menelan apa saja yang dimasak wanita itu. Tetapi ia belum pernah menikmati spaghetti yang lebih sedap, dan Jason sesenang Rey saat menikmati makan malam ini. Bahkan makanan penutupnya juga enak.


Kikan membantu mereka memakan semuanya, termasuk makanan penutup, tetapi dia sendiri makan sangat sedikit. Rey memperhatikan itu.

__ADS_1


__ADS_2