
Bunyi pintu terbanting menutup bergema dengan keras, dan keheningan yang muncul kemudian.
Kikan menyadari Rey membantunya memegangi lengan,untuk menopang tubuhnya. "Maaf atas hal itu."
"Jangan khawatir. Ayo kembali ke trailermu." kata Rey.
Bagaimanapun, Rey tak yakin apa yang harus dia lakukan sekarang. Mungkin Rey akan berpamitan, agar ia bisa segera pulang.
Dengan hati-hati, Kikan mulai menuruni anak tangga. "Dia tak seburuk kelihatannya. Dia hanya... melindungi diriku dengan caranya sendiri."
Ketika Kikan tersandung, Rey menangkapnya dan semestinya menggendongnya lagi. Badan Kikan begitu ringan sehingga pasti lebih mudah melakukan itu, tapi Rey tahu Kikan akan protes. "Kau harus kembali ke tempat tidur, dan perlu tetap berbaring sampai merasa lebih baik," katanya.
"Benar," kata Kikan setuju. "Tapi jangan pulang dengan perasaan kesal, oke? Ibuku salah. Kau mendapatkan kehidupan bahagia karena kau memang pantas mendapatkannya. Aku senang kau memilikinya."
Anehnya, Rey percaya Kikan sungguh-sungguh dengan ucapannya. Kikan ingin Rey bahagia meskipun situasi mereka jauh berbeda, terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Tidak banyak orang yang dapat begitu murah hati. Sehingga timbul pertanyaan dalam benak Rey, jika ia pantas mendapatkan apa yang dia punya, apakah artinya Kikan tidak pantas?
Ibu Rey akan menjawab 'Ya' dengan yakin. Tetapi jelas itu bukan jawaban Rey.
*************
Ketika Kikan terjaga, hari sudah tengah malam. Karena jendela kamarnya terbuka, Ia tetap diam di tempatnya, mendengarkan suara-suara yang dapat menandakan adanya masalah. Kikan berusaha bangkit dan menutup jendela- jendela itu. Udara panas lebih baik daripada perasaan tidak aman. Tetapi yang ia dengar hanya suara jangkrik.
Tidak apa. semua baik-baik saja. Kikan berusaha meyakinkan dirinya sendiri, Ia berharap Logan akan puas dengan kerusakan yang telah disebabkannya, luka-luka Kikan entah bagaimana akan meredakan kemarahannya....
Kikan kembali ke tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi ia malah memikirkan Rey. Sekali saja melakukannya, pikiran-pikiran dan bayangan lain akan bermunculan, dari semua kenangan mereka yang telah lalu. Ia ingat bagaimana Rey menyentuhnya dengan sikap menghormati ketika mereka pertama kali bercinta, bagaimana Rey gemetar saat Kikan menyentuhnya.....
Kikan mengingatkan diri sendiri bahwa itu kehidupan yang lain, ketika ia belum seperti ini. Ia tak boleh lagi membayangkan hal itu, dan menghancurkan semua yang sudah ia bangun dengan usaha keras.
Tak ingin larut dalam masa lalu, Kikan menyeret dirinya untuk bangun dari tempat tidur menuju ruang kerja. Ia membutuhkan uang, dan itu berarti ia harus bekerja. Kejadian dengan Logan sudah menghabiskan waktunya seharian.
Tapi Kikan tidak membuat gelang untuk dijual, Ia memulainya dengan membuat gelang untuk Devan karena telah membantunya di jalan waktu itu. dan Kikan berpikir Devan jugalah yang berkunjung pada larut malam ke rumahnya, membawa membawa paket yang berisi bahan makanan serta barang-barang lain yang ia butuhkan. Kikan ingin membuat gelang sebagai rasa terima kasih.
Kikan tak ingin Devan merasa dirinya wajib memperlakukan Kikan sebagai teman, kalau mereka bertemu di kota. Kikan berpikir Devan lebih baik menjauh darinya dan ia berencana memperjelas hal itu. Tetapi ia benar-benar ingin berterima kasih pada pria itu dan memberikan sesuatu sebagai hadiah ungkapan terima kasih, meskipun itu hanya hadiah kecil.
***************
"Kau memberitahunya?"
Rey duduk di tepian kayu. Ia baru naik ke loteng di tempat proyeknya untuk memperbaiki beberapa kabel ketika Devan menelepon. "Apa maksudmu?" tanya Rey.
"Kikan! Apa kau memberitahunya bahwa kita meninggalkan pakaian dan barang-barang lain?"
Rey mengusap keringat dari bahu. loteng merupakan tempat paling panas dan tidak menyenangkan. "Tidak. Tentu saja tidak, aku lebih jago menjaga rahasia daripada kau. Untuk apa aku bilang begitu padanya?"
"Lalu bagaimana dia tahu?"
__ADS_1
udara panas itu menyerang dari segala sisi. "Apa yang membuatmu berpikir dia tahu?" tanya Rey
"Kikan memberiku hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih tadi malam, atau dini hari. sebelum aku bangun." Jawab Devan.
Rey membayangkan Kikan terseru-saruk pada malam hari, berjalan kaki ke tempat tinggal Devan hanya untuk mengantarkan hadiah. "Hadiah seperti apa?"
"Gelang kulit."
Benar, itu dari ibu Jason. "Ada lagi?" Tanya Rey.
"Dan sebuah pesan"
Terlalu cemas sehingga tak bisa tetap duduk, terutama dalam ruang yang begitu tertutup, Rey berdiri dan tanpa sengaja kepalanya terbentur langit-langit loteng. "Brengsek!"
"Aku tahu."
"Bukan itu. Lupakan saja," gumam Rey. "Bacakan padaku apa yang dia tulis."
"Sebentar." Ada jeda sejenak, lalu suara Devan kembali terdengar ditelepon. "Devan yang baik, terima kasih. pasti sulit bagimu kalau ketahuan orang lain (Jangan khawatir, aku takkan bilang siapapun,) aku hanya perlu memberitahumu bahwa aku sangat berterima kasih atas pemberianmu dan akan membayarnya saat aku sudah bisa mandiri nanti. Sementara itu, kuharap kau dapat menerima hadiah kecil ini sebagai rasa terima kasih. (Tolong jangan merasa perlu mengenaliku di depan umum)"
Rey menggosok-gosok kepalanya di tempat yang terbentur, lalu merenungkan apa yang ia dengar.
"Kau masih di sana?" tanya Devan.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Devan lagi.
"Aku masih memikirkan bagaimana dia bisa tahu." Ujar Rey.
"Aku mengantarnya pulang persis sebelum kita kembali dengan baju-baju itu. Mungkin itu cukup sebagai petunjuk baginya. Apa kau mendapat gelang?" tanya Devan
"Tidak."
"Benar kalau begitu, berita baiknya. Dia mungkin tidak tahu kau terlibat, jadi kau bersih seperti yang kau inginkan." Kata Devan
Dan berita buruknya, Kikan mungkin menganggap Devan sebagai ksatria berbaju zirah berkilau. Bukannya aku peduli kata Rey pada diri sendiri.
"Pasti karena aku antar pulang itu," ujar Devan, lebih yakin bahwa asumsinya benar. "Tapi rumahku tidak dekat dengannya. Bagaimana menurutmu dia ke sini?"
"Pasti jalan kaki." Rey sudah menaruh sepeda Kikan ke bengkel Nanda sebelum berangkat kerja, jadi Kikan tidak dapat memperbaiki dan mempergunakan sepedanya.
"Gelap-gelap?" seru Devan.
Kikan pasti gila kalau harus bersusah payah seperti itu hanya demi berterima kasih pada seseorang atas kebaikan kecil yang diterimanya. "Dan dengan lima jahitan di kepalanya." Tambah Rey.
"Maksudmu?"
__ADS_1
Meskipun Rey ingin sekali berdiri dan bergerak ke sana kemari, tempat yang sempit itu memaksanya untuk berjongkok selama ia mengatakan pada Devan Apa yang dilakukan Logan.
"Benar-benar membuatku marah," tukas Devan. "Apa yang kau lakukan untuk itu?"
"Aku sudah melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, dan membiarkan mereka yang menangani kejadian itu. Tapi petugas polisi itu memintaku untuk tidak ikut campur,biar mereka yang menegur Logan, begitu juga ibuku ia tidak ingin aku berurusan dengan Kikan, tapi Logan sebaiknya tidak melakukan apa-apa lagi."
Devan tidak langsung menjawab.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rey.
"Aku berpikir. Kau pasti dalam posisi sulit dengan ibumu. mungkin aku seharusnya ada di dekatmu kalau kejadian semacam itu terulang lagi."
"Tidak, aku ingin kau tidak ikut campur." Rey menutup telepon. Tapi Devan langsung menelpon lagi.
"Apa? Kata Rey.
"itu tawaran untuk menolongmu, kau tahu."
"Maaf"
"Kau kenapa, Bro?" tanya Devan
"Tidak apa-apa. Ini masa sulit bagiku. penyesuaian sejak Kikan keluar."
"Tetapi reaksimu tak seperti yang kubayangkan," ujar Devan.
"Aku tidak mengerti maksudmu"
"Jangan bilang padaku kau mendadak tertarik padanya.."
Mendadak? Rey sudah tertarik pada Kikan sejak pertama mengenal gadis itu, ketika dia mengajari Kikan matematika. Hal-hal lain, orang-orang lain itulah yang memisahkan mereka, teman-teman, orang tua, dan guru-guru Rey. Kemudian segala hal yang lebih menakutkan. Segalanya bekerja sama untuk meyakinkan Rey bahwa Kikan jahat atau gila atau keduanya, tak pantas untuknya atau orang lain yang normal. Dan sejalannya dengan waktu, Rey berhasil melupakan ketertarikan luar biasa yang muncul di antara mereka. Ia lupa betapa sederhana dan logunya Kikan, ia lupa betapa senangnya Kikan dengan kebaikan terkecil sekalipun.
Dengan susah payah, Rey berusaha mengabaikan perasaannya dan beranggapan bahwa semua itu sudah berlalu.
Tetapi ia merasakan ada sesuatu setelah kini Kikan kembali. "Kenapa kau berkata begitu?" tanya Rey, berharap dapat memperoleh jawaban langsung.
"Hmm, karena kau cemburu?"
"Aku tidak cemburu! hanya saja aku pernah tidur dengannya. Aku cuma agak keberatan kau terlibat dengannya."
"Aku tidak tertarik secara romantis pada Kikan. itu akan terlalu aneh, mengingat aku salah satu sahabatmu. Dan jujur saja, aku tak tahu apakah aku tahan dengan sikap negatif yang akan kudapat dari teman-temanku juga keluargaku. Siapapun yang akhirnya bersama wanita itu akan menghadapi banyak tantangan. Aku hanya berusaha adil dan melakukan yang menurutku benar. Kota ini bisa menjadi tempat yang sulit untuk didiami, kalau begitu banyak orang bersatu menentangmu." Devan menjelaskan.
"Dia Ibu Jason, aku akan menjaganya," kata Rey bertahan.
"Kau akan menjaganya? itu gila," kata Devan, lalu memutus telepon.
__ADS_1