
Kini hanya tinggal Rey dan Kikan di dalam kolam renang. Kikan hendak keluar dari kolam, tetapi Rey tidak tahan untuk tidak menariknya masuk untuk terakhir kali.
" Aku akan tunjukkan padamu siapa jagonya," Rey menggoda.
Kikan mempunyai keinginan dan tekad yang lebih besar daripada yang diduga Rey, dan segera berusaha mendorong dia kembali ke kolam.
Mereka berdua bergulat selama beberapa menit, sehingga Kikan kehabisan tenaga. Lalu dia berkata, "Meskipun aku benci sekali mengakui ini, kau menang, brengsek."
Rey tertawa mendengar pengakuan bernada dendam dari Kikan. Rasanya lucu bagi Rey bahwa Kikan bahkan berusaha mengunggulinya, menebak-nebak sebagian dari apa yang akan dilakukannya. "Katakan Saja."
" Katakan apa?" tanya Kikan, sambil menyipitkan matanya.
" Katakan bahwa aku lebih daripada yang dapat kau tangani."
" Sudah!" ucap Kikan.
" Aku ingin mendengarnya lagi. Katakan, 'Rey aku mengaku bahwa aku betul-betul bukan lawanmu.' "
Kikan memandang dengan menantang pada Rey. "Kau sudah mendengar semua yang akan kau dengar."
Rey menarik Kikan menjauh dari tepi kolam, yang berarti bahwa Kikan harus melingkarkan lengan ke tubuh Rey atau menenggelamkan diri. Kolam itu terlalu dalam bagi Kikan untuk berdiri. "Kalau begitu kau harus memberiku hadiah sebagai gantinya." ucap Rey.
" Hadiah seperti apa?" tanya Kikan
Saat Rey memeluk Kikan di dalam air, hasratnya untuk tertawa memudar.
" Rey?"
Tatapan Rey menurun ke bibir Kikan. "Kau dapat menciumku."
Mereka berdua masih tersengal-sengal. Rey dapat merasakan dada Kikan, dengan baju yang basah naik turun menempel di dadanya.
" Tidak, aku tidak bisa." Tolak Kikan.
" Kenapa tidak? Satu ciuman tidak akan menyakiti siapapun."
__ADS_1
Kikan memejamkan mata seolah tidak tahan memandang mata Rey. "Bagaimana kalau aku.... aku membersihkan dapurmu sebagai gantinya?"
Rey menunggu hingga Kikan memandangnya lagi. "Itu tidak akan memuaskan." kata Rey.
"Tapi lebih baik."
Rey nyaris dapat merasakan Kikan. Hanya dua cm dan bibir mereka akan bersentuhan... "Itu juga bukan yang kau inginkan." Kata Rey.
Kikan gemetar, tetapi Rey tahu gemetar itu tak ada hubungannya dengan suhu. Rey menduga Kikan dapat merasakan bukti gairahnya yang menegang dan tidak dapat disembunyikan. "Kita tidak bisa Rey, aku mencoba mengingatkanmu."
" Bukan, bukan itu yang kau mau."
" Bagaimana kau tahu?" tanya Kikan.
" Karena kakimu mengunci di sekitar panggulku seolah.... seolah kau suka dengan tekanan yang kau rasakan di bawah sana."
Mata Kikan berbinar ketika dia melepas Rey.
" Aku minta maaf untuk itu. aku tidak.... maksudku.... aku... aku.." dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Rey tidak paham apa maksud Kikan.
Tetapi Kikan berenang menjauhinya.
Rey menjangkau tepi kolam setelah Kikan. "Kikan jangan keluar," katanya dari belakang Kikan, bibirnya menempel di telinga wanita itu.
kegelapan sudah datang, dan jangkrik mulai mengerik. karena Jason sudah pergi dan mereka hanya berdua di halaman, suasananya terasa begitu pribadi, terutama di sudut kolam renang yang paling jauh dari dek.
" Aku harus," kata Kikan.
Rey dapat mendengar getaran ketakutan dalam suara Kikan, tetapi ia juga mendengar kekuatan hasratnya, dan itu membuat jantungnya berdebar keras. "Tidak kau tidak harus. aku minta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya, di sekolah..."
" Aku tidak menyuruhmu meminta maaf lagi," kata Kikan menyela. "Kita tidak dapat mengacaukan semua ini. Kau membutuhkan orang lain, bukan aku" Kikan mulai memanjat kolam hendak keluar, tetapi Rey menarik Kikan kembali menempel di tubuhnya.
" Kita dapat... memberi diri kita waktu... untuk melihat ke mana ini akan mengarah," kata Rey.
" Kemana ini akan mengarah?" Kikan mengulang. "Aku sudah melewati jalan itu. Aku tahu itu tidak aman."
__ADS_1
" Sudah tujuh belas tahun berlalu. Kau tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi sekarang."
Rey menunggu Kikan memaksa dirinya lepas, tetapi Kikan tidak memaksa, dan hasrat untuk menyentuhnya lebih intim terasa memancing. Rey punya kesempatan dengan Kikan, kalau tidak, Kikan pasti sudah mendorongnya.
otot Rey mengeras karena harapan yang muncul ketika ia menyelipkan satu tangan ke baju Kikan dan melepas bra-nya.
Kikan tidak menghentikan Rey, tidak mengatakan apa-apa. Saat meraba kulit licin dan p****ra halus di telapak tangannya, Rey merasakan gelombang hasrat menyerbunya, menyerbu mereka berdua. Puncak p****ra Kikan sudah mengencang bahkan sebelum Rey menyentuhnya, dan itu membuat bukti gairahnya makin menegang dan mendorongnya untuk melepaskan celana Kikan.
" Rey," Kikan tersentak ketika Rey menyelipkan tangannya yang lain.
" Satu sentuhan," kata Rey.
Meskipun Kikan menahan diri dengan bersikap kaku, tapi Rey tahu bahwa wanita itu tidak sungguh-sungguh ingin Ia berhenti. Kikan gemetar ketika Rey menyelipkan jemari.
" Oh....." Kikan berbisik. "Kita tidak bisa...."
" Sst..Tenanglah" Rey berharap dapat menciumnya, tetapi Kikan mengalihkan pandangan, dan Rey tidak berani mengubah posisi. "Tidak apa-apa. Aku tidak akan bertindak terlalu jauh. Hanya... hanya biarkan aku merasakan dirimu dengan jariku."
Tangan Kikan memegangi pergelangan tangan Rey. Dia seperti tidak dapat memutuskan, ragu-ragu. Rey memejamkan mata karena takut Kikan akan mengakhiri dengan tegas saat-saat yang ternyata merupakan momen paling indah yang pernah dirasakannya. Tetapi Kikan tidak melepaskan jemari Rey. dia mengerang sambil menekan jemari itu lebih dalam, dan Rey gemetar juga.
" Kau tidak harus memberiku apapun," Kata Rey berjanji ke kikan. "Ini sudah cukup, aku hanya ingin kau menikmati sentuhanku. Dan aku merasakan kau mencapai puncak dalam pelukanku."
Kepala Kikan tersandar di bahu Rey, sambil Rey menggunakan semua yang sudah ia pelajari tentang tubuh wanita untuk memberikan Kikan pengalaman itu.
" Tenanglah. tidak apa-apa," Rey berbisik. Ia tidak tahu seberapa jauh Kikan mengizinkan dirinya menyentuh... dan ia tidak mendapat kesempatan untuk tahu. Suara ibunya terdengar dari dalam rumah, membuat mereka berdua tertegun.
" Jason? Rey? kalian di mana? Kenapa tidak ada orang yang menjawab telepon?"
Dengan membuang napas keras-keras, Kikan menjauh dari Rey, dan mengapung di tepi kolam menuju sisi jauh, di bawah bayangan pohon yang menghalangi sinar bulan. Kikan tidak berkata apa-apa... hanya berusaha mengencangkan celana. hal itu menunjukkan pada Rey, meskipun sebelumnya itu sudah jelas, bahwa Kikan tidak ingin ibu Rey tahu dia ada di sana.
Rey sebenarnya ingin meyakinkan Kikan bahwa ia tidak akan membiarkan ibunya memperlakukan kikan dengan buruk. Tetapi Kikan dalam kondisi yang lemah, berusaha kembali dari masa tujuh belas tahun di tempat yang menakutkan. Rey menduga kota ini juga merupakan tempat yang kejam bagi Kikan, dan ibunya merupakan salah satu pencela terbesar bagi wanita itu. Rey tidak ingin menunjukkan keberadaan Kikan tanpa persetujuannya, dan tidak ada waktu untuk itu.
"Rey?" Ibunya sudah membuka pintu kaca yang menuju rumah dan keluar ke halaman belakang.
Rey memercikkan air untuk menarik perhatian ibunya hingga teralih dari Kikan, yang bersembunyi di ujung kolam seberang. "Aku di sini. Ada apa?" Rey mengharapkan ia dapat keluar dari kolam dan membawa ibunya kembali masuk ke rumah, agar benak Kikan lebih ringan, tetapi bukti gairah menghalanginya melakukan itu.
__ADS_1