
Kikan banyak diam sepanjang pertandingan. Rey yakin wanita itu mengucapkan tidak lebih dari dua kata selama empat puluh menit lebih. Dia duduk dikelilingi teman-teman Rey, memakukan pandangan ke lapangan dan menggeleng setiap ada yang menawarinya sesuatu, permen karet atau kuaci.
Banyak orang yang memandang mereka. Rey juga dapat mendengar bisik-bisik. Bukankah itu wanita yang membunuh Lori? Menurutmu Rey tidak akan menerimanya kembalikan? Dia cantik, kau harus mengakui itu tapi ya ampun. Bagaimana kau bisa menerima kembali seorang pembunuh dalam hidupmu. Kalau Rey tidak hati-hati wanita itu akan menusuknya saat tidur.
Rey tahu Kikan pun dapat mendengar mereka, meskipun wanita itu berpura-pura tidak mendengar. Seandainya ia dapat mendatangi mereka dan memaksa mereka menutup mulut, tapi lidah yang terus bergerak itu memang risiko yang harus mereka hadapi. Perhatian publik akan mereda sejalan dengan waktu, ketika setiap orang akan terbiasa dengan kembalinya Kikan dan melihat mereka bersama-sama.
Orang tua Rey tidak hadir. Rey menduga ibunya akan menyampaikan alasan yang tidak begitu kuat nanti. Helen akan mengatakan mereka terlalu sibuk atau terlalu lelah, namun ia menduga mereka sengaja menghindari acara tersebut begitu tahu Kikan akan datang. Mereka tidak ingin dilihat orang bersamanya, tidak ingin dianggap telah memberikan restu pada sikap Rey yang telah menerima Kikan kembali. Mereka sedang menunggu konfrontasi besar akhir pekan ini, berharap itu akan meluruskan kembali pikiran Rey dan mengembalikan mereka pada pijakan yang sama.
Tetapi, jika tuhan menghendaki, pada waktu itu Rey akan menampilkan pertunjukannya sendiri untuk membuka semua tabir.
♪
Jason datang setelah latihan beberapa hari kemudian, dan Rey mampir sepulang kerja. Trailer Kikan kecil dan panas, serta jauh lebih sederhana daripada rumah mereka, tapi mereka menghabiskan banyak waktu di situ. Kikan merasa mereka senang kala ia memasak makan malam, ia toh harus memasak untuk Ibunya, dan mungkin mereka senang bisa keluar dari lingkungan mereka yang biasa. Karena Rey dan Jason bahkan tak pernah menyebut-nyebut tentang udara panasnya dan beberapa sarana yang tidak Kikan punya. Mereka juga tak pernah berusaha meyakinkan Kikan untuk datang ke rumah mereka. Mereka tampak puas dengan diri Kikan apa adanya.
Pada hari Jumat Rey membawa TV kecil dan setumpuk DVD, lalu mereka menonton film secara maraton sepanjang malam. Ketika Jason tertidur di sofa sekitar tengah malam, Kikan yakin Rey tergoda untuk membawanya ke kamar tidur. Mereka belum pernah tidur bersama sejak di pondok. Mereka berdua sama-sama bekerja terlalu keras. Atau, jika tidak sedang bekerja, Jason ada di antara mereka. Tetapi meskipun sangat mendambakan sentuhan Rey, Kikan takut anak mereka akan bangun.
" Ya Tuhan, Aku ingin sekali merasakanmu," bisik Rey ketika berdiri di belakangnya di dapur, tempat Kikan membawa mangkuk- mangkuk yang mereka gunakan untuk popcorn.
" Mungkin kita akan punya waktu berdua akhir pekan ini," Kikan balas berbisik. Tetapi mereka berdua tahu apa yang akan terjadi besok. Rey akan menjemputnya jam 10.00 dan membawanya ke rumah orang tuanya, tempat keluarga Lori dan Via Astaria akan menemui mereka. Kikan tak bisa tidur sekejap pun, tidak dengan pertemuan itu di depan mata.
" Kau tak takut ketemu Via kan?" Rey bertanya, membalik badan Kikan agar menghadapnya ketika ia terus mencuci piring.
" Aku ketakutan," jawab Kikan. "Aku takut Kau akan mempercayainya. Aku berharap kau bahkan tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakannya."
" Aku juga sedikit tidak bersemangat seperti sebelumnya." ujar Rey.
__ADS_1
Kikan mengeringkan tangan. "Apa artinya itu?"
" Ada sesuatu yang kuharap dapat berlangsung dengan baik seperti yang ku sebutkan ketika kita dalam perjalanan untuk menonton pertandingan. Tapi...." Rey meringis. "...bisa jadi itu gagal dan tidak sesuai rencana."
" Apa itu?" tanya Kikan.
" Aku menyewa detektif swasta yang disewa orang tua Lori untuk bekerja sedikit untukku, memintanya mencari latar belakang Via. Dia bahkan berhasil melacak mantan suami Via."
" Apa yang kau inginkan dengan mantannya?"
" Orang selalu menceritakan rahasia pada pasangan mereka. Aku berharap dia mau mengatakan padaku bahwa Via pernah mengaku dialah penyebab kecelakaan itu."
" Ternyata tidak?"
" Aku sendiri merasa dia mungkin pernah mengaku, tapi orang itu masih terlalu setia untuk membocorkan sesuatu yang dapat menyulitkan Via."
Rey menempelkan kening mereka. "Maafkan Aku. Aku benar-benar berharap keadaan membaik."
" Apa itu berarti kita bisa membatalkan yang besok? Jalani saja apa yang sudah ada?" ujar Kikan.
" Menunda akan membuatku kelihatan takut, seakan aku takut dengan kebenaran, atau aku tidak mau menghadapinya. Aku harus hadir. Tapi aku bisa mewakilimu. Kau tidak harus berada di sana."
" Astaga, tidak!" kata Kikan. "Kalau kau datang, aku juga. Setidaknya kalau Via melihatku, tidak akan terlalu mudah baginya untuk berbohong. Meskipun dia telah berhasil melakukan itu di pengadilan dulu."
" Tidak ada perkataannya yang akan bisa membujukku untuk percaya bahwa kau bukanlah wanita menakjubkan yang kukenal," ujar Rey. Lalu ia mencium Kikan, beberapa kali sampai ciuman itu memanas dan Kikan menarik diri.
__ADS_1
" Tidak dengan Jason di sini."
Rey tak mengeluh. Ia kemudian membangunkan Jason dan mengajaknya pulang.
Kikan mengira akan sendirian sepanjang malam, menunggu delapan jam sebelum pertemuan itu. Tapi Rey kembali kurang dari satu jam kemudian, sendiri dan tetap di sana sampai subuh lalu kembali pulang dan menyelinap ke kamar tidur sebelum Jason bangun.
♪
" Rasanya seperti akan di sidang lagi." Kata Kikan, ketika Rey memarkir pikap-nya di trotoar di luar rumah orang tuanya.
Rey tampak bingung dengan perbandingan yang dimaksud Kikan. "Hari ini tidak sama dengan hari kau di pengadilan. Kau belum ketemu Via selama tujuh belas tahun, itu saja."
" Tapi aku menuju wilayah yang berbahaya, seperti dipertandingan Jason kemarin, hanya saja..." Kikan menggigit bibir, "Inilah yang paling menakutkan."
" Aku tidak akan membiarkan dia memperlakukanmu dengan buruk," Kata Rey.
" Ibumulah yang aku khawatirkan. Inilah waktu aku paling dekat dengannya sejak kita putus."
Rey tertawa. "Dia tidak terlalu menakutkan seperti yang kau kira, dan kita tidak putus lagi. Itu mengubah banyak hal."
" Kita tidak putus saat ini. Tapi apa yang akan terjadi setelah kita berjalan ke rumah itu dan Via mulai menebarkan racun?" tanya Kikan.
" Aku sudah bilang itu tidak akan mengubah apapun diantara kita. Kukira tadi malam sudah bisa meyakinkanmu tentang itu."
" Tadi malam memang... patut dikenang." kikan tersenyum menggoda. "Ayo kembali saja, melepaskan pakaian dan melupakan semua ini."
__ADS_1
Rey berjalan memutar untuk menutup pintu pikap di sisi penumpang. "Meskipun kedengarannya sangat menarik, kita harus melalui ini dulu. Kita tidak boleh melarikan diri darinya atau mereka akan mengira mereka telah menang."
Kikan mencondongkan badan ke dekat Rey untuk melihat pintu depan. "Mereka selalu menang." Ujarnya.