
Rey menjejalkan tangan ke saku celana jinsnya. "Kau belum dengar kabar dari Logan lagi?"
"Belum." jawab Kikan.
Mungkin petugas polisi itu sudah bicara dengan Logan, dan itu lebih efektif daripada yang diperkirakan Rey. Ia harap begitu. "Bagus."
"Aku ingin mengundang kalian masuk, tapi.. ini sudah terlalu malam, Jason besok sekolah dan mungkin perlu segera tidur."
"Aku memang ada PR," kata Jason mengakui.
"Selesaikan PR-mu, dan aku akan mengundangmu makan malam suatu saat. Segera. Apa makanan kesukaanmu?" Tanya Kikan pada anaknya.
"Spageti dan bola-bola daging."
"Aku pasti bisa membuatnya. Kalau aku berlatih," tambah Kikan dengan tawa sedih. "Aku tak banyak belajar cara memasak sebelum aku... pergi jauh."
Rey tak yakin apakah dirinya termasuk di undangan itu. Tetapi ia tak bertanya. "Hati-hati saat menutup pintu. Pastikan sudah menguncinya dengan benar." kata Rey.
"Tentu." Jawab Kikan.
"Selalu berhati-hatilah." tekan Rey lagi.
Kikan menggangguk. "Oke"
"Malam Mom." Jason memeluk ibunya sebentar sebelum masuk mobil.
Kikan tampak terkesima dengan tindakan itu tetapi tak berkata apa-apa, bahkan tidak bereaksi ketika Rey berpamitan. Rey mulai mengitar menuju pintu pengemudi. namun Kikan mencegatnya sebelum ia sempat membuka pintu. "Aku akan pergi, kau tahu, kalau aku bisa. Aku tahu keberadaanku di kota ini menyulitkan kalian."
Rey melirik sekilas ke arah Jason, yang sudah duduk di dalam mobil dan sibuk memasang sabuk pengaman, memastikan anak itu tidak memperhatikan. "Kami tidak memintamu pergi."
"Aku hanya mengatakan bahwa kepergianku mungkin akan memudahkan kalian. Pindah ke kota lain atau suatu tempat yang tidak terlalu jauh, Jason dapat mengunjungiku sesekali dan kau tidak perlu menemuiku sama sekali. Lalu keluarga Lori, keluargamu, setiap orang akan senang. Tapi.... ibuku. dia tak mau pindah, tak peduli betapa aku sudah membujuknya baik-baik."
'Kau tidak perlu menemuiku sama sekali.' Seolah Rey sangat membencinya. "Mungkin ibumu tidak mampu pindah," Kata Rey.
"Tidak mampu. tapi kalau sudah mandiri, Aku berharap itu akan berubah, paling tidak sampai batas tertentu. ketakutanlah yang menahannya. takut pada apa yang tidak diketahui. takut pada pandangan sinis orang-orang. itu yang mengganggu hidupnya."
"Tragis." ucap Rey.
"Dia mungkin bukan ibu yang baik, tapi aku tak dapat pergi dan menjalani hidupku dengan begitu saja.... meninggalkan dia ketika dia bahkan tak mampu mengurus diri sendiri dengan baik."
Ketika Rey membuka mulut hendak bicara, Kikan menyela.
__ADS_1
"Aku tahu, aku sudah pergi tujuh belas tahun dan dia baik-baik saja."
Kikan pasti menduga Rey sedang mencari cara untuk membalik keputusannya agar tidak berada di kota ini. Tetapi ternyata tidak, Rey bermaksud mengatakan padanya untuk melakukan apa saja yang dia rasa perlu, dan bahwa orang lain lah yang harus menyesuaikan diri. Tapi Kikan masih bicara, hingga Rey tidak mendapat kesempatan untuk mengatakannya.
"Kakakku meninggalkannya, dan dia begitu yakin aku juga tidak akan mampu mencintainya, dia berusaha memastikan hal itu."
"Dengan sikapnya yang sulit dicintai." Kata Rey.
"Memang tidak masuk akal. Tapi..... akan ku tunjukkan padanya bahwa aku akan tetap di sini, bersamanya, dalam senang maupun susah. Kalau dia tidak mendapatkan hal lain di hidupnya, setidak tidaknya dia harus mendapatkan kasih sayang keluarga. Keluarga adalah hal terpenting. Itulah yang ku pelajari. dan itu berarti aku tidak punya pilihan."
"Jason dan aku tidak masalah," Kata Rey. "Jangan mengkhawatirkan kami."
Dada Kikan mengembang ketika dia menghela nafas dalam-dalam. "Terima kasih. Aku.... ingin kau mengerti bahwa aku tidak mencoba menjadi duri bagimu.... meskipun tampaknya seperti itu."
"Aku bisa memahami kondisi ibumu, tak ada yang perlu dicemaskan." Ujar Rey.
"Dan Jason?"
"Dia lebih senang kau ada di sini." Rey meyakinkan.
"Terima kasih." jawab Kikan.
"yah?"
"Apakah itu termasuk aku?" tanya Rey.
Kikan tampak kaget. "Tentu. Silakan ikuti apapun kegiatan yang kulakukan bersama Jason."
Rey ingin Kikan berkata ya, tapi bukan dengan alasan itu. Kikan tampaknya beranggapan bahwa satu-satunya tujuan Rey hanya untuk ikut campur dalam hubungan Kikan dengan putra mereka.
Rey berharap memang itu alasannya.... karena beberapa pikiran yang melintas di benaknya ketika memandang Kikan akan mengagetkan setiap orang.
☆☆☆☆☆
.
"Kau bermain-main dengan api."
Kikan meneruskan pekerjaannya membuang makanan basi dari kulkas ibunya. Ia hampir tak tahan dengan baunya, tapi ia telah berniat melakukan ini semenjak keluar dari penjara dan benar-benar melakukannya malam ini.
Akan lebih mudah memasak untuk ibunya jika ia bisa mengosongkan kulkas.
__ADS_1
"Kau tak mau berkomentar soal itu?" celetuk Ibu Lis dari tempatnya duduk dimeja dapur.
"Ibu ingin aku bilang apa?" tanya Kikan. "Rey ayah anakku. Aku tak bisa menghindar darinya."
Ibu Lis berdecak sebal. "Aku pikir kau akan lebih cerdas kalau sudah besar."
Setelah kejadian di pertandingan itu, Kikan memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut... demi anaknya. tetapi Kikan sudah memberitahu Rey, Jason bukan satu-satunya alasan ia kembali ke kota ini. Ibunya tidak menyadari bahwa Kikan telah sampai pada keputusan itu, dan tidak akan percaya jika Kikan mengatakan kepadanya. "Aku tak ingin melewatkan masa kecilnya, mumpung masih ada waktu."
"Meskipun ayahnya menjadi godaan besar untukmu?"
"Cukup! Ibu sudah menuduhku tidur dengannya," protes Kikan. "Dia tidak menyentuhku jadi aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Oh, tentu saja kau tahu. Mungkin dia belum menyentuhmu, tapi kau membayangkan itu."
Kikan membenci fakta bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Ia mulai merasakan kesepian setelah tujuh belas tahun tanpa pasangan. Awalnya dia mengira bisa lebih fokus mengurus anak, setidaknya selama beberapa tahun ke depan. tetapi hormonnya terus bekerja, minta dipenuhi, dan Rey adalah pasangan yang terus dipikirkannya.
"Kau bilang kau tidak suka. sekarang kau menganggapnya menarik?" Kata ibunya. "Hanya karena dia enak dilihat bukan berarti dia bisa dipercaya." Ibunya berkeras.
"Sebelumnya ibu bahkan tidak mengakui itu" Kikan mengerutkan hidung ketika membuka lagi makanan yang sudah basi, kali ini nasi yang sudah berlendir. Siapa yang menyangka nasi bisa berbau lebih menjijikkan daripada telur busuk?
"Kami masih SMA ketika dia mencampakkanku. Ibu tidak berharap dia akan menikahiku bukan?"
"Tidak, itulah yang sedang kucoba katakan padamu. Dia tidak akan menikahimu. Jadi jangan membiarkan dia naik ke tempat tidurmu. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya."
Kikan sadar akan hal itu, Ia tahu Rey bukanlah orang yang tepat untuknya. Ia tak bisa membuat hubungannya semakin rumit. yang sejak awal memang sudah rumit. atau mengancam hubungannya yang sudah berjalan baik bersama Jason. "Aku tidak akan tidur dengan Rey"
"Aku tidak melihat pria lain datang ke rumah ini."
"Aku baru seminggu di rumah, bu!"
"Tidak masalah. Aku akan segera mencari pria lain. Jika aku Jadi kau, hanya agar Ayah Jason tahu bahwa dia tak bisa memanfaatkanmu lagi." Kata ibunya.
"Memanfaatkan aku? kami sama-sama menginginkannya. kami waktu itu masih muda, Tidakkah ibu bisa percaya sedikit saja?"
"Dengan cara dia dan keluarganya meragukanmu?" Kata ibunya tidak setuju.
Kikan mendesah sambil membetulkan sarung tangan plastiknya. "Dia bisa saja menyulitkan ku, tapi dia cukup... kooperatif mengenai Jason." Kikan bahkan tidak mengira Rey akan bersikap sebaik itu.
"Tidakkah hal itu membuatmu heran?" tanya ibunya.
"Itu membuatku bersyukur. itu saja." Jawab Kikan
__ADS_1