Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 46


__ADS_3

Kikan menunggu Jason dengan khawatir di kafe tempat mereka pertama kali bertemu. Ia berpenampilan yang terbaik, siap untuk pertemuan ini. Tapi ia berharap Rey tidak menemani anaknya. Tentu saja sekarang, ketika Rey sudah tidak mabuk, dia akan menyadari bahwa mereka lebih baik tidak menghabiskan waktu bersama. Akan terlalu mudah bagi mereka untuk jatuh kembali pada hubungan fisik. Lebih mudah bagi Kikan karena ia tak pernah melupakan Rey. Dan lebih mudah bagi Rey karena dia sepertinya tak punya pasangan di tempat tidurnya saat ini. kebutuhan Rey dan kerinduan Kikan bisa menciptakan hubungan yang berat sebelah, Jika Kikan membiarkan ini terjadi.


Tetapi bukan Jeep Jason yang muncul, melainkan pick up milik Rey. Sama seperti saat Kikan menunggunya di sini dulu. Mereka berdua tampak gagah di matanya.


" Tidak bisakah aku tenang sebentar?" gumam Kikan.


" Anda mengatakan sesuatu?" tanya wanita di sebelah Kikan.


Kikan menggeleng. "Tidak, maaf"


Pelayan menyambut tamu yang baru datang dengan ramah. Kikan mempersiapkan diri melihat Rey dan Jason masuk, tetapi ia gugup bertemu Rey. Ia ingin bersikap seolah semalam tak terjadi apa-apa. Dan mungkin itu tidak akan sulit. Rey tidak mungkin menikmati dansa dengannya seperti yang terlihat tadi malam, tidak lebih menikmatinya dibanding dansa dengan wanita lain.


"Selamat pagi," Kikan menyapa Jason ketika mereka melewati pintu.


Jason memeluknya dan Rey seperti hampir akan melakukan hal yang sama. Ini standar pelukan menyapa, tidak lebih. Tetapi Kikan pura- pura tidak tahu maksud Rey, dan mundur sebelum pria itu menyentuhnya. Rey benar-benar harus hati-hati untuk mendekati Kikan. Terutama di tempat umum, atau dia akan tahu rasanya jadi orang buangan.


"Terima kasih sudah datang," kata Kikan.


Rey mengenakan kacamata hitam. Dia menegakkan badan, ketika Kikan mengelak, tetapi tidak mengatakan apa-apa.


"Mom terlihat cantik," kata Jason.


Kikan meremas lengan Jason, "Terima kasih. Jahitanku sudah dilepas, dan itu bagus."


"Mom kembali menemui dokter?" tanya Jason.


"Tidak. Aku melepasnya sendiri. Aku tidak butuh dokter untuk itu." Kikan menarik rambutnya kebelakang sehingga Jason bisa melihat garis merah disitu, bekas lukanya.


"Mom pastilah wanita paling kuat di dunia." kata Jason sambil tertawa.


"Ini tidak sulit," kata Kikan. "Yang kurasakan hanya sedikit tertarik."


Rey tidak berkomentar apa-apa tetapi dia melepas kacamata ketika penerima tamu datang dan saat Kikan melihat matanya, ia menebak Rey masih sedikit mabuk. "Sarapan untuk tiga orang?" tanya wanita itu.


Rey sudah menjawab sebelum Kikan. "Ya, dan kami minta bilik jika kalian bisa menyediakannya."


"Tidak masalah. Ada rombongan yang baru selesai." penerima tamu itu, melihat ke sekeliling restoran. Menemukan pelayan sedang membersihkan meja di pojok yang dia maksudkan, dan mengambil tiga menu. "Kita bisa ke sana sekarang."


"Kau senang menyambut pertandingan hari selasa?" tanya Kikan pada Jason ketika mereka sudah duduk.


Jason duduk diseberang Kikan, Rey duduk disebelah Jason.

__ADS_1


"Sangat," jawab Jason. "Apakah Mom akan datang?"


Kikan tersenyum. "Tentu saja. Aku tidak akan melewatkannya."


Rey menurunkan menu, yang tadi dibukanya. "Bagaimana kau bisa sampai kesana? Tempat itu terlalu jauh ditempuh dengan sepeda."


Rey terlihat aneh pagi ini, bukan pria penuh pesona yang berdansa dengannya semalam. Mungkin Rey menyesal dengan apa yang dia katakan, takut jika Kikan menganggapnya terlalu serius. "Aku akan menyewa mobil."


"Kau lebih suka mengeluarkan uang daripada menumpang mobilku?"


"Bukan lebih suka mengeluarkan uang, hanya...."


Kikan melirik Jason yang mengamati ibunya dengan penuh harap, sebelum memandang Rey. "Aku tidak ingin bergantung padamu. Dan sebaiknya aku tidak membuat orangtuamu kecewa padamu lagi."


"Tidak perlu menyewa mobil," desak Rey. "Orang tuaku bahkan tidak akan kesana."


"Mereka bisa dengan mudah mendengar kalau kita pergi bersama." Apa yang akan dilakukan Kikan dan Rey ketika mereka sampai ditempat pertandingan? Duduk berseberangan? Itu akan terlihat tidak lucu, setelah datang bersama dalam satu mobil. Dan Kikan tidak bisa duduk dengan Rey, atau semua orang dari kota mereka yang datang akan bertanya-tanya apakah mereka kembali bersama.


"Mereka akan diam," kata Rey sambil mengangkat bahu.


Pelayan datang membawakan air. "Hallo Rey, Jas." Tatapannya berpindah ke Kikan dan, sadar mereka tidak saling mengenal, pelayan itu menyapa "Selamat pagi."


Pelayan itu mengeluarkan buku catatan. "Sudah siap untuk memesan."


"Kami belum sempat melihat menu," kata Rey. "Bisa tunggu sebentar?"


"Tentu saja." Pelayan itu memberikan senyum genit pada Rey sebelum berlalu pergi.


"Papa lihat itu?" kata Jason sambil menyikut ayahnya.


"Aku melihat," kata Kikan. "Sepertinya pelayan itu menganggap ayahmu sangat menarik."


"Umurnya baru sekitar dua puluh dua tahun." Rey menggerutu. "Lebih dekat dengan usia Jason dari pada usiaku."


"Tapi dia cantik," kata Kikan. "Dan umur tidak masalah."


Rey mengerutkan kening. "Terima kasih sudah memberitahuku," katanya dengan nada menyindir, dan sekali lagi mengambil menu.


Jika Rey menginginkan hubungan fisik, dia bisa melakukannya tanpa melibatkan Kikan. Terlepas dari sindirannya, Kikan tidak merasakan bahaya dengan mengemukakan itu. Mungkin hal itu akan memberi Rey jalan keluarnya hingga mereka bisa beradaptasi tinggal di kota yang sama. "Aku yakin dia bukan satu-satunya penggemarmu."


"Aku tahu siapa yang bisa aku ajak dan yang tidak," kata Rey.

__ADS_1


Kikan telah menunggu sarapan ini dengan bersemangat sehingga tidak mau suasana hati Rey yang buruk mengacaukan perasaannya. Jadi, sambil menarik napas panjang, Kikan mengabaikan bayangan hitam yang dibuat Rey untuk pagi mereka.


"Minggu ini bagus, banyak pembeli, jadi pesanlah sesuka kalian," kata Kikan sambil berusaha memancing mereka dengan antusiasmenya. "Aku bahkan bisa pesan wafel strawberry."


"Mom harus pesan itu. Rasanya lezat sekali," kata Jason dan meminta izin untuk keluar dari bilik sebentar.


"Kau mau kemana? " tanya Kikan.


"Ke kamar kecil. Kalau pelayan datang saat aku belum kembali, tolong pesankan wafel untukku, oke?"


"Hari ini aku yang traktir," kata Rey ketika Jason pergi.


"Tidak." Kikan bersikeras. "Kau kesini karena ajakanku."


"Kau mengajak Jason, bukan aku." kata Rey.


"Aku sudah bilang kau boleh ikut ke acara apapun yang aku dan Jason datangi." Kikan mengambil tas dan mengeluarkan amplop menyodorkannya ke arah Rey. "Dan kau akan senang melihat aku bisa memberi perhatian lebih untuk Jason minggu ini."


Rey memandang amplop itu, dan menggesernya lagi ke arah Kikan. "Aku menghargainya, dan aku rasa itu cukup banyak, Kikan."


"Aku tahu," wajah Kikan berbinar memandang Rey, rasanya sangat senang bisa berperan dalam hal penting. "Aku harus membayar utangku ketika ke dokter dulu. Tapi sisanya untuk Jason. Tidak murah membiayai anak yang suka olahraga."


"Aku tidak menginginkan uangmu," kata Rey. "Kau bahkan tidak punya telepon, atau kendaraan untuk bepergian."


Kikan menegakkan badan, kaget dengan sindiran dalam suara Rey. "Aku punya anak. Itu prioritas utamaku."


"Tapi anakmu tidak kekurangan. Kembangkan saja usahamu, oke?" Rey mendorong amplopnya semakin dekat ke arah Kikan. "Aku dan Jason baik-baik saja."


"Aku ragu uangnya cukup banyak untuk bisa membeli kendaraan." Kata Kikan sambil mengulurkan uang itu ke Rey lagi.


"Uang itu bisa untuk membeli ponsel." kata Rey bersikeras menolak.


Kikan melipat tangan di pangkuan. "Aku bisa hidup tanpa ponsel dalam waktu yang lebih lama. Jason dan aku berkomunikasi cukup sering lewat Facebook."


"Pernahkah kau terpikir bahwa Logan bisa mendatangi trailermu, dan kau mungkin perlu menelepon untuk meminta bantuan? Atau bahwa aku bisa mengecek sesekali untuk memastikan kau baik-baik saja?"


"Membeli telepon sudah ada dalam rencanaku. Aku masih punya hal lain untuk dilakukan sekarang."


"Itu maksudku." Ucap Rey.


"Kukira kau akan senang jika aku memenuhi kewajiban padamu dan Jason lebih dulu." Kikan mengambil air minum. "Atau apakah karena kau sedang teler sehingga membuatmu sedikit... galak? Aku tidak menganggap serius apa yang kau katakan atau lakukan semalam, jika itu yang kau khawatirkan." kata Kikan.

__ADS_1


__ADS_2