Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 12


__ADS_3

"Aku suka gelang yang diberikan Mom kepadaku," kata Jason.


"Bisa kulihat." jawab Rey sambil mengulum senyum. "Apa kau akan mengundangnya ke pertandinganmu?"


"Kenapa tidak? Siapa saja boleh datang ke sekolah ku." Jason ragu-ragu saat bertanya, "papa akan mengizinkannya kan?"


Meskipun sangat ingin menolak, untuk membuat hidup mereka lebih sederhana dan melanjutkan hidup dengan tujuan yang sama, Rey tidak tahu bagaimana ia bisa terus memaksakan kehendak. "Kalau kau memang ingin dia hadir."


"Menurutku itu tidak akan mengganggu siapa - siapa," katanya.


Rey berharap itu benar.


*****


Kikan menyandarkan tubuhnya dengan letih begitu sampai rumah, ia memandangi kedua kaki nya yang lecet. Mengapa aku tidak bersikap lebih praktis dengan sejumlah uang kecil yang dimiliki. Pikirnya. Ia bisa membeli sepatu lari, yang tidak terlalu mahal. Ia pernah mencoba sepatu itu. Tetapi yang dipikirkannya saat mencoba sendal yang dipakainya saat pagi tadi adalah pertemuan pertamanya dengan Jason. Ia Ingin menunjukkan penampilan yang terbaik.


Ia bersyukur ada yang akan memberi tumpangan sewaktu berjalan tadi, namun ketika kendaraan mendekat dan melambat. Dan pengemudinya pria berambut hitam yang dapat dilihatnya melalui kaca spion... Mencondongkan tubuh kesamping dan membuka pintu penumpang. "Mau naik?" serunya.

__ADS_1


Awalnya ia menolak, namun kaki nya sangat sakit dan lecet ditambah cuaca yang sangat panas. Dengan perasaan bersyukur karena tak harus meneruskan perjalanan yang menyakitkan kaki, Kikan berjalan tertatih-tatih mendekati pikap. "Terima kasih. Hari ini panas sekali. Dan sendal ini...."


Seketika Kikan mengenali siapa pria itu dan langsung menelan kata-katanya. Ini Devan, salah satu dari sekian teman Rey di sekolah dulu.


Kikan tak ingin Rey mengetahui dan sejak awal ia berusaha menjauh dari kehidupan pria itu, kecuali soal anak. Membuatnya mengurungkan niat. "Sebenarnya, tidak jadi. Aku baru sadar kita tidak mungkin menuju tempat yang sama. Tapi terima kasih."


Kikan membanting pintu, berdoa semoga Devan segera pergi. Tetapi ternyata pria itu tidak juga pergi. Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu lagi.


"Kau mungkin belum sadar, tapi badanmu terbakar matahari, " katanya. "Dan setidaknya, kita tampaknya menuju arah yang sama. Aku tidak keberatan menyimpang jalan sedikit."


Kalau tahu siapa dia, Devan tidak akan berkeras. Tetapi Devan akan tahu siapa dirinya jika Kikan meminta Devan menurunkannya di dekat rumah ibunya. Dan mendekati rumah ibunya berarti menerima tumpangan darinya." Aku baik baik saja. Sungguh, tidak jauh lagi kok."


"Benar. Alasan kenapa kau harus terus menjalankan mobilmu." setelah menutup pintu, Kikan memaksakan diri berjalan tanpa menitikberatkan badan kesalah satu kaki. Tetapi Devan menurunkan kaca mobil dan terus menyetir menjajari Kikan.


"Aku tahu tempat tinggalmu. Biar kuantar."


"Aku masih bisa berjalan beberapa kilometer," kata Kikan.

__ADS_1


"Kau terlihat berjalan bersusah payah saat aku menyetir di belakangmu tadi."


Devan melihat? Dari jarak sejauh itu? "Karena sendal ini baru, itu saja. Aku akan melepasnya."


"Jadi kau tidak butuh tumpangan."


"Tidak terima kasih."


"Ayolah!" bantah Devan. "Aku tak bisa meninggalkan seorang wanita terpincang pincang di pinggir jalan."


"Menurut kebanyakan orang disini aku bukan wanita biasa."


"Aku pembunuh, ingat? Tentu saja kau bisa meninggalkanku" begitu menyadari kata katanya terlalu kasar, Kikan menyesal dan memandang Devan sambil berusaha tersenyum. "Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya lebih suka tidak menyulitkamu."


"Tapi ini tidak sulit!"


Menolak berarti membuat masalah kecil ini menjadi lebih besar daripada menurut saja. Lagi pula Kikan tak sanggup menahan sakit.

__ADS_1


Ketika Kikan berhenti berjalan, Devan ikut menghentikan mobil. "Baiklah, sepertinya Aku akan menumpang," ujarnya lalu menaiki mobil Devan.


__ADS_2