Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 39


__ADS_3

Kikan membenci diri sendiri karena merasa lega atas kedatangannya Rey, saat kelegaan itu muncul barulah ia menyadari betapa tadi dirinya begitu ketakutan. Tetapi segera setelah melangkah keluar dari pintu Logan kembali menarik Kikan, membenturkan tubuhnya ke dinding bilik toilet, dan membuat komputer yang dipegangnya jatuh.


Kikan tahu komputernya rusak begitu ia mendengarnya membentur lantai.


" Oh, tidak!" Usahanya bergantung sepenuhnya kepada komputer itu.


Kikan susah payah berusaha mengambil kembali komputernya, tetapi Logan menginjak tangannya memutar kaki seolah berharap bisa mematahkan setiap tulang Kikan.


Lalu semuanya mulai kacau. Rey menarik kerah Logan, memutarnya, dan memukul wajah lelaki itu. sementara pukulan tangannya membuat Logan membentur wastafel.


Teman Logan berteriak, "apa-apaan ini!" dan berusaha memukul Rey. Untungnya salah satu teman Rey, yang sekarang berdiri di pintu, menghentikan pukulannya dan menyeretnya keluar.


Kikan awalnya berpikir semuanya sudah berakhir, hingga ia melihat Logan kembali berdiri dan menyerang Rey. Dengan meninggalkan komputernya di tempat benda itu jatuh, Kikan menubruk kakak Lori berusaha menghalangi pukulannya. Dia ingin... sama sekali tidak ada orang lain yang terluka. Tetapi Nanda salah satu teman Rey. Menarik Kikan menjauh.


" Bawa dia keluar," teriak Rey, sesaat sebelum dia dan Logan berkelahi.


Kikan belum pernah melihat Rey berkelahi dengan siapapun. Sejak dulu Rey populer, disukai banyak orang, dan mudah menyesuaikan diri. Kikan tidak percaya Rey sekarang beradu tinju, dan ia tak ingin menjadi penyebab semua ini.


" Rey, Jangan!" Kikan berteriak "Berhenti!"


Kikan berusaha melepaskan diri sehingga ia bisa mendesak Rey untuk keluar dari sana. tubuh Logan jauh lebih besar, Kikan takut melihat akibat dari perkelahian ini. Tetapi Nanda masih menahannya.


" Jangan ganggu dia," bisik Nanda


" Tapi dia bisa terluka!" Bukankah itu sudah jelas? Mengapa tak ada yang melerai perkelahian ini? teman-teman Rey menahan seorang teman Logan sehingga perkelahian ini akan adil, tetapi hanya sebatas itu.


" Dia akan baik-baik saja," kata Devan meyakinkan Kikan. "Dia cukup marah untuk memukul siapapun. Aku bahkan tidak akan melakukan itu meskipun aku jauh lebih berpengalaman."

__ADS_1


" Aku belum pernah melihatnya seperti ini" ucap pengunjung lain, kaget. Kikan menduga itu mungkin Kelly, tetapi ia tak bisa menoleh. matanya terpaku pada dua pria yang saling memukul itu. Hingga Rey kena pukul di wajah, dan hidungnya mulai mengeluarkan darah. Rasanya seolah Kikan terkena pukulan, dan tak tahan menyaksikannya.


" Aku bisa muntah melihat ini," kata Kikan pada Nanda. "Aku mau pergi saja."


Nanda pasti tahu Kikan serius. dengan menghalangi jalannya sehingga Kikan tidak berubah pikiran dan kembali masuk ke dalam Nanda melepasnya.


Meskipun lututnya lemas, Kikan terus berupaya menembus kerumunan orang, berusaha keluar sebelum akhirnya muntah.


☆☆☆☆☆☆


.


Malam itu udara terasa panas. Kikan berbaring di tempat tidur sambil memandang kilau lampu yang menyorot dari rumah ibunya, dan menerobos melalui jendela. mendengarkan desiran angin dari kipas angin tua yang ditemukannya di halaman belakang. Alat ini mengeluarkan suara dan ritme yang teratur, bergerak memutar. Udara yang mengalir dari kipas angin ini memberikan ketenangan, tetapi ia masih tak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, ia melihat pukulan Logan mengenai kepala Rey dan darah keluar dari hidung pria itu.


Lalu Kikan merasa mual lagi.


Kikan tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelah ia meninggalkan tempat itu. Begitu keluar dari sana, Kikan mengambil sepeda dan bergegas menyusuri jalan. Ia belum berani pergi terlalu jauh. Jadi ia pergi ke daerah pinggiran kota, tempat dia bersembunyi di balik daerah yang berbukit-bukit dan penuh pepohonan. Kikan terus berada di sana setidaknya selama dua jam, hingga ia merasa cukup kuat untuk melakukan perjalanan sepanjang beberapa meter. Ketika Kikan bersembunyi, Devan mengendarai pick up-nya dengan sangat lambat, seolah ia sedang mencari Kikan. Kikan melihat kelebatan pick up Devan lebih dari sekali, tapi ia masih belum ingin bicara dengan Devan, belum mau tahu apa yang terjadi setelah perkelahian itu. Kalau-kalau tulang atau rahang Rey patah.


Dia baik-baik saja. Kikan menggumamkan kata itu berkali-kali untuk menguatkannya. Tetapi sepertinya tidak ada yang bisa membuatnya tenang. Ia terus membayangkan Jason melihat ayahnya pulang dengan lebam dan darah di mana-mana, kemudian menyalahkan Kikan. atau Rey memaki-makinya karena kembali ke kota ini. Tempat tak seorangpun menginginkan kehadirannya.


Dia pasti berharap Kikan segera meninggalkan kota, sama seperti Logan.


Mungkin Kikan memang harus pergi. lagi pula bukan salah Logan jika dia membenci Kikan. dia tidak tahu bahwa Kikan tidak bersalah dalam pembunuhan adiknya. Cerita tentang seseorang yang merebut setirnya, Kikan tahu betapa sangat tidak masuk akal kedengarannya. Tidak ada yang percaya padanya waktu itu di pengadilan dan tidak ada yang percaya saat ini.


Dalam usahanya untuk mencoba menghentikan kata-kata yang ada di pikirannya, Kikan berguling di kasur. Tapi sia-sia. Ia masih gelisah. Terlintas dalam pikirannya untuk turun ke sungai dan menenangkan diri. Kemudian ia melihat cahaya yang masih menyala di tempat tinggal ibunya. Apakah ia cukup kuat untuk menemui Ibunya dan bercerita.


Kikan melihat sepasang lampu mobil berbelok ke pekarangan.

__ADS_1


Apakah itu Rey?


Kikan menduga itu Rey, jadi dia bergegas bergerak ke arah pintu depan. Ia begitu yakin itu pasti Rey sehingga membuka pintu dengan terburu-buru, namun dia kaget ketika melihat pick up milik Devan yang ada disana, bukannya milik Rey.


Devan membawa keluar ransel dan komputer rusak Kikan. dan menyerahkannya. "Hei"


Kikan menunggu Devan menghampirinya. "Hai."


" Kau baik-baik saja?" tanya Devan.


" Tentu saja" Kikan tidak bertanya bagaimana kelanjutan perkelahian di kedai kopi itu. Ia terlalu takut untuk mendengarnya.


" Nanda bilang kau terlihat sangat kecewa ketika pergi pagi tadi."


Kikan menjejalkan tangan ke saku belakang celana dan mengangkat dagunya. "Aku tidak suka ada orang, siapapun itu, berkelahi demi aku."


" Siapapun?" tanya Devan. "Atau Rey, saat dia bisa saja terluka?"


" Aku tidak tahu apa maksudmu" Kikan memberenggut untuk menunjukkan bahwa ia tidak suka ucapan Devan. "Aku tidak berusaha memenangi hati Rey jika itu maksudmu. Aku bahkan belum pernah meneleponnya. Aku belum sampai ke sana, aku belum melakukan apapun." tegas Kikan.


" Aku yakin kau tidak berencana kembali padanya, karena kau merasa harapan itu terlalu berlebihan. Tapi bukan berarti kau tidak peduli padanya." kata Devan.


"Itu gila...., salah besar, kecuali... Aku peduli padanya. Tentu saja aku peduli padanya. Di ayah Jason." Kikan berbicara dengan nada gusar, seolah ada kelanjutan dari kalimatnya, dan berharap memang ada. Tak ada yang lebih berbahaya daripada apa yang pernah ia rasakan terhadap Rey.


Devan menggosok-gosok dagu sambil mengamati Kikan. "Kau tidak penasaran bagaimana akhir perkelahian tadi? "


"Tidak terlalu." Kikan berbohong.

__ADS_1


Devan tersenyum sebentar. "Dia baik-baik saja, Kikan. Dia bisa membela diri, Logan yang mendapatkan akibat paling parah."


__ADS_2