Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 79


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika Kikan sampai di rumah, tapi ibunya pasti telah menanti-nantikannya pulang. Begitu Rey menikung ke halaman dan Kikan turun dari mobil, anjing ibunya berlarian dari teras sementara Ibu Lis bersembunyi di balik pintu seperti biasanya.


" Pulang juga akhirnya?" seru bu Lis melalui celah selebar lima sentimeter itu.


Kikan berusaha tersenyum dan melambai. "Yah."


"Kau senang?" tanya ibu Lis.


" Acaranya... menyenangkan," jawab Kikan.


Rey ikut turun dari mobil, dan melirik ke arah Ibu Lis namun tak berkata apa-apa.


" Sepertinya kau mendapatkan apa yang kau inginkan tuan Stinson." kata ibu Lis pada Rey.


Otot di pipi Rey berkedut. Ia tahu Bu Lis tak bersikap ramah padanya, tetapi ia membalasnya dengan jawaban sopan. "Aku senang dia datang."


" Pastinya," bu Lis menyahut dengan tertawa kecil.


" Jadi itu berarti kau puas? tujuanmu sudah kesampaian, dan kami tidak akan dengar kabar darimu lagi?"


Kikan memutar ke depan pikap dan menyambar lengan Rey ketika pria itu mulai melangkah menuju ke tempat bu Lis. "Abaikan saja dia," gumamnya, tetapi Rey tidak mau. Ia menyentak lepas tangannya dari genggaman Kikan dan bergerak menghampiri Bu Lis.


Bu Lis membanting dan mengunci pintu bahkan sebelum Rey sampai ke tangga depan.


" Aku tidak akan menyakitimu," seru Rey. "Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal, dan aku ingin kau mendengarkan." Ia mengetuk pintu tetapi ibu Lis tak mau membukanya.


Kikan tahu ibunya menikmati pertengkaran dengan Rey, bertengkar memberinya kesempatan untuk melampiskan kemarahan dan kebencian yang membuat sikapnya begitu getir.


" Rey tidak usah," Kikan bergumam.


" Aku ingin bicara dengannya."


" Tidak ada yang perlu dikatakan."


" Tentu saja ada!" Rey berkeras dan menggedor pintu lagi tapi harus puas dengan berbicara melalui lubang kecil. "Hei aku menangkap sindiranmu, tapi kau salah, oke? Aku menyayangi putrimu."


Suara bu Lis bergema keras dan jelas. "Oh, benar kah? Kita lihat saja seberapa besar rasa sayang itu!"


" Kau hanya takut kehilangan dia," sergah Rey. "Karena hanya dia yang menunjukkan kebaikan padamu, dan kau tak ingin ditinggal sendirian lagi."


" Sekarang kau berlagak jadi psikiater?" Bu Lis balas menjawab.


" Tidak harus menjadi psikiater untuk tahu bahwa kau takut pada segala hal," katanya. "Tapi jangan biarkan ketakutanmu menghancurkan hidup putrimu, hanya itu yang ku minta. Kikan layak mendapatkan lebih daripada itu."


" Apa itu berarti dia layak mendapatkanmu?"

__ADS_1


" Apapun yang dapat kuberikan padanya."


" Oh dan wanita mana pun akan beruntung mendapatkan itu." kata ibu Lis dengan nada menyindir.


Rey tidak menanggapi lagi. Meskipun jelas tak senang dengan percakapan itu, Rey berjalan kembali menghampiri Kikan dan berkeras untuk memeriksa trailernya, seperti yang pernah dilakukannya sebelum ini. Untuk memastikan Logan tak melakukan apa-apa selama Kikan pergi.


" Sampaikan salamku pada Jason," kata Kikan ketika Rey sudah selesai memeriksa dan berdiri di pintu. Kikan tahu Jason sudah sampai di rumah karena anak itu menelpon saat mereka dalam perjalanan pulang.


Rey menunduk memandangnya. "Aku tahu kau mencintaiku, jadi jangan pura-pura tidak," kata Rey, lalu merengkuh Kikan ke dalam pelukan dan menciumnya. "Malam ini menyebalkan tanpa kau," katanya, kembali ke pribadinya yang penuh semangat dan kekanak-kanakan.


" Aku mau datang kalau bisa, tapi khawatir akan membuat Jason ketakutan kalau aku menginap," balas Kikan. Ia menduga itu juga akan membuat ketakutan semua orang kecuali teman-teman dekat Rey, yang sudah tahu mereka sekarang bersama.


" Dia mungkin sudah menduga kita tidur bersama. Ibumu tak butuh waktu lama untuk mengetahuinya. Dan kubilang pada Jason semuanya berjalan lancar selama kita berada di pondok."


" Semuanya berjalan lancar? itu berarti kita tidur bersama? Apakah itu semacam kode di antara pria? ujar Kikan sambil tertawa.


" Dia tak ingin mendengar detailnya. Seperti katamu, itu akan membuatnya ketakutan."


" Aku khawatir akan terlalu aneh baginya melihat kita sebagai... lebih dari sekedar teman."


" Sikap Jason menunjukkan kalau dia tidak masalah dengan gagasan itu, tapi....kukira dengan begitu dia ingin aku melindungimu." Kata Rey.


Kikan menggeleng-geleng. "Itulah persisnya yang tidak ku inginkan untukmu, untuknya, menciptakan musuh padahal selama ini kalian sangat disukai."


Ingatan tentang Rey dan Logan berbaku hantam di kamar mandi tempo hari membuat perut kikan mual. "Itu tidak penting, jangan berkelahi lagi." Kikan mencoba mengingatkan.


" Tidak usah khawatir, kau selalu mencemaskan segala hal. Aku akan menemui besok ketika menjemputmu untuk menonton pertandingan Jason."


Kikan memegang ambang pintu dengan satu tangan dan menahan pintunya dengan tangan lain. "Aku tak bisa pergi ke pertandingan itu!" ujar Kikan


" Kenapa tidak?"


" Itu pertandingan di kandang kan?"


" Kau akan senang melihat putramu bermain dan kau punya hak penuh untuk berada di sana."


" Itu bisa menyebabkan kerusuhan pertama di kota kecil ini. Terutama jika salah satu keluarga Lori hadir, dan mereka bisa melakukan itu untuk pura-pura membela diri. Sekarang setelah mereka begitu bersemangat untuk menemukan Via dan begitu yakin Via akan membenarkan kesalahanku, siapa yang tahu sejauh mana mereka akan membawa masalah itu?"


Rey mengangkat bahu. "Devan akan datang untuk membantuku. Mungkin aku akan mengajak Nanda dan yang lainnya supaya datang juga."


Rey berjalan menuruni tangga, hendak pulang ketika ia mendengar Kikan berkata.


" Rey?"


Pria itu berbalik dan berhenti untuk memandangnya. "Ada apa?"

__ADS_1


" Aku mencintaimu." Kata Kikan.


Seulas senyuman langsung tersungging di bibir Rey. "Benar kan? Tidak sesulit itu." Kemudian pria itu kembali dan menciumnya.



Ibu Rey mengerutkan kening ketika dia membuka pintu rumah dan melihat Rey berdiri di depan tangga.


" Ada apa?" tanya ibunya. "Kau kelihatan tidak senang."


Rey berjalan masuk. "Memang tidak."


Ketika Rey masuk ke dalam rumah, dimana ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di sana. Rumah itu adalah bangunan indah dan dipelihara dengan baik, Rey melakukan sendiri hampir semua perbaikan nya. setidaknya selama dua belas tahun terakhir ini, ia juga menata ulang dapur dan dua kamar mandi, membantu ayahnya menebang pohon-pohon yang tidak sehat di halaman belakang dan memasang papan untuk rak di garasi. Jadi rumah orang tuanya yang punya tiga kamar tidur tampak baru, meskipun tidak terlalu luas atau mencolok.


Rey dapat mendengar suara TV di ruang tamu, tempat ia menemukan ayahnya duduk di kursi malas favoritnya.


" Apa aku perlu bertanya apa yang tidak beres?" Ibunya pergi mengambil toples biskuit. Semenjak kecil, Rey selalu mendatangi toples itu begitu masuk ke rumah, jadi Ibunya sudah begitu hafal dengan rutinitasnya.


Ibunya menyodorkan toples itu ke arah Rey, Helen menyimpan biskuit yang disiapkannya untuk Rey dan Jason, namun untuk pertama kalinya sepanjang ingatannya. Rey menolak tawaran itu.


" Sekarang aku yakin masalahmu kali ini sangat serius." meskipun mengucapkannya seperti bercanda, suara Ibunya tetap terdengar serius. Dia meletakkan toples kue itu di meja dapur. "Jadi ada masalah apa?" tanya ibu Rey.


" Aku harap ibu mau mendukung keputusanku, kalau Ibu sayang padaku." Kata Rey.


Tayangan tv dihentikan. "Hei siapa yang datang?"


" Aku yah" Rey berjalan mendahului ibunya menuju ruang tamu.


"Pas sekali waktunya, kau harus lihat ini." kata ayahnya, yang sedang menonton pertandingan sepak bola.


Rey sangat suka menonton pertandingan bola bersama ayahnya. Tapi kali ini ia meminta ayahnya untuk mematikan TV.


" Kenapa?" Tanya pria itu dengan kaget. "Ada apa?"


" Aku ingin bicara denganmu dan ibu."


TV segera mati seperti yang diminta, lalu Rey duduk di sofa kecil untuk dua orang, sementara ibunya bertengger di ujung sofa. "Katakan ini tidak ada hubungannya dengan Kikan," ujar ibu Rey. "Karena aku mau melakukan apapun untukmu tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki yang satu itu."


" Banyak yang bisa ibu lakukan," sahut Rey.


" Jadi Kikan-lah yang membawamu ke sini malam-malam? Rey, ada beberapa perkembangan selama beberapa hari


ini yang perlu kau ketahui...."


" Biar kutebak," sela Rey. "Ibu dan sahabat Ibu telah menemukan via Astaria."

__ADS_1


__ADS_2