Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 84


__ADS_3

Jadi memang ada permainan uang disini. Itu menjawab setidaknya salah satu pertanyaan Kikan, mengapa Via bersedia melakukan ini. Kikan hampir yakin Via kecanduan obat. Mungkin penghasilannya tidak cukup. Mungkin ini satu-satunya cara agar ia mendapatkan uang tambahan. Para pecandu diketahui suka merampok minimarket untuk mendapatkan uang.


"Dia bahkan tidak punya pekerjaan," Kata Rey. Tapi perhatian keluarga Lori terlalu terpaku sehingga tidak bereaksi mendengar pernyataan itu.


"Menurutku kau berutang pada kami beberapa menit lebih lama," kata ibu Lori pada Via.


Rey menunggu sampai Via memusatkan perhatian padanya. Lalu dia berkata, "Apa kau kenal pria bernama Roni Lin?"


"Itu nama mantan suamiku," katanya.


"Kalau begitu kita setuju pada satu hal. Roni itu mantanmu. Kau menikah dengannya hampir sepuluh tahun. Apakah itu benar?"


Kikan tidak tahu kemana Rey akan membawa percakapan ini. Rey mengatakan padanya saat mereka mencuci piring tadi malam bahwa Roni tidak memberikan padanya apa yang dia inginkan.


"Apa pentingnya itu?" kata Via. "Kami sudah tidak bersama lama sekali. Dia sejarah lama."


Keluarga Lori dan orang tua Rey begitu terkejut sehingga mereka ternganga.


" Kau bercerai secara resmi empat tahun lalu," Rey melanjutkan. "Tapi pernikahan kalian berdua sudah hancur jauh sebelumnya. Dari yang disampaikannya padaku, kalian terus-menerus bertengkar karena kebiasaanmu dengan obat."


Via tampak tertegun dan bingung mendengar Rey tahu begitu banyak. "Tidak..." bantahnya.


" Aku sudah memeriksa latar belakangmu." ujar Rey.


Via mengerjapkan matanya. "Dan itu berarti.... apa?"


" Aku punya catatan polisi untuk membuktikannya. Kau pernah ditahan karena berusaha menabrak Roni dengan mobilmu, menyerangnya dengan pukulan, dan berusaha membakar rumahmu sendiri. Sekali kau ditahan karena teler di jalanan, begitu teler sehingga kau tak kenal siapa dirimu atau di mana kau berada, dan...."


" Aku ingin pergi," Via mulai menangis.


Kikan nyaris tak bisa mendengar karena jantungnya berdetak begitu keras. Apa yang sedang dilakukan Rey?

__ADS_1


" Obat macam apa yang kau pakai?" tanya Rey. "Karena jelas kau belum berhenti."


" Itu bukan urusanmu. Ini tidak ada hubungannya dengan kebiasaanku atau pernikahanku atau apapun lainnya."


" Jelas semua ini ada hubungannya dengan kebiasaanmu," kata Rey. "Kau datang ke sini demi uang benar?"


" Tidak." Via menggeleng tapi tampak jelas dia berbohong. "Aku menderita depresi, jadi... jadi aku minum obat untuk itu. Tapi banyak orang yang menderita depresi."


Rey mendecakkan lidah. "Ini agak berbeda. Roni bercerita keadaan bisa begitu memburuk sampai sesekali kau menghilang selama seminggu. Katanya kau dihantui oleh tragedi mengerikan yang terjadi ketika SMA, katanya kau tidak bisa terbebas dari ingatan itu."


Via melambaikan tangan, yang ditunjukkan pada semua orang di ruangan itu. "Bukankah kita semua dihantui oleh kematian Lori? Aku berada di kendaraan yang menabrak dan membunuh manusia lain!"


Rey merendahkan suara tapi dia berbicara seakan tak ada keraguan dalam kebenaran perkataannya. "Karena kau merebut setirnya."


Via mengerjapkan mata berkali-kali. "Tidak. Dan jika Roni mengatakannya, dia bohong! Dia tak tahu apa yang terjadi karena dia tidak ada di sana."


" Tapi kau memberitahu dia, bukan? Ketika kau sedang teller atau sedih atau tidak mampu melupakan, kau menceritakan rahasia gelapmu."


" Lima juta?" tanya Kikan. "Hanya itu yang dibutuhkan untuk mengadili dan menyakitiku?"


" Bagaimana mungkin ada yang bisa menyakitimu sekarang? Kau sudah keluar, bukan? tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan terhadapmu. Aku harus menerima uangku."


Ibu Lori menekankan tangan ke leher seakan dia perlu menyingkirkan sumbatan di dalamnya." Benarkah?" dia tergagap. "Apa yang dikatakan Rey?"


Dengan wajah khawatir, Ayah Lori berdiri dan meletakkan tangannya ke bahu istrinya.


" Jangan dengarkan dia Bu," kata Logan. "Ini semua karena Kikan yang berusaha membuat kita bingung. Dia melakukan ini..."


" Lucu!" tukas Rey. "Kalianlah yang membawa Via ke sini! Dan sekarang ketika kita punya kesempatan untuk berbicara dengannya, aku ingin mengetahui yang sebenarnya. Jika kalian tidak mau... atau tidak bisa... menerima bahwa kalian salah, silakan keluar."


Air mata mulai mengalir di wajah Via. "Aku tidak melakukannya."

__ADS_1


" Lalu kenapa mantan suamimu bilang kau berbuat begitu?"


Via menampakkan ketakutan yang mengingatkan Kikan pada seekor hewan yang tersudut. "Dia sinis, marah. Dia cuma mantan suami, demi Tuhan. Beberapa mantan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kembali pasangan mereka sebelumnya."


" Dia tidak kelihatan sinis menurutku," kata Rey. "Dia bilang padaku sebagian dirinya akan selalu mencintaimu, bahwa kau butuh bantuan. Bahwa kau telah jatuh terlalu dalam, dia tidak tahu apakah kau akan bisa bangkit lagi."


Sambil memejamkan mata, Via menutup wajah, tetapi air matanya terus mengalir. Kikan dapat melihatnya menetes dari dagu.


" Katakan yang sebenarnya," kata Rey pantang menyerah, dan terus mendesak." Untuk sekali saja dalam hidupmu, katakan yang sebenarnya!"


Via mulai gemetar. "Aku tidak bermaksud menyakitinya," dia berbisik melalui jemari. "Tuhan tahu aku tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Itu.... itu kecelakaan. Tidak ada yang harus dihukum karena kecelakaan."


Kikan begitu kaget Via akhirnya mengakui kesalahannya sehingga perlu waktu sejenak untuk meresapinya. Ia memandang Rey untuk mengetahui apakah pria itu mendengarnya juga. Lalu ia memandang ke seputar ruangan dan melihat bahwa setiap orang di situ juga sama-sama terpaku.


" Kemudian kau memperburuk keadaan dengan membiarkan orang yang tak bersalah menerima konsekuensinya," tukas Rey. "Untuk kecelakaan seperti itu, yang tidak disertai niat buruk, mungkin kau hanya dihukum lima tahun. Tapi kau membiarkan semua orang percaya bahwa Kikan berusaha menabrak Lori, dan kau membiarkan dia mendekam di penjara selama tujuh belas tahun. Dia kehilangan waktu untuk membesarkan anaknya, dan dia harus pulang untuk menghadapi kemarahan orang-orang yang percaya bahwa dia telah membunuh anggota keluarga mereka."


" Aku tahu!" bentak Via." Tapi aku tidak dapat memperbaikinya sekarang! Itu masa lalu." Via roboh ke karpet, menangis begitu keras sehingga mereka tidak mengerti apa yang dikatakannya. Kedengarannya seperti, "Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa-siapa. Itu cuma untuk lucu-lucuan."


Ketika Via meringkuk bagai janin, Kikan berdiri untuk mendekatinya. Ia tidak yakin apa yang dirasakannya. Ia tidak memaafkan. untuk itu dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Kikan merasa begitu sedih sehingga meskipun Ia yang menjalani hukuman penjara, Via pun tidak terhindar dari hukuman lain. Kebohongan yang dikatakannya telah menghancurkan semua yang pantas dikagumi pada dirinya.


" Ayo." Kikan menarik lengan Via untuk membantunya berdiri. "Sepertinya kau tidak akan mendapatkan lima juta yang kau harapkan. Tapi Rey dan aku akan mengantarmu ke bandara."



Setelah itu, ketika mereka dalam perjalanan pulang, barulah Kikan bisa menanyai Rey tentang Roni. "Kau bilang Roni tidak mengatakan padamu kalau Via merebut setir mobil."


Rey meliriknya sambil terus menyetir. "Memang tidak, tapi... dia tidak tahu itu."


" Kau mengelabuinya agar dia mengakui yang sebenarnya?" seru Kikan.


Rey menyelipkan rambut Kikan ke belakang telinga sambil melemparkan senyum yang selalu diimpikan wanita itu selama tujuh belas tahun ini. "Itu cuma gertakan. Tapi aku berharap kita bisa membuatnya bersedia menandatangani pernyataan untuk menerima tanggung jawab." Mereka sudah berusaha, tetapi ketika Rey mendapatkan gagasan itu dalam perjalanan mereka ke bandara dan mereka berhenti untuk membeli kertas, Via telah dapat mengendalikan emosi dan menolak membuat pernyataan. Mereka duduk tanpa berbicara sepanjang perjalanan ke bandara. Lalu wanita itu turun dari mobil, membanting pintu, dan berjalan pergi dengan angkuh tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2