Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 48


__ADS_3

"Hari ini kau diam saja," kata ibunya. "Kenapa?"


Kikan bicara dibalik suara mendesis panci, kali ini menunya sop ayam. Sesuatu yang lebih sedikit rendah lemak daripada yang biasa dimakan ibu Lis. Ia berhenti di depan pasar dalam perjalanannya pulang dari sarapan. "Tidak hanya berpikir."


"Tentang.... "


"Usahaku. Aku mendapat banyak sekali pesanan." jawab Kikan.


Karena kursi malas ibunya satu-satunya kursi yang membuatnya merasa nyaman, dia telah memindahkannya ke dapur sejak lama, tepat disebelah meja. "Berapa banyak yang telah kau buat minggu ini?"


Kikan bisa melihat senyum puas ibunya. "Cukup banyak hingga aku bisa membayar tagihan-tagihan kecil yang membuatmu khawatir."


Ibu Lis seakan terdengar menjawab, "Terima kasih," tetapi kata-katanya tidak terlalu jelas. Tidak mudah bagi ibunya untuk mengucapkan terima kasih. Suaranya lebih melengking ketika dia menambahkan, "Bagaimana sarapannya?"


Setelah mengambil spatula dari salah satu laci berantakan ibunya, Kikan mengaduk dan menambahkan garam dan merica diatasnya. Ia harus menyediakan makan malam untuk ibunya lebih awal daripada biasanya, agar bisa bersiap-siap untuk acara barbekyu Jason. Bukan berarti ibu Lis mengizinkannya datang ke rumah Rey. Dia menegaskan ketika Kikan membeberkan tentang rencananya, tetapi akhirnya menghentikan pembicaraan itu.


"Sarapannya.... menyenangkan."


"Hanya itu? Hanya itu yang bisa kau katakan?"


"Apa yang ingin ibu dengar?" Kikan tidak bisa menceritakan apa yang benar - benar ada dalam pikirannya, kenangan berdansa bersama Rey selama beberapa menit semalam dan yang dikatakan pria itu saat sarapan pagi ini. Aku ingin tidur denganmu.


"Kau bisa menceritakan tentang Jason. Dia bersikap baik padamu?"


"Aku sangat terkejut betapa dia sangat senang menerimaku."


"Apakah dia setampan ayahnya?" Ibunya bertanya dengan santai tapi Kikan tidak terkecoh. Ibunya jauh lebih tertarik pada Jason daripada yang ingin ditunjukkannya, terutama sekarang ketika Kikan mulai akrab dengannya.


"Kukira begitu," jawab Kikan. "Dia mirip ayahnya."


"Dan bagaimana Rey memperlakukanmu?"


Pikiran Kikan kembali pada ketertarikan yang berusaha mereka atasi. Kikan tidak ingin menceritakan ini pada ibunya, tetapi ia benar-benar gelisah. Berhubungan dengan Rey bisa menghancurkan semua yang telah ia bangun dengan Jason, jika hubungan itu tidak berjalan dengan baik. Dan ia tahu dengan melihat berdasarkan pengalaman, hubungan mereka cenderung tidak berjalan dengan baik. "Aku tidak bisa mengeluh, dia yang membayar pagi tadi."


Terdengar dengus skeptis dari mulut bu Lis. "Aku tidak suka padanya."


"Ibu sudah mengatakan itu. Tapi selama aku tetap bersikap baik, aku yakin dia akan bersikap baik juga."

__ADS_1


"Dulu dia tidak baik." kata bu Lis.


Kikan menyelipkan rambut di belakang telinga.


"Kami sudah melewati masa itu bu, kita harus membiarkan masa lalu tetap berlalu."


"Tujuh belas tahun dipenjara? Kau bisa membiarkannya begitu saja dan datang ke pesta barbekyu di rumahnya malam ini."


"Aku di penjara bukan karena kesalahannya."


"Dia bersaksi melawanmu!"


"Dia bersaksi tentang sikapku pada waktu itu. Dan dia mengatakan yang sebenarnya. Aku menghubunginya berkali-kali, datang ke rumahnya, memohon padanya agar tidak meninggalkan aku. Waktu itu aku putus asa dan terlalu kekanak- kanakan untuk tahu bagaimana mengatasi rasanya kehilangan dia." Tidak termasuk fakta bahwa kakak laki-laki Kikan meninggalkan mereka dan ia merasa sakit hati karena itu.


"Apa dia tidak menyadari akibat dari perbuatannya?" tanya bu Lis.


"Kurasa dia sadar, dia meminta maaf dua kali." jawab Kikan.


"Hmmm"


"Memang dia pernah memberiku kesempatan?"


Kikan tidak menjawab, dia tak tahu harus berkata apa. Sikap ibunya membuat orang sulit menyukainya.


Ibu Lis memecah suasana sepi itu, dengan berkata "Akhirnya aku mendengar kabar dari kakakmu."


Kikan tak bisa menahan tarikan napasnya, meskipun ia senang, Kevin telah lari dari situasi keluarga mereka dan melanjutkan hidup. Kikan merindukan kakaknya.


"Apa katanya?"


"Tidak banyak, hanya menelepon sebentar. Hanya itu yang aku dapat..... Meskipun dia kakakmu, dia senang kau keluar dari penjara."


Kikan menyiapkan piring, untuk makan malam ibunya. "Apakah dia sudah bekerja?"


"Dia bilang dia bekerja, tapi sepertinya dia tidak akan mengirimkan uang untuk membantuku." jawab ibunya.


"Setidaknya kak Kevin, memberi kabar dan tampaknya sudah bisa melanjutkan hidup dengan baik. Itu penting."

__ADS_1


"Kau pikir dia pernah memikirkan ibunya?" Ibu Lis berbicara dengan kasar, tetapi Kikan tahu bahwa itu hanya karena ibunya kecewa dengan perlakuan kakaknya.


"Dia mungkin punya tanggung jawab lain." kata Kikan. "Selain itu, kita tidak butuh itu, kita punya satu sama lain."


Ibu Lis menatap Kikan dengan curiga. "Sampai kau pergi pada akhirnya."


"Kenapa aku melakukan itu?" tanya Kikan.


"Kau mulai menghasilkan uang, kan?"


"Lalu?"


"Jadi kau bisa membeli kendaraan dan pergi."


"Ibu pikir aku tinggal disini karena tidak ada pilihan lain?"


"Lalu kenapa kau kembali? Kakakmu tidak pernah kemari." kata ibunya.


"Aku tidak seperti kakakku."


Ibu Lis menyisihkan wortel, seperti tidak menyukainya. "Melihat bagaimana kota ini memusuhimu, kau harus pergi ke tempat lain. Kau bisa kembali untuk bertemu Jason."


"Apakah ibu mau pindah denganku?" tanya Kikan. Tetapi ia tak berharap, ia tahu apa jawaban ibunya.


"Aku sudah terlalu tua untuk pindah. Orang-orang disini mungkin tidak menyukaiku, tapi mereka sudah terbiasa denganku. Aku tidak ingin menghadapi kota baru."


"Setan yang dikenal lebih baik daripada yang belum pernah ditemui, ya?" pancing Kikan sambil menambahkan salad ke piring ibunya.


"Aku sudah merasa nyaman, bagiku tidak masuk akal untuk pindah ke tempat lain."


Fobia yang menghalanginya. Kikan mengerti itu. "Karena itu aku akan tinggal bersama ibu." kata Kikan meyakinkan.


Ibu Lis tidak mendongak. Dia terus menatap makanan. "Kau harus pergi ke suatu tempat kau bisa mulai lagi dari awal." katanya pelan. "Kau masih muda dan masih kuat. Sedangkan aku tidak berguna dan hanya menjadi beban."


"Menjadi beban atau tidak, ibu tetaplah orang tuaku." Kikan memeluk bu Lis dengan satu tangan. Ia tidak tahu apakah akan ditolak. Menunjukkan emosi membuat ibunya merasa tidak nyaman. Tetapi bu Lis bisa menerima dan bahkan bergumam bahwa makanannya enak.


Kikan tersenyum ketika ibunya mulai makan. "Jangan khawatir tentang apapun oke? Katanya ketika ia membebaskan diri tempat itu sehingga bisa berganti baju untuk acara barbekyu di rumah Rey. Ia juga harus menyelesaikan salad pasta yang ingin ia bawa. Kikan ingin menyumbang makanan, meskipun Rey dan Jason tidak memintanya.

__ADS_1


__ADS_2